Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dinda Oktavia Ramadhani

Public Relations Politik dalam Komunikasi Politik Modern

Politik | 2026-01-12 20:12:37
Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

Disusun Oleh: Dinda Oktavia Ramadhani, Nadzela Putri Ramadhani, Nazwa tIara Syifa, Maesha Wulan

Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Dosen Pengampu: Harmonis

Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Public relations politik adalah bagian tak terpisahkan dari komunikasi politik modern. Ia membentuk cara kita melihat politisi, memahami kebijakan, dan menilai arah negara.Jika dijalankan secara profesional dan etis, PR politik dapat memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Namun jika disalahgunakan, ia justru bisa menjadi sumber kecurigaan dan krisis kepercayaan.Di tengah banjir informasi hari ini, publik semakin membutuhkan komunikasi politik yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Dan di situlah, peran PR politik seharusnya benar-benar bermakna.

Di era media sosial dan keterbukaan informasi seperti sekarang, politik tidak lagi hanya berlangsung di ruang rapat atau gedung parlemen. Politik hidup di layar ponsel kita di TikTok, Instagram, X, YouTube, dan kolom komentar berita. Dalam ruang inilah public relations (PR) politik memainkan peran yang sangat besar, meskipun sering kali tidak terlihat secara langsung.
Banyak orang mengira politik hanya soal pidato, kampanye, dan debat kandidat. Padahal, di balik semua itu ada strategi komunikasi yang terencana: bagaimana citra politisi dibangun, bagaimana isu dipilih, dan bagaimana publik diarahkan untuk percaya atau menolak suatu kebijakan. Di sinilah PR politik bekerja.

PR Politik: Bukan Sekadar Pencitraan
Public relations politik dapat dipahami sebagai upaya komunikasi strategis yang dilakukan aktor politik pemerintah, partai, atau kandidat untuk membangun hubungan dengan masyarakat. Tujuannya bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, reputasi, dan legitimasi.
Dalam sistem demokrasi, dukungan publik sangat menentukan. Kebijakan sebaik apa pun tidak akan berjalan jika tidak dipercaya masyarakat. Karena itu, PR politik berfungsi sebagai jembatan antara penguasa dan rakyat, antara keputusan politik dan penerimaan publik.

Media Digital Mengubah Cara PR Politik Bekerja
Dulu, komunikasi politik sangat bergantung pada televisi dan koran. Kini, satu unggahan media sosial bisa memengaruhi opini jutaan orang dalam hitungan jam. Publik bukan lagi hanya penerima pesan, tetapi juga pembuat dan penyebar informasi.
Bagi PR politik, ini adalah peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, komunikasi menjadi lebih cepat dan langsung. Di sisi lain, kesalahan kecil bisa berubah menjadi krisis besar. Hoaks, disinformasi, dan framing negatif bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Karena itu, PR politik modern tidak cukup hanya pandai berbicara. Mereka harus mampu membaca sentimen publik, merespons isu secara cepat, dan menjaga reputasi aktor politik di ruang digital yang sangat dinamis.

Membentuk Opini Publik Lewat Bahasa dan Narasi
Salah satu kekuatan utama PR politik adalah kemampuannya membentuk opini publik. Ini dilakukan bukan dengan memaksa, tetapi dengan cara memilih isu apa yang diangkat dan bagaimana isu itu disajikan.
Sebuah kebijakan, misalnya, bisa dibingkai sebagai “solusi” atau sebagai “masalah”, tergantung cara penyampaiannya. Di sinilah bahasa, simbol, dan narasi memainkan peran besar. Publik sering kali tidak hanya menilai isi pesan, tetapi juga cara pesan itu disampaikan.
Namun, pengaruh ini juga membawa tanggung jawab besar. Jika digunakan secara berlebihan atau manipulatif, PR politik bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap dunia politik secara keseluruhan.
Etika: Batas Penting dalam PR Politik
PR politik yang baik seharusnya menjunjung nilai kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Tanpa etika, PR politik akan berubah menjadi propaganda.
Di era digital, tantangan etika semakin besar. Informasi palsu, ujaran kebencian, dan serangan terhadap lawan politik sering kali dibungkus seolah-olah sebagai komunikasi politik biasa. Jika hal ini dibiarkan, kualitas demokrasi akan menurun karena publik kehilangan pegangan terhadap mana informasi yang benar dan mana yang dimanipulasi.
Karena itu, PR politik idealnya tidak hanya berpihak pada kepentingan klien politik, tetapi juga pada kepentingan publik.

Masa Depan PR Politik
Ke depan, PR politik akan semakin dipengaruhi oleh teknologi: analisis data, kecerdasan buatan, dan media digital. Semua itu dapat membantu memahami opini publik dan menyusun strategi komunikasi yang lebih tepat.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Yang menentukan adalah bagaimana teknologi itu digunakan. PR politik yang menggabungkan kecanggihan teknologi dengan etika dan keterbukaan akan menjadi kekuatan penting dalam menjaga demokrasi yang sehat.

Penutup

Public relations politik adalah bagian tak terpisahkan dari komunikasi politik modern. Ia membentuk cara kita melihat politisi, memahami kebijakan, dan menilai arah negara.
Jika dijalankan secara profesional dan etis, PR politik dapat memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Namun jika disalahgunakan, ia justru bisa menjadi sumber kecurigaan dan krisis kepercayaan.
Di tengah banjir informasi hari ini, publik semakin membutuhkan komunikasi politik yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Dan di situlah, peran PR politik seharusnya benar-benar bermakna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image