Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pdpm kabupaten pekalongan

Kejujuran yang Mulai Terasa Asing

Khazanah | 2026-01-14 15:44:44

Di tengah derasnya arus informasi, satu hal terasa semakin langka: kejujuran. Bukan karena ia tidak diajarkan, tetapi karena sering kali tidak dipilih. Setiap pekan, publik kembali membahas kabar korupsi—berulang, berlapis, dan seolah tanpa jeda. Bagi generasi muda, ini bukan sekadar berita, melainkan ujian kepercayaan.

Banyak anak muda tumbuh dengan pertanyaan yang sama: apakah kejujuran jujur masih relevan di tengah sistem yang tampak permisif terhadap ringkasan? Ketika kelicikan sering disamarkan sebagai kecerdikan, kejujuran kerap dianggap tidak adaptif. Namun justru di situlah nilai itu diuji.

Al-Qur'an menempatkan kejujuran bukan sebagai pilihan tambahan moral, melainkan fondasi kehidupan beriman. "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah : 119). Ayat ini mengisyaratkan bahwa kejujuran tidak cukup dijaga; ia perlu menjadi budaya bersama.

Realitas hari ini menunjukkan tantangan yang berbeda. Ruang publik dipenuhi narasi yang dipol rapi, pencitraan yang dilembagakan, dan kebenaran yang sering kali dinegosiasikan. Dalam konteks ini, peringatan Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 70 terasa sangat relevan: “Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah kata yang benar.” Kejujuran bukan hanya soal tidak berdusta, tetapi keberanian menyampaikan kebenaran, meski tidak populer.

Rasulullah SAW menjelaskan dampak kejujuran dengan sederhana namun tegas. “Kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR.Muslim). Sebaliknya, Dusta selalu membuka pintu kejahatan. Korupsi, jika ditelusuri hingga ke akarnya, hampir selalu berangkat dari doktrin—kepada publik, kepada amanah, dan kepada hati nurani.

Dalam urusan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, Nabi SAW menegaskan bahwa kejujuran adalah sumber keberkahan. “Jika penjual dan pembeli jujur dan berterus terang, maka jual beli mereka diberkahi.” (HR.Bukhari). Pesan ini melampaui soal perdagangan; ia menegaskan bahwa keberhasilan tanpa kejujuran hanya menghasilkan pencapaian, bukan ketenangan.

Lebih jauh lagi, Rasulullah SAW bahkan menyebut dusta dan dikhianati sebagai tanda kemunafikan. Peringatan ini terasa penting di tengah kebiasaan memaklumi ringkasan kecil, yang pelan-pelan menumpulkan kepekaan moral. Kita mungkin lantang mengecam korupsi, tetapi diam-diam memberi ruang pada ketidakjujuran dalam skala pribadi.

Generasi muda hari ini hidup di persimpangan penting. Di satu sisi, mereka menyaksikan rusaknya amanah di level elite. Di sisi lain, mereka memegang peluang untuk memulai arah baru. Kejujuran mungkin tidak langsung mengubah sistem, tetapi ia selalu membentuk karakter. Dan perubahan besar, kerap lahir dari karakter yang konsisten, bukan dari slogan.

Di zaman yang serba pintar ini, kejujuran jujur mungkin terasa tidak strategis. Namun justru karena itulah ia menjadi sikap yang paling bermakna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image