Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faadhillah Fathiya

Dibalik Senyum Ceria: Tumbuh Kembang Siswa Sekolah Dasar yang Sering Disalahpahami

Sekolah | 2026-01-03 11:39:20
Ilustrasi siswa sedang murung [https://www.istockphoto.com/id]

Di balik wajah polos dan tawa riang anak-anak sekolah dasar, ada proses tumbuh kembang yang luar biasa pesat sedang berlangsung. Namun ironisnya, tidak sedikit dari mereka justru kerap disalahpahami. Sebagian dinilai “nakal”, “tidak disiplin”, “terlalu aktif”, atau “kurang serius belajar”, padahal perilaku tersebut sering kali merupakan bagian alami dari proses perkembangan mereka yang sedang bertumbuh.

Realitas di sekolah dasar menunjukkan bahwa banyak siswa sulit duduk diam, sering bertanya, mudah terdistraksi, atau tampak terlalu sensitif terhadap situasi sosial. Sementara itu, sebagian lainnya tampak pendiam, lambat merespon, atau tidak percaya diri. Sayangnya, lingkungan dewasa di sekitar mereka—baik guru maupun orang tua—masih sering melihat perilaku ini dari sudut pandang hitam-putih: patuh berarti baik, tenang berarti ideal, aktif berarti mengganggu, dan berbeda berarti bermasalah.

Selain itu, anak pada rentang sekolah dasar belum dapat mengerti betul apa yang salah dan apa yang benar. Mereka memandang bahwa dunia mereka adalah dunia bermain dan berpikir bahwa orang dewasa juga bagian dari diri mereka sehingga terkadang perilaku mereka merupakan gangguan bagi orang dewasa.

Padahal, pada usia sekolah dasar, anak sedang berada pada fase perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan moral yang sangat cepat. Rasa ingin tahu yang tinggi, energi yang melimpah, keberanian berekspresi, hingga perubahan emosi yang kerap terjadi adalah tanda bahwa otak dan kepribadian anak sedang berkembang. Bahkan “kenakalan kecil” atau sikap kritis yang dianggap mengganggu, sering kali justru menunjukkan proses berpikir, eksplorasi, serta pencarian jati diri.

Pendidikan dasar semestinya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar mengenali diri, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Guru perlu melihat perilaku siswa sebagai pesan, bukan semata-mata pelanggaran. Orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Sekolah pun perlu membangun lingkungan yang inklusif, ramah anak, dan menghargai keberagaman karakter.

Sudah saatnya dunia pendidikan berhenti memberikan label yang menyudutkan dan mulai memberi kesempatan bagi anak untuk dipahami. Sebab di balik setiap perilaku yang tampak “mengganggu”, sering kali ada potensi besar yang menunggu untuk diarahkan. Ketika siswa sekolah dasar didampingi dengan empati, pendampingan yang tepat, dan penerimaan yang tulus, mereka tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga berkembang sebagai pribadi yang percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

Pada akhirnya, tumbuh kembang pesat anak tidak selalu tampak dalam bentuk ketenangan dan kepatuhan. Sering kali, potensi besar justru hadir dalam wujud yang berbeda dan tidak selalu nyaman bagi orang dewasa. Tugas kita bukan menghakimi, melainkan memahami. Karena ketika anak dipahami, mereka tidak hanya bertumbuh—mereka bersinar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image