Media sebagai Pembentuk Persepsi Sosial dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-14 06:54:27Media telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mahasiswa, terutama di era digital yang ditandai dengan akses informasi tanpa batas. Mahasiswa tidak hanya mengakses media sebagai sarana hiburan dan informasi, tetapi juga menjadikannya sebagai referensi dalam memahami dunia sosial. Intensitas paparan media yang tinggi membuat media memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, menilai, dan memaknai realitas, termasuk realitas yang berkaitan dengan kesehatan mental. Dalam konteks ini, Teori Kultivasi memberikan kerangka teoritis yang relevan untuk menjelaskan bagaimana media membentuk persepsi sosial secara bertahap dan tidak disadari (Gerbner et al., 1986).
Teori Kultivasi yang disampaikan oleh George Gerbner menekankan bahwa pengaruh media tidak bekerja secara langsung atau instan, melainkan melalui paparan yang terus-menerus dalam jangka panjang. Media secara konsisten menampilkan pola pesan tertentu yang akhirnya menanamkan gambaran realitas spesifik dalam benak audiens. Ketika gambaran tersebut dikonsumsi secara berulang, individu cenderung menganggapnya sebagai representasi dunia yang normal dan wajar (Gerbner et al., 2002). Dalam kehidupan mahasiswa, proses ini terlihat dari bagaimana persepsi tentang kehidupan ideal, kesuksesan, kebahagiaan, dan kestabilan emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang ditampilkan media.
Dalam kaitannya dengan kesehatan mental, media sering menyajikan narasi yang menekankan pencapaian, produktivitas tinggi, dan kebahagiaan yang tampak sempurna. Menurut Teori Kultivasi, paparan berulang terhadap gambaran tersebut dapat membentuk persepsi bahwa kondisi tersebut merupakan standar kehidupan yang seharusnya dicapai. Ketika mahasiswa tidak mampu memenuhi standar tersebut dalam kehidupan nyata, muncul perasaan gagal, cemas, dan tidak percaya diri. Dengan demikian, persepsi mengenai kesehatan mental tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pengalaman personal, melainkan pada realitas yang dikonstruksi media (Morgan, Shanahan, & Signorielli, 2015).
Teori Kultivasi juga membedakan antara individu dengan tingkat konsumsi media tinggi dan rendah. Individu dengan paparan media yang tinggi cenderung lebih mudah terpengaruh oleh gambaran realitas media dibandingkan mereka yang konsumsi medianya lebih terbatas (Gerbner et al., 2002). Dalam konteks mahasiswa, hal ini terlihat pada mereka yang menghabiskan banyak waktu di media sosial. Paparan intens terhadap unggahan tentang kesuksesan, kehidupan sosial yang aktif, dan pencapaian akademik dapat memicu tekanan psikologis, seperti kecemasan sosial, FOMO (fear of missing out), dan kelelahan mental. Kondisi ini menunjukkan bahwa intensitas konsumsi media berperan penting dalam proses pembentukan persepsi dan kesehatan mental.
Salah satu konsep utama dalam Teori Kultivasi adalah mean world syndrome, yaitu kecenderungan individu untuk memandang dunia sebagai tempat yang penuh ancaman akibat paparan media yang penuh dengan konflik, kekerasan, dan krisis (Gerbner et al., 1986). Dalam kehidupan mahasiswa, paparan berlebihan terhadap berita negatif, isu kriminalitas, konflik sosial, dan krisis global dapat meningkatkan rasa takut, stres, dan ketidakamanan. Persepsi bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya dapat berdampak pada kondisi psikologis mahasiswa, seperti meningkatnya kecemasan dan sikap pesimis terhadap masa depan.
Perkembangan media digital membuat proses kultivasi menjadi semakin kompleks. Jika pada awalnya Teori Kultivasi banyak membahas pengaruh televisi, kini media sosial dan platform digital lainnya memainkan peran yang sama, bahkan lebih intens. Konten yang muncul secara berulang di beranda - baik berupa video pendek, unggahan motivasi, maupun curahan emosi - turut membentuk gambaran tertentu tentang kesehatan mental. Paparan ini tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga diperkuat melalui interaksi aktif seperti komentar, likes, dan berbagi konten (Morgan et al., 2015). Akibatnya, proses kultivasi menjadi lebih personal dan sulit disadari.
Dalam konteks kesehatan mental mahasiswa, media sosial sering kali menormalisasi kondisi tertentu, seperti kelelahan ekstrem yang biasa disebut burnout kesedihan berkepanjangan, atau tekanan akademik berlebihan. Ketika narasi ini terus-menerus muncul, mahasiswa dapat menganggap kondisi tersebut sebagai hal yang wajar dan tidak memerlukan penanganan serius. Teori Kultivasi menjelaskan bahwa pengulangan pesan inilah yang membentuk persepsi sosial, sehingga batas antara kondisi mental yang sehat dan tidak sehat menjadi tidak jelas (Littlejohn, Foss, & Oetzel, 2017).
Penelitian empiris juga menunjukkan adanya hubungan antara intensitas penggunaan media digital dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan pada generasi muda. Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan waktu layar (screen time) berkorelasi dengan meningkatnya gejala gangguan kesehatan mental. Temuan ini memperkuat asumsi Teori Kultivasi bahwa pengaruh media bersifat jangka panjang dan terakumulasi. Mahasiswa mungkin merasa bahwa pandangan dan perasaan yang dimilikinya bersifat personal, padahal persepsi tersebut telah dibentuk oleh paparan media yang terus-menerus.
Meskipun demikian, Teori Kultivasi tidak sepenuhnya menyalahkan media sebagai penyebab utama masalah kesehatan mental. Media tetap memiliki peran positif dalam menyediakan informasi, edukasi, dan ruang diskusi mengenai isu kesehatan mental. Namun, tanpa literasi media yang memadai, mahasiswa berpotensi menerima realitas versi media secara mentah. Oleh karena itu, kesadaran kritis menjadi penting agar mahasiswa mampu memahami bagaimana media bekerja dan bagaimana pesan-pesan tertentu dikemas (Nasrullah, 2017).
Literasi media memungkinkan mahasiswa untuk bersikap lebih reflektif terhadap konten yang dikonsumsi. Dengan pemahaman yang baik, mahasiswa dapat menyadari bahwa tidak semua gambaran yang ditampilkan media mencerminkan realitas secara utuh. Dalam konteks Teori Kultivasi, literasi media berfungsi sebagai penyeimbang agar proses kultivasi tidak sepenuhnya membentuk persepsi sosial dan kesehatan mental secara sepihak (Littlejohn et al., 2017).
Pada akhirnya, Teori Kultivasi memberikan kerangka yang relevan untuk memahami hubungan antara media, persepsi sosial, dan kesehatan mental mahasiswa. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara individu memandang dunia dan dirinya sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa persepsi tentang kesehatan mental yang mereka miliki bisa jadi merupakan hasil dari paparan media jangka panjang. Dengan sikap kritis dan literasi media yang baik, mahasiswa dapat menempatkan media secara lebih seimbang dan menjaga kesehatan mental mereka di tengah arus informasi yang terus mengalir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
