Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Salwa Nuraini

Peristiwa Isra Miraj sebagai Peneguh Keimanan Seseorang

Agama | 2026-01-08 17:19:25

Pada era gempuran yang serba cepat dan canggih ini, mungkin ada satu pertanyaan Apakah peristiwa isra mi'raj masih menjadi pusat pembelajaran dan peneguhan keimanan seseorang?


Dalam pandangan ilmu tauhid peristiwa isra mi'raj ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak bisa kita batasi. Yang mana dari sana kita belajar bahwa keimanan itu tidak hanya dibangun atas logika tetapi keyakinan dan kepasrahan terhadap kehendak Allah. Dari peristiwa isra mi'raj tersebut Allah menurunkan hadiah yaitu berupa salat. Kita tahu bahwa isra mi'raj merupakan peristiwa luar biasa yang dialami nabi Muhammad ketika melakukan perjalanan dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa lalu terakumulasi ke sidratul muntaha.


Dari peristiwa itu kita belajar bahwa tidak semua kenyataan dapat dijangkau oleh akal manusia. Ya akal penting tapi iman ini hadir untuk melengkapi keterbatasan akal pikiran serta tersebut. Makna yang dapat kita ambil dalam peristiwa Isra Mi'raj adalah penguatan iman yang mana peristiwa ini mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, Antara logika dan keimanan, antara teknologi dan spiritualitas. Peneguhan iman juga tampak dari diturunkannya perintah shalat dalam peristiwa Isra Mi'raj. Shalat menjadi bukti bahwa iman harus dijaga secara berkelanjutan melalui hubungan langsung antara hamba dan Allah. Melalui shalat, seorang mukmin memperbarui keimanannya setiap hari, menegaskan kembali pengakuan tauhid, serta melatih ketundukan dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya.

Selain itu, Isra Mi'raj meneguhkan iman dengan mengarahkan manusia pada tujuan hidup yang benar. Peristiwa ini mengingatkan bahwa tujuan utama kehidupan bukan semata-mata pencapaian duniawi, tetapi penghambaan kepada Allah. Iman yang diteguhkan melalui Isra Mi'raj akan melahirkan ketenangan batin, keteguhan sikap, dan kesiapan menghadapi ujian hidup tanpa kehilangan arah spiritual.

Dengan demikian, Isra Mi'raj hadir sebagai peristiwa yang terus menghidupkan iman. Ia menanamkan keyakinan terhadap kemahakuasaan Allah, memperkuat hubungan spiritual melalui shalat, dan membimbing manusia agar tetap teguh dalam keimanan di tengah perubahan zaman. Bagi setiap muslim, meneladani Isra Mi'raj berarti menjadikan iman sebagai pusat kehidupan, bukan sekadar konsep, tetapi kekuatan yang nyata dalam setiap langkah hidup.


Namun, tantangan keimanan di era digital semakin kompleks. Umat Islam hari ini tidak selalu menangani penolakan terhadap tauhid secara terang-terangan, melainkan pergeseran nilai tauhid yang halus dan tidak disadari, terutama melalui media sosial. Bentuk penyimpangan ini tampak dalam ketergantungan berlebihan pada dunia digital, ketika validasi diri lebih diukur dari jumlah “like”, “view”, dan “followers” dari pada ridha Allah. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube juga dipenuhi konten keagamaan yang tidak disampaikan secara mendalam, sehingga melahirkan pemahaman agama yang dangkal, bahkan keliru.

Selain itu, muncul fenomena pergeseran keagamaan, dari ulama yang memiliki kompetensi keilmuan menuju “otoritas digital” yang populer tetapi kurang kredibel. Kondisi ini meliputi pemahaman tauhid yang lurus dan membuka ruang bagi praktik-praktik keagamaan yang lebih mengejar sensasi. Ditambah lagi, budaya konsumtif dan arus hiburan tanpa batas menyebabkan kelelahan rohani, sehingga ibadah dan zikir semakin terpinggirkan.Di dalam relevansi Isra Mi'raj kembali menemukan momentumnya. Peristiwa ini mengajarkan bahwa iman harus dijaga melalui kedekatan dengan Allah, bukan melalui ketergantungan pada teknologi atau budaya global.

Isra Mi'raj menegaskan bahwa shalat adalah benteng utama keimanan,yang mampu menjaga manusia dari kehilangan tujuan hidup di tengah banjir informasi dan gangguan digital.Dengan menjadikan Isra Mi'raj sebagai inspirasi, umat Islam diajak untuk menggunakan teknologi secara bijak dan bernilai tauhid, menjadikannya sarana tadabbur atas tanda-tanda kebesaran Allah, bukan alat yang menjauhkan dari-Nya. Muhasabah diri, perbaikan niat, dan penataan kembali tujuan hidup menjadi langkah penting agar kemajuan teknologi tetap selaras dengan nilai-nilai tauhid. Dengan demikian, Isra Mi'raj tetap relevan sebagai peneguh keimanan yang membimbing manusia menuju keseimbangan antara kemajuan dunia dan kedalaman spiritual.

Disusun Oleh:

1. Noveliya Salwa Nur Aini

2. Leni Latifah

3. Mawar Holipatul Mar'ah

4. Titin Suhartini

5. Siti Aghniyah Kurniyah

6. Salsabila Zakiyyatul Fahkiroh

7. Hilda

8. Husnul Jaoharul Mu'awanah

9. Esa Masrohatul Bahiyah

Mahasiswa PAI Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan Jawa Barat (STAIKU).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image