Tentang Anak Muda yang Terlihat Sibuk, tapi Diam-diam Lelah
Gaya Hidup | 2026-01-09 18:45:06
Di zaman sekarang, sibuk sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang “berproses”. Jadwal penuh, target menumpuk, dan aktivitas tanpa jeda seolah menjadi bukti bahwa kita tidak menyia-nyiakan waktu. Anak muda pun berlomba-lomba untuk terus terlihat aktif: kuliah sambil kerja, ikut organisasi, ambil kursus, bangun personal branding, dan mengejar peluang apa pun yang lewat.
Namun di balik semua itu, ada rasa lelah yang jarang dibicarakan. Bukan hanya lelah fisik, tapi lelah secara emosional. Lelah karena harus terus kuat, terus semangat, dan terus terlihat baik-baik saja, padahal di dalam hati mulai muncul pertanyaan: sebenarnya untuk apa semua ini?
Tekanan untuk Selalu “On” (subtitle)
Generasi hari ini hidup dalam budaya yang hampir tidak memberi ruang untuk berhenti. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah. Jika beristirahat, muncul rasa takut dianggap malas. Akhirnya, banyak anak muda yang memaksakan diri untuk terus bergerak, meskipun tubuh dan pikirannya sudah memberi tanda untuk berhenti sejenak.
Tekanan itu datang dari banyak arah: tuntutan keluarga, standar kesuksesan di masyarakat, hingga perbandingan tanpa akhir di media sosial. Kita melihat orang lain terus melangkah, lalu merasa tidak punya pilihan selain ikut berlari, meski napas mulai tersengal.
Antara Ambisi dan Kehilangan Diri
Tidak sedikit anak muda yang awalnya punya mimpi, lalu perlahan kehilangan arah karena terlalu sibuk memenuhi ekspektasi. Jurusan dipilih bukan karena minat, tapi karena dianggap “aman”. Pekerjaan dijalani bukan karena suka, tapi karena takut tidak punya masa depan.
Ambisi memang penting, tapi ketika ambisi tidak lagi sejalan dengan nilai dan kebahagiaan pribadi, yang tersisa hanyalah kelelahan. Kita jadi ahli menyusun rencana, tapi lupa menanyakan apakah rencana itu benar-benar milik kita sendiri.
Kesuksesan Versi Siapa?
Salah satu sumber kebingungan terbesar adalah definisi sukses yang seragam. Lulus cepat, kerja di perusahaan besar, punya penghasilan tinggi, dan hidup terlihat stabil—itulah gambaran sukses yang sering ditampilkan. Padahal, tidak semua orang merasa utuh dengan jalan hidup yang sama.
Ada yang ingin hidup sederhana tapi tenang. Ada yang ingin bekerja di bidang kreatif meski penghasilannya tidak langsung besar. Ada pula yang masih ingin mencoba banyak hal sebelum menetap pada satu pilihan. Sayangnya, pilihan-pilihan ini sering dianggap kurang “mapan”, seolah hidup harus selalu mengikuti satu jalur yang dianggap benar oleh banyak orang.
Berhenti Bukan Berarti Menyerah
Di tengah semua tuntutan itu, berhenti sering disalahartikan sebagai kegagalan. Padahal, berhenti bisa menjadi bentuk keberanian. Berani mengakui bahwa kita lelah. Berani jujur bahwa kita butuh waktu untuk memahami diri sendiri.
Berhenti tidak selalu berarti mundur. Kadang, itu justru cara untuk memastikan bahwa langkah selanjutnya benar-benar kita pilih dengan sadar, bukan karena terpaksa atau takut tertinggal.
Kita Tidak Harus Cepat, Kita Harus Jujur
Setiap orang punya ritme hidup yang berbeda. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat, ada yang perlu waktu lebih lama. Tidak ada yang lebih unggul hanya karena sampai lebih dulu.
Yang lebih penting adalah kejujuran pada diri sendiri: apakah kita sedang hidup sesuai dengan nilai yang kita percaya, atau hanya sedang memenuhi ekspektasi orang lain?
Tidak semua orang harus punya rencana hidup yang rapi di usia muda. Tidak semua orang harus langsung tahu ingin menjadi apa. Proses mencari pun bagian dari perjalanan, bukan tanda bahwa kita gagal.
Pelan-Pelan Tidak Apa-Apa
Mungkin yang paling dibutuhkan anak muda hari ini bukan motivasi untuk terus berlari, tetapi izin untuk berjalan pelan. Izin untuk ragu, untuk salah, dan untuk mencoba lagi.
Karena hidup bukan hanya soal mencapai tujuan, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga diri sendiri selama perjalanan. Dan tidak ada gunanya sampai di garis akhir, jika kita kehilangan diri sendiri di tengah jalan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
