Tadabbur Malam (001): Saat Syukur Menjadi Jalan Pulang
Khazanah | 2026-01-12 18:47:41Malam selalu memberi ruang untuk jujur. Saat suara dunia mereda dan cahaya meredup, manusia sering kali baru menyadari betapa banyak nikmat yang telah ia terima, namun jarang ia syukuri. Di waktu sunyi inilah, syukur menemukan maknanya yang paling dalam—bukan sebagai ucapan, tetapi sebagai kesadaran.
Setiap manusia memiliki perjalanan pulang. Ada yang pulang karena lelah, ada yang pulang karena luka, dan ada pula yang pulang karena sadar bahwa dunia tak pernah benar-benar memberi ketenangan. Di antara semua jalan pulang itu, syukur adalah salah satu yang paling sunyi, tetapi paling menenangkan.
Allah berjanji akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Namun janji ini sering kita pahami secara sempit, seolah tambahan itu selalu berbentuk materi. Padahal, tambahan paling berharga sering kali berupa ketenangan, kelapangan dada, dan kemampuan menerima takdir dengan lapang.
Kita sering mengaitkan syukur dengan kelimpahan. Padahal, syukur justru lahir dari kesadaran. Kesadaran bahwa hidup ini bukan sekadar rangkaian rutinitas, melainkan kumpulan nikmat yang sering luput kita sadari. Bangun dari tidur, menghirup udara pagi, dan masih diberi kesempatan memperbaiki diri—semuanya adalah anugerah.
Tahajud adalah ruang belajar syukur yang jujur. Dalam sunyi malam, kita tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan. Hanya ada hamba yang berdiri dengan segala kekurangannya, mengakui bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.
Syukur di waktu tahajud bukanlah syukur karena hidup sempurna, melainkan syukur karena Allah masih berkenan menerima kita apa adanya. Dari sanalah jalan pulang itu bermula—pulang menuju hati yang lebih tenang dan iman yang lebih jujur.
Malam mengajarkan bahwa syukur tidak selalu mengubah keadaan, tetapi selalu mengubah cara kita memandangnya. Dan mungkin, dari sanalah hati perlahan menemukan jalan pulangnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
