Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Abdul Aziz, B.A., M.Pd

Kampung Haji: Biar Jamaah Indonesia Serasa di Rumah Sendiri

Agama | 2026-01-08 06:06:06

Setiap musim haji, ada satu pertanyaan jujur yang sering terlintas di benak jamaah Indonesia: mengapa ibadah yang seharusnya menenangkan justru terasa melelahkan sejak dari urusan teknis? Mulai dari jarak pemondokan yang jauh, transportasi yang tidak selalu ramah lansia, hingga kebingungan jamaah yang tersesat di tengah lautan manusia. Semua itu bukan cerita baru. Ia berulang, nyaris menjadi “tradisi tahunan”.

Di tengah persoalan itu, wacana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Mekkah mencuat. Sebagian menyambutnya dengan harapan, sebagian lagi merespons dengan skeptis. Ada yang khawatir soal anggaran, ada pula yang mempertanyakan urgensinya. Namun barangkali pertanyaan paling jujur adalah: bukankah sudah seharusnya jamaah Indonesia merasa lebih “diurus” oleh negerinya sendiri saat berada di Tanah Suci?

Indonesia adalah negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia. Ironisnya, jamaah terbesar justru sering berada dalam posisi paling rentan. Mayoritas jamaah kita adalah lansia, banyak yang baru pertama kali ke luar negeri, dan tidak sedikit yang memiliki keterbatasan fisik maupun bahasa. Dalam kondisi seperti itu, sistem pelayanan yang tersebar dan tidak terintegrasi jelas menyulitkan.

Saya merasakan langsung situasi tersebut ketika menempuh studi di Universitas Islam Madinah dan mendapat kesempatan menjadi petugas haji PPIH Arab Saudi. Dari pengalaman lapangan itu, saya menyaksikan betapa beratnya tugas petugas ketika jamaah terpencar di banyak titik pemondokan. Ketika satu jamaah sakit, tersesat, atau tertinggal rombongan, penanganannya sering kali terhambat oleh jarak dan koordinasi. Masalahnya bukan pada kurangnya niat baik petugas, melainkan pada sistem yang belum sepenuhnya memihak jamaah.

Ketika saya jadi petugas haji memantau langsung di area Ka'bah I Foto Pribadi

Di sinilah gagasan Kampung Haji menemukan relevansinya. Kampung Haji bukan sekadar kawasan penginapan, melainkan konsep pelayanan terintegrasi. Jamaah tinggal di satu kawasan yang relatif terpusat, dengan akses mudah ke layanan kesehatan, konsumsi, informasi, serta petugas. Dalam kondisi seperti ini, jamaah tidak lagi merasa asing dan terombang-ambing, tetapi serasa berada di lingkungan yang dikenalnya.

“Serasa di rumah sendiri” bukan berarti memanjakan jamaah secara berlebihan. Justru sebaliknya, ini soal memberikan rasa aman dan kepastian. Ketika jamaah tahu ke mana harus bertanya, ke mana harus berobat, dan siapa yang bertanggung jawab, energi mereka bisa difokuskan pada ibadah, bukan pada kebingungan teknis.

Tentu, kritik terhadap Kampung Haji tetap perlu disampaikan. Jangan sampai ia berubah menjadi proyek fisik semata, megah secara bangunan tapi minim dampak. Kampung Haji tidak boleh menjadi simbol prestise, apalagi ajang pemborosan. Ukurannya sederhana: apakah jamaah lebih nyaman, lebih aman, dan lebih khusyuk? Jika jawabannya tidak, maka konsep ini perlu dievaluasi ulang.

Karena itu, perencanaan Kampung Haji harus berbasis pengalaman lapangan. Suara petugas haji, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, dan jamaah sendiri harus menjadi fondasi. Tanpa itu, Kampung Haji hanya akan menjadi solusi di atas kertas. Padahal, persoalan haji Indonesia sudah terlalu lama membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar wacana.

Dari sudut pandang pelayanan publik, Kampung Haji justru bisa menjadi bentuk kehadiran negara yang lebih konkret. Negara tidak hanya mengatur kuota dan keberangkatan, tetapi hadir langsung dalam memastikan kenyamanan dan keselamatan warganya. Dalam ibadah yang menguras fisik dan emosi seperti haji, kehadiran negara yang terasa manusiawi adalah kebutuhan, bukan kemewahan.

Lebih dari itu, Kampung Haji juga menyimpan nilai simbolik yang positif. Ia menunjukkan bahwa negara serius melayani tamu-tamu Allah, bukan sekadar mengirim dan menjemput jamaah. Bagi jamaah, rasa “diurus” dan “diperhatikan” itu sering kali lebih berharga daripada fasilitas mewah.

Pada akhirnya, Kampung Haji harus dikembalikan pada tujuan dasarnya: melayani jamaah, bukan membangun citra. Jika benar-benar dirancang untuk menjawab kebutuhan jamaah Indonesia yang khas, maka wacana ini layak diperjuangkan. Namun jika hanya menjadi proyek besar tanpa ruh pelayanan, kritik publik justru menjadi keharusan.

Haji adalah puncak ibadah, perjalanan spiritual yang seharusnya menguatkan iman dan ketenangan batin. Sudah saatnya jamaah Indonesia tidak lagi merasa sendirian di Tanah Suci. Jika Kampung Haji mampu membuat mereka serasa di rumah sendiri, aman, tenang, dan terlayani, maka ia bukan sekadar bangunan, melainkan ikhtiar kemanusiaan yang patut diapresiasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image