Komunikasi di Era Gen Z: Kenapa Chat Bisa Ribet dan Salah Paham?
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-12 22:21:42
Gen Z hidup di era yang serba cepat. Chat dibalas singkat, emoji menggantikan kata, dan satu story bisa ditonton ratusan orang dalam hitungan menit. Tapi anehnya, makin canggih cara kita berkomunikasi, makin sering juga terjadi salah paham. Pernah nggak, chat kamu dibaca doang tapi nggak dibalas, lalu kamu langsung overthinking? Nah, itu bukan drama semata itu soal komunikasi.
Komunikasi Bukan Cuma Kirim Pesan
Banyak orang mengira komunikasi itu selesai saat pesan dikirim. Padahal, komunikasi baru benar-benar terjadi ketika pesan dipahami. Kata komunikasi sendiri berasal dari communis, yang artinya “sama”. Jadi intinya, komunikasi itu soal nyamain makna, bukan sekadar nyampein kata.
Masalahnya, tiap orang punya pengalaman, emosi, dan sudut pandang yang beda. Itulah kenapa satu chat bisa dianggap biasa oleh pengirimnya, tapi terasa dingin atau nyebelin bagi penerimanya.
Cara-cara kita Berkomunikasi (Tanpa Sadar)
Dalam keseharian, Gen Z sebenarnya sudah pakai berbagai bentuk komunikasi, meski sering nggak sadar.
1. Komunikasi Satu Arah
Ini tipe komunikasi yang nggak ngasih ruang buat balasan. Contohnya pengumuman kampus, iklan, atau caption panjang di media sosial. Informasinya jalan, tapi kalau salah paham, ya sudah nggak ada klarifikasi langsung.
2. Komunikasi Dua Arah
Chat, voice note, atau debat di kolom komentar masuk ke sini. Ada balasan, ada reaksi. Tapi tetap aja, sering muncul konflik karena nada bicara nggak kelihatan dan konteks gampang hilang.
3. Komunikasi Bareng-Bareng
Ini yang paling realistis dalam kehidupan nyata. Komunikasi dipahami sebagai proses bareng, bukan siapa ngomong ke siapa. Diskusi kelompok, nongkrong, atau obrolan deep jam 2 pagi adalah contoh di mana makna dibangun bersama, pakai kata, ekspresi, dan vibe.
4. Konteks Itu Penting, Tapi Sering Diabaikan
Satu kalimat bisa punya makna beda tergantung konteks. Chat singkat itu wajar saat sibuk, tapi bisa dianggap cuek dalam hubungan dekat. Candaan yang aman di circle sendiri bisa jadi masalah besar saat dilempar ke ruang publik.
Di media sosial, konteks sering hilang. Orang cuma lihat potongan pesan, bukan niat utuhnya. Inilah alasan kenapa konflik online gampang meledak.
Bentuk Komunikasi yang Kita Jalani Setiap Hari
Kita ngobrol sama diri sendiri saat overthinking. Kita komunikasi antarpribadi lewat chat atau call. Kita diskusi di grup. Kita bicara ke publik lewat story, thread, atau konten. Bahkan satu unggahan bisa jadi komunikasi personal, publik, dan massa sekaligus.
Buat Gen Z, batas-batas komunikasi ini makin blur. Sekali salah ngomong, dampaknya bisa ke mana-mana.
Jadi, Kenapa Paham Komunikasi Itu Penting?
Karena banyak konflik bukan muncul dari niat buruk, tapi dari makna yang nggak ketemu. Dengan paham komunikasi, kita jadi lebih sadar sebelum ngetik, lebih empatik sebelum nge-judge, dan lebih bijak saat bereaksi.
Di dunia yang serba cepat dan penuh notifikasi, skill komunikasi bukan cuma soal bisa ngomong, tapi soal bisa ngerti dan dipahami.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
