Nasib Palestina Menderita Terus, Kapan Berakhir?
Kolom | 2026-01-13 10:58:38
Oleh Aisyah Farha (Pendidik Generasi)
Kalau bicara Palestina, rasanya dunia sudah terlalu sering mendengar kabar duka. Serangan demi serangan, korban demi korban, dan wilayah yang terus dirampas oleh Israel. Hingga awal 2026, agresi Israel di Gaza telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak (Antara News, Januari 2026).
Yang lebih menyakitkan, di tengah kondisi kemanusiaan yang kian parah, Israel justru melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Artinya, bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya semakin sulit masuk (Antara News, Januari 2026). Negara-negara Barat pun kembali menyampaikan “keprihatinan”, tanpa langkah nyata yang benar-benar menghentikan kejahatan Israel (Tribunnews, Januari 2026).
Di sisi lain, Israel tetap melaju dengan agenda lamanya. Ekspansi permukiman ilegal di Tepi Barat terus meningkat dan bahkan mencetak rekor baru sepanjang 2025 (Antara News, Januari 2026). Semua ini menunjukkan satu hal: penderitaan Palestina bukan kebetulan, tapi hasil dari penjajahan yang direncanakan dan dijalankan secara sistematis.
Selama Israel Ada, Derita Palestina Jalan Terus
Realitasnya sederhana: selama negara Israel tetap eksis, penderitaan Palestina hampir pasti terus berlanjut. Israel bukan sekadar “negara yang sedang konflik”, melainkan proyek penjajahan yang sejak awal dibangun dengan kekerasan dan perluasan wilayah.
Berbagai tawaran penyelesaian yang dimotori Amerika Serikat terbukti tidak pernah benar-benar memihak Palestina. Solusi dua negara, gencatan senjata, hingga diplomasi kemanusiaan justru sering berujung pada posisi tawar Palestina yang makin lemah. Gaza tetap dibombardir, Tepi Barat terus dicaplok. Bahkan gencatan senjata pun kerap hanya menjadi jeda sebelum pelanggaran berikutnya (Republika, Gaza Media, MINA News, Januari 2026).
Mengutuk Israel sudah dilakukan berulang kali. Bantuan kemanusiaan pun terus diupayakan, meski sering dihalangi. Namun semua itu belum mampu menghentikan penderitaan. Ini menunjukkan bahwa pendekatan yang ada hari ini tidak menyentuh akar masalah.
Solusi: Islam sebagai Jalan Pembebasan
Masalah Palestina bukan semata soal empati dan bantuan, melainkan soal ketiadaan kekuatan pelindung umat Islam. Di sinilah Islam menawarkan solusi yang nyata, bukan sekadar seruan moral.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya imam itu adalah junnah (perisai), orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang berfungsi sebagai junnah, pelindung yang nyata dan berwibawa, bukan sekadar simbol atau pernyataan politik. Tanpa junnah tersebut, Palestina akan terus sendirian menghadapi agresi Zionis.
Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya persatuan umat dalam satu ikatan kepemimpinan Islam:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Artinya, penderitaan Palestina tidak akan berakhir hanya dengan simpati, kecaman, atau diplomasi setengah hati. Ia hanya bisa dihentikan ketika umat Islam bersatu dan memiliki kekuatan politik yang benar-benar melindungi darah, tanah, dan kehormatan kaum Muslim.
Selama solusi Islam ini diabaikan, selama umat Islam tetap tercerai-berai dan para penguasanya memilih tunduk pada kepentingan Barat, maka pertanyaan “kapan penderitaan Palestina berakhir?” akan terus terdengar—tanpa jawaban yang menenangkan.
Wallahu'alam bisshawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
