Tentang Anak Muda yang Terus Berjalan, tapi tak Yakin Tujuannya
Gaya Hidup | 2026-01-09 16:20:10Ada satu hal yang sering terjadi pada anak muda hari ini, mereka terus berjalan, tetapi diam-diam tidak tahu sedang menuju ke mana. Setiap hari diisi dengan aktivitas, target, dan kesibukan. Kuliah, kerja, ikut pelatihan, membangun portofolio, mengejar peluang. Dari luar terlihat produktif. Namun di dalam, banyak yang merasa kosong. Seolah hidup menjadi perlombaan yang harus terus diikuti, meski kita sendiri tidak yakin apa garis akhirnya.
Bergerak Karena Takut Tertinggal
Banyak anak muda hari ini bergerak bukan karena yakin dengan tujuannya, melainkan karena takut tertinggal. Takut kalah cepat dari teman sebaya. Takut dianggap gagal. Takut terlihat tidak melakukan apa-apa.Media sosial memperkuat rasa takut itu. Setiap hari kita disuguhi cerita keberhasilan orang lain—lulus cepat, karier cemerlang, bisnis sukses, hidup tampak tertata. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan potongan terbaik hidup orang lain.Akhirnya, kita ikut berjalan. Bukan karena tahu ke mana, tapi karena semua orang juga berjalan
Banyak Pilihan, Tapi Kehilangan Arah
Salah satu hal yang jarang diajarkan adalah berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” “Apa yang membuatku merasa hidup?” “Apakah ini benar jalanku, atau hanya jalan yang tersedia?”Dalam budaya yang memuja produktivitas, berhenti sering dianggap sebagai kemunduran. Padahal, bisa jadi berhenti sejenak justru langkah paling penting untuk menemukan arah.Kita terlalu sibuk mengejar target, sampai lupa mengenali diri sendiri. Kita hafal jadwal kerja, tapi tidak paham isi hati. Kita tahu apa yang harus dikerjakan hari ini, tapi tidak tahu ingin menjadi siapa lima tahun ke depan.
Tidak Semua Orang Harus Punya Jawaban Sekarang
Ada anggapan tak tertulis bahwa di usia muda, seseorang harus sudah tahu ingin menjadi apa. Padahal, tidak semua orang menemukan jawabannya dengan cepat. Ada yang baru mengerti arah hidupnya di usia 30, 40, bahkan lebih.Dan itu tidak apa-apa.Hidup bukan lomba siapa paling cepat sampai, melainkan perjalanan memahami diri sendiri. Tidak semua yang terlihat lambat berarti tertinggal. Bisa jadi, mereka hanya berjalan dengan lebih hati-hati.Kadang, kebingungan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa kita sedang bertumbuh. Bahwa kita sedang mencoba jujur pada diri sendiri, alih-alih mengikuti arus tanpa berpikir.
Berjalan Pelan Juga Bergerak
Ada kalanya kita perlu menerima bahwa tidak semua langkah harus besar. Tidak semua keputusan harus sempurna. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk melangkah pelan, sambil terus belajar mengenali diri sendiri.Tidak apa-apa jika hari ini belum tahu tujuan hidup. Tidak apa-apa jika masih ragu. Tidak apa-apa jika masih mencari.Yang penting, kita tidak berhenti mendengarkan diri sendiri.Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa jujur kita menjalani prosesnya.Dan mungkin, arah itu tidak selalu ditemukan di awal perjalanan. Ia justru muncul perlahan, saat kita terus berjalan—dengan sadar, dengan jujur, dan dengan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua hal harus segera pasti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
