Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fadhilah annadwa rambe

Teknologi Ada di Genggaman, Literasi Digital Masih Tertinggal

Teknologi | 2026-01-14 21:31:21

Teknologi Ada di Genggaman, Literasi Digital Masih Tertinggal

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir berjalan begitu cepat. Ponsel pintar kini bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan sehari-hari. Media sosial, aplikasi belanja, layanan keuangan digital, hingga kecerdasan buatan sudah akrab digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah masyarakat benar-benar siap secara literasi digital?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi sering kali tidak dibarengi dengan pemahaman yang memadai. Banyak orang mahir mengoperasikan gawai, tetapi belum tentu memahami cara menggunakan teknologi secara aman, etis, dan bertanggung jawab. Inilah celah yang kerap menimbulkan berbagai persoalan di ruang digital.

Aktivitas menggunakan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari

Maraknya penyebaran hoaks, penipuan daring, pelanggaran privasi, hingga ujaran kebencian menjadi contoh nyata rendahnya literasi digital. Informasi yang belum terverifikasi dengan mudah disebarkan hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan emosi pembaca. Tanpa disadari, kebiasaan ini justru memperkeruh ruang publik dan merugikan banyak pihak.

Literasi digital sejatinya tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga mencakup cara berpikir kritis dalam menyaring informasi. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua yang beredar di internet layak dipercaya. Dibutuhkan kebiasaan untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menahan diri sebelum membagikannya kepada orang lain.

Selain itu, kesadaran akan etika digital juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ruang digital sering dianggap sebagai tempat bebas tanpa batas, padahal jejak digital bersifat permanen. Komentar kasar, unggahan yang merendahkan orang lain, hingga penyalahgunaan data pribadi dapat berdampak panjang, baik secara sosial maupun hukum.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting. Literasi digital seharusnya tidak dipahami sebagai materi tambahan, melainkan kebutuhan dasar di era teknologi. Sekolah, perguruan tinggi, hingga lingkungan keluarga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman tentang penggunaan teknologi yang sehat dan bijak.

Pemerintah dan penyedia platform digital juga perlu mengambil bagian lebih aktif. Regulasi yang jelas, edukasi berkelanjutan, serta sistem perlindungan pengguna harus berjalan seiring dengan inovasi teknologi. Tanpa itu, kemajuan teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan dan menciptakan masalah baru di masyarakat.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup, memperluas akses informasi, dan mempercepat kemajuan. Namun, tanpa literasi digital yang memadai, teknologi juga dapat menjadi sumber konflik dan kerugian.

Ketika teknologi sudah ada di genggaman, sudah saatnya literasi digital tidak lagi tertinggal. Masyarakat yang cerdas secara digital bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dampaknya, menjaga etika, dan bertanggung jawab atas setiap jejak yang ditinggalkan di ruang digital.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image