Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image wilda sabilah

Mencetak Pendidik Berkarakter: Benarkah PPG Mampu Menangkal Krisis Etika Guru?

Guru Menulis | 2026-01-12 10:53:08

Pada prinsipnya pendidikan memegang peranan penting di dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan bahwa seluruh dimensi yang menjiwai kehidupan seseorang termasuk di dalamnya pola pikir dan juga tindakan dibentuk di dalam proses pendidikan. Pendidikan juga sebagai dasar untuk menentukan kehidupan pada masa yang akan datang. Artinya, ketika ingin melihat peradaban pada masa depan, akan dapat dilihat pada dimensi pendidikan saat ini. Oleh karenanya, salah satu cara untuk membawa misi perubahan pada peradaban adalah melalui pendidikan. Dengan demikian, tidaklah salah, apabila suatu bangsa menggantungkan citacita kemajuan dari berbagai sektor melalui lembaga pendidikan. Sehingga dapat dikatakan pendidikan sebagai bentuk dari investasi terhadap peradaban.

Pendidikan karakter merupakan sebuah sistem untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada seluruh warga sekolah. Sistem ini mencakup aspek pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan nyata dalam menerapkan nilai-nilai tersebut, baik dalam hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun bangsa, sehingga terbentuk pribadi yang utuh atau insan kamil. Dalam pelaksanaannya di sekolah, pendidikan karakter harus melibatkan semua pihak (stakeholder), serta mencakup seluruh unsur pendidikan, seperti isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaiannya, kualitas interaksi, pengelolaan mata pelajaran, manajemen sekolah, kegiatan ko-kurikuler, pemanfaatan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga serta lingkungan sekolah.

Problematika krisis etika guru di era saat ini, menurunnya profesionalisme dalam interaksi dengan siswa Di era digital, beberapa guru menghadapi kesulitan menjaga batasan profesional, seperti interaksi yang kurang pantas melalui media sosial, komunikasi tidak proporsional, atau sikap kasar dan merendahkan di kelas maupun ruang digital. Kurangnya keteladanan moral Sebagian guru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai moral yang seharusnya diteladankan, misalnya kemarahan berlebihan, kata-kata kasar, kurangnya tanggung jawab, atau perilaku tidak disiplin di lingkungan sekolah.

Pada acara Rembuk Nasional yang diadakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 1 Juni 2010, Wakil Menteri Pendidikan Nasional menyampaikan bahwa pendidikan karakter sangat berkaitan dengan keinginan untuk mewujudkan kesepakatan nasional yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Kesepakatan tersebut kemudian ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang itu dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, dan menciptakan peradaban bangsa yang bermartabat guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan tersebut adalah agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak baik, sehat, berpengetahuan, terampil, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

PPG dirancang untuk memperkuat kompetensi pedagogik, professional, sosial, dan terutama kompetensi kepribadian melalui pembelajaran formal tentang kode etik guru seperti prinsip etika profesi, studi kasus pelanggaran etik, standar moral dan aturan organisasi profesi (PGRI, IGI, KKG, MGMP). Refleksi praktik baik dan pembiasaan profesional ppg memaksa calon guru merefleksikan perilaku, sikap, dan tanggung jawab selama praktik mengajar. Supervisi dan evaluasi moral-praktis Guru PPL dibimbing dosen dan guru pamong yang menilai bukan hanya cara mengajar, tetapi juga: integritas, disiplin, empati, komunikasi dan tanggung jawab. Penguatan kultur profesional PPG menanamkan identitas bahwa guru adalah profesional, bukan sekadar pekerja, sehingga ada standar etik yang harus dijaga.

PENUTUP/KESIMPULAN

Pendidikan Profesi Guru (PPG) memainkan peran krusial dalam membentuk tenaga pendidik yang memiliki integritas melalui pengembangan kompetensi pribadi, kemampuan sosial, keahlian profesional, serta keterampilan mengajar. Dengan memperkuat norma moral, aturan etika jabatan, dan kebiasaan berpikir kritis secara reflektif, PPG dapat berfungsi sebagai dasar utama untuk menghindari munculnya masalah etika di kalangan guru. Meski demikian, keberhasilan PPG tidak bisa berdiri sendiri. Masalah etika pada guru adalah isu rumit yang tidak hanya terkait dengan kemampuan pribadi, melainkan juga terpengaruh oleh atmosfer sekolah, gaya kepemimpinan, kondisi kerja profesional, serta mekanisme pengawasan dan penerapan disiplin.

Oleh sebab itu, PPG baru bisa efektif sebagai pertahanan etika jika didukung oleh lingkungan pendidikan yang kondusif—dari teladan yang diberikan oleh pemimpin, budaya kerja yang menghargai kejujuran, hingga penilaian etika yang terus-menerus. Dengan kolaborasi antara PPG dan lingkungan profesional yang secara konsisten menerapkan prinsip moral, upaya menghasilkan pendidik yang bermoral dapat tercapai secara maksimal, sehingga masalah etika guru dapat dikurangi atau bahkan dicegah.

\Oleh: Wilda Ismi Sabilah, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image