Membangun Pemikiran Kritis Siswa: Mengapa Konstruktivisme Sangat Penting di Era Digital
Sekolah | 2025-12-26 14:57:59
Di tengah derasnya arus informasi era digital, kemampuan siswa untuk berpikir kritis menjadi kebutuhanyang tidak bisa ditawar. Informasi memang mudahditemukan, tetapi tanpa kemampuan menilai dan mengolahnya, siswa hanya akan menjadi penerima pasif. Sayangnya, pola belajar yang terjadi di banyak sekolah masihmenekankan hafalan dan pencapaian nilai, bukan proses memahami konsep. Kondisi ini membuat banyak siswakurang terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Tingkat literasi digital siswa di Indonesia saat ini masihmemerlukan perhatian lebih, meskipun perkembanganteknologi informasi telah memberikan dampak besar terhadapproses pembelajaran.Menurut Oktarin & Saputri (2024) menyatakan bahwa meskipun penggunaan perangkat digital di sekolah dasar semakin meluas, sebagian besar siswa masihkesulitan dalam memanfaatkan informasi secara kritis dan efektif. Hal ini sejalan dengan tantangan yang dapat dihadapidalam implementasi kurikulum Merdeka, yang menekankanpentingnya penguatan literasi digital sebagai bagian dariketerampilan abad 21. (Saputri, 2024)
Minimnya keterlibatan siswa dalam proses belajarmenjadi salah satu persoalan utama pendidikan saat ini. Banyak siswa hanya fokus pada hasil akhir, terutama nilaiujian. Mereka cenderung mencari jawaban cepat melaluiinternet tanpa menganalisis atau mempertanyakan konsepyang dipelajari. Budaya bertanya juga belum tumbuh denganbaik; siswa enggan berdiskusi dan takut berpendapat. Akibatnya, kemampuan penalaran dan pemecahan masalahmereka kurang terlatih, padahal kemampuan tersebut sangat penting di era informasi yang padat dan cepat berubah.
Sapriadi (2024) dalam disertasinya mengenai dampakintensitas penggunaan media sosial terhadap perilaku FOMO pada siswa, mengungkapkan bahwa sebagian besarsiswa yang aktif di media sosial mengalami kecemasan yang berlebihan karena merasa tertinggal informasi atau kegiatanyang sedang tren. Hal ini berdampak pada kualitas interaksisosial mereka dan juga mengganggu konsentrasi belajar, yang mengarah pada berkurangnya efektivitas pembelajaran.Literasi merupakan kegiatan membaca lalumenerjemahkannya dengan otak tentang apa isi bacaan yang dibaca lalu mengimplementasikannya. (Sapriadi, 2024)
Konstruktivisme hadir sebagai pendekatan yang menjawab kebutuhan pendidikan modern. Teori inimenekankan bahwa pengetahuan dibangun melaluipengalaman, refleksi, serta interaksi siswa denganlingkungannya. Menurut pandangan konstruktivistik, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, melainkanfasilitator yang membimbing proses berpikir siswa. Melaluidiskusi, kerja kelompok, dan penyelesaian masalah nyata, siswa diajak untuk aktif membangun pemahaman. Pendekatanini sangat relevan di era digital karena mendorong siswauntuk memilah informasi, mengevaluasi sumber, dan menyusun argumen secara logis.
Filsafat konstruktivisme merujuk pada aliran pemikiranyang menyelidiki ide bahwa pengetahuan merupakankonstruksi yang bersifat individual. Dalam konteks ini, manusia membentuk pemahamannya melalui keterlibatandengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungansekitar mereka. Sesuai dengan sudut pandang,konstruktivisme melibatkan pembentukan pengetahuan daripengalaman konkret dengan menggunakan aktivitaskolaboratif, refleksi, dan interpretasi. Ini menyiratkan bahwasiswa akan memiliki pemahaman yang beragam tergantungpada pengalaman yang mereka miliki dan sudut pandang yang mereka terapkan dalam menafsirkan informasi. (at.all, 2023)
Untuk membangun pemikiran kritis di tengah banjirinformasi digital, sekolah harus menggeser fokuspembelajaran dari sekedar mengejar angka nilai ke proses membangun pengetahuan secara aktif. Pendekatankonstruktivisme memberikan dasar yang kokoh denganmenjadikan siswa sebagai pemroses, penerjemah, dan pencipta makna. Guru bisa mulai dengan mengajukanpertanyaan yang terbuka, memberikan tugas yang berbasismasalah, serta menciptakan ruang diskusi yang mendorongsiswa untuk mengevaluasi, membandingkan, dan memverifikasi data digital yang mereka temukan. MenurutOktarin dan Saputri (2024) yang menunjukkan kesulitan siswadalam memanfaatkan informasi digital secara kritis menjadiperingatan bahwa pembelajaran perlu mengarahkan teknologisebagai instrumen berpikir, bukan hanya sumber jawabaninstan. Evaluasi juga harus lebih menekankan proses berpikirdaripada hasil akhir semata.
Pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bertanya, bereksperimen, dan menemukan konsep sendiri tidak hanyamenumbuhkan kemandirian dalam belajar, tetapi juga melatihmereka untuk menyaring informasi dengan sadar. Di era distraksi digital dan kecenderungan FOMO yang diungkapSapriadi (2024), kemampuan ini semakin krusial agar siswatidak tenggelam dalam konsumsi informasi yang tak terkurasi. Oleh karena itu, konstruktivisme bukan lagi sekedar teoripendidikan, ia telah menjadi strategi utama untuk mencetakgenerasi yang adaptif, kritis, dan tahan terhadap tekananzaman digital. Dengan menempatkan siswa sebagai aktorutama yang membangun pengetahuan, sekolah dapatmemastikan teknologi tidak mendominasi pola pikir, melainkan memperkuat kemampuan mereka untuk memahamidunia dengan lebih dalam dan bertanggung jawab. (Saputri, 2024)
DAFTAR PUSTAKA
Sapriadi. (2024). Dampak Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap. repository.iainpare.ac.id, 4-5.
Saputri, O. &. (2024). SOSIALISASI LITERASI DIGITAL SEBAGAI LANGKAH TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR. Jurnal Pengabdian dan Inovasi Masyarakat, 26-27.
Disusun Oleh:
1.Adelia Nahak
2.Hijriyani Aulya Mustofa
3.Jesika
4.Mia Rahmadani
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
