Tadabbur Malam (002): Mengapa Hati Lelah Meski Hidup Berkecukupan
Khazanah | 2026-01-13 17:23:05Ada kelelahan yang tidak berasal dari tubuh, melainkan dari hati. Kelelahan itu sering muncul justru ketika hidup tampak baik-baik saja. Di malam hari, saat kesibukan berhenti, rasa lelah itu sering datang tanpa diminta, seolah ingin mengajak kita bertanya: apa yang sebenarnya hilang?
Tidak sedikit orang yang hidupnya tampak cukup, bahkan berlebih, tetapi hatinya terasa lelah. Lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan. Bukan karena kekurangan, melainkan karena hati kehilangan rasa cukup.
Kelelahan semacam ini sering muncul ketika hidup hanya diukur dengan pencapaian. Target demi target dikejar, standar terus naik, dan rasa syukur tertinggal di belakang. Kita lupa bahwa hati tidak hidup dari angka, tetapi dari makna.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketenangan hati lahir dari mengingat Allah. Namun mengingat Allah bukan sekadar lisan, melainkan kesadaran bahwa apa pun yang kita miliki hari ini adalah pemberian-Nya. Ketika kesadaran itu memudar, nikmat sebesar apa pun terasa hambar.
Tahajud memulihkan kepekaan itu. Di waktu ketika dunia terlelap, kita dipaksa jujur pada diri sendiri. Kita menyadari bahwa lelah bukan selalu karena beban, tetapi karena hati terlalu lama tidak diajak pulang.
Mungkin yang kita butuhkan bukan tambahan rezeki, melainkan kemampuan untuk mensyukurinya. Dan tahajud adalah salah satu jalan untuk belajar kembali merasa cukup.
Jika lelah itu datang kembali malam ini, barangkali ia bukan musuh yang harus dihindari, melainkan tanda bahwa hati sedang rindu pada makna yang lebih dalam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
