Kita Adalah Mustahik
Khazanah | 2026-01-07 07:54:42Di tengah semangat memberi, donasi, dan filantropi yang kian marak, ada satu kenyataan mendasar yang kerap luput kita renungi: sesungguhnya, dalam hidup ini, kitalah mustahik sejati.
Kita adalah mustahik—fakir yang senantiasa lapar di hadapan jamuan-Nya; pengemis yang telapak tangannya tak pernah cukup menampung hujan karunia; jiwa-jiwa retak yang terus menengadah, menanti setetes embun dari samudera kasih-Nya yang tak bertepi.
Lalu siapa donatur kita?
Allah. Dialah Sang Donatur sejati. Sumber mata air yang tak pernah kering, yang tak pernah letih memberi, cahaya yang terus mencurah tanpa syarat. Dari-Nya mengalir rezeki, napas, waktu, dan hidup itu sendiri—memenuhi cawan eksistensi kita yang sejatinya selalu kosong.
Dalam setiap denyut nadi, dalam setiap helaan napas, dalam setiap kilasan harapan, ada tanda tangan-Nya yang agung. Sebuah pengakuan sunyi bahwa kita hidup bukan karena kuasa kita, melainkan karena kebaikan-Nya yang abadi dalam memberi.
Kesadaran sebagai mustahik inilah yang semestinya menumbuhkan kerendahan hati: bahwa memberi bukan alasan untuk merasa tinggi, dan menerima bukan tanda kehinaan. Kita semua, pada hakikatnya, hidup dari kemurahan Allah yang tak pernah berhenti mengalir.
Kita adalah mustahik.
Dan Allah adalah donatur kita.
Mustahik
Pekalongan, Rajab 1447 H / Januari 2026
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
