Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fatimah Azzahra

Rajab, Isra Mikraj, dan Perjuangan Membumikan Syariat

Agama | 2026-01-16 12:37:07




Bulan Rajab selalu hadir sebagai pengingat bagi umat Islam akan peristiwa agung Isra’ Mi’raj. Selama ini, Isra’ Mi’raj umumnya dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dan turunnya perintah shalat. Peringatannya pun banyak diisi dengan pesan-pesan peningkatan ibadah, akhlak, dan kesalehan pribadi.

Pemahaman tersebut tentu penting. Namun, jika ditarik ke dalam konteks sejarah dakwah Rasulullah SAW, Isra’ Mi’raj sesungguhnya menyimpan makna yang lebih luas. Peristiwa ini terjadi pada masa sulit perjuangan Nabi di Makkah. Tidak lama setelahnya, muncul Baiat Aqabah Kedua, yang menandai kesiapan masyarakat Madinah untuk memberikan perlindungan dan kekuasaan kepada Rasulullah SAW. Dari sinilah jalan menuju hijrah dan terbentuknya tatanan masyarakat Islam dimulai.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj bukan hanya penguatan spiritual, tetapi juga bagian dari proses perubahan umat secara menyeluruh. Hubungan manusia dengan Allah tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi berlanjut pada bagaimana kehidupan sosial, hukum, dan kepemimpinan diatur berdasarkan nilai-nilai wahyu.

Menurut Islam, ibadah tidak berdiri terpisah dari sistem kehidupan. Ajaran Islam dipahami sebagai pedoman yang menyeluruh, mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan kehidupan bermasyarakat. Shalat, misalnya, bukan sekadar ritual personal. Dalam sejumlah hadis, istilah “menegakkan shalat” digunakan sebagai penanda tegaknya ketaatan terhadap hukum Allah dalam kehidupan publik. Dengan demikian, ibadah memiliki dimensi simbolik yang mencerminkan komitmen kolektif umat terhadap aturan Ilahi.

Sayangnya, dimensi ini kerap luput dari perhatian. Peringatan Isra’ Mi’raj sering berhenti pada dorongan memperbaiki akhlak individu, tanpa diiringi refleksi terhadap sistem yang mengatur kehidupan bersama. Padahal, banyak persoalan yang dihadapi umat Islam hari ini bersifat struktural: ketimpangan ekonomi, konflik berkepanjangan, krisis kemanusiaan, hingga kerusakan lingkungan.

Dalam pandangan Islam, berbagai persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari cara kehidupan diatur. Ketika agama dipisahkan dari urusan publik, nilai-nilai wahyu cenderung terbatas pada ruang privat. Akibatnya, ajaran Islam lebih sering hadir sebagai nasihat moral, bukan sebagai rujukan dalam pengambilan kebijakan dan pengelolaan kehidupan bersama.

Lebih dari satu abad setelah runtuhnya institusi kepemimpinan Islam yang mempersatukan umat, dunia Islam hidup dalam kondisi terpecah-belah. Negeri-negeri Muslim berdiri sebagai negara-bangsa yang lemah dan rentan intervensi. Palestina—tanah suci yang menjadi bagian dari perjalanan Isra’ Mi’raj—hingga kini masih berada dalam pusaran konflik dan penjajahan. Di berbagai belahan dunia lain, komunitas Muslim mengalami diskriminasi dan kekerasan tanpa perlindungan yang memadai.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis umat tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan individual. Islam mengajarkan pentingnya keadilan, perlindungan, dan kesejahteraan sebagai prinsip dasar dalam mengatur masyarakat. Membumikan ajaran Islam berarti menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menjadikannya wacana spiritual.

Rajab dan Isra’ Mi’raj, dengan demikian, layak dijadikan momentum refleksi bersama. Hubungan dengan langit seharusnya tercermin dalam cara manusia mengelola bumi. Sejarah Islam mencatat bahwa ketika nilai-nilai wahyu dijadikan pedoman, lahir peradaban yang tidak hanya memuliakan umat Islam, tetapi juga memberi rasa aman dan keadilan bagi berbagai kelompok masyarakat.

Upaya membangkitkan kesadaran ini tentu bukan pekerjaan singkat. Ia menuntut proses pemikiran, dialog publik, dan pembinaan umat secara berkelanjutan. Namun, perubahan besar selalu bermula dari perubahan cara pandang terhadap kehidupan dan tujuan beragama itu sendiri.

Akhirnya, Isra’ Mi’raj tidak semestinya berhenti sebagai peristiwa yang diperingati setiap tahun. Ia adalah pengingat bahwa Islam membawa visi kehidupan yang utuh—menghubungkan langit dan bumi, spiritualitas dan realitas. Ketika nilai-nilai itu kembali dihadirkan secara konsisten, bukan mustahil umat Islam akan kembali berkontribusi secara positif bagi peradaban dunia.
Wallahu'alam bish shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image