Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Livinka Kaisha

Pekerja Anak di Industri Kobalt Kongo: Krisis Kemanusiaan dalam Rantai Pasok Global

Lainnnya | 2026-01-07 17:50:20
sumber: ilustrasi pribadi

Republik Demokratik Kongo merupakan salah satu negara dengan sumber daya mineral terbesar di dunia, terutama kobalt, tembaga, colton, dan lain-lain. Di mana industri kobalt yang ada di Kongo telah menjadi sorotan dunia karena perannya sebagai pemasok utama bahan baku penting bagi teknologi modern, mulai dari baaterai ponsel, laptop, hingga kendaraan listrik. Dibalik kekayaan sumber daya dan juga posisi strategis Kongo ini, ada permasalahan kemanusiaan serius yang bersembunyi dibaliknya yaitu eksploitasi pekerja anak yang terjadi di sektor pertambangan. Eksploitasi yang terjadi ini bukan hanya menggambarkan permaslaahan ekonomi dan sosial, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keterhubungan antara kebutuhan global dan penderitaan masyarakat yang paling rentan.

Pekerja Anak di Industri Kobalt Kongo

Pekerja anak merujuk pada penggunaan tenaga kerja anak dalam pekerjaan apa pun yang merampas hak anak untuk menikmati masa kanak-kanak, menggangu kemampuan mereka untuk mengikuti pendidikan formal, atau yang bersifat berbahaya dan merugikan secara mental, fisik, sosial, atau moral (OECD, 2019).

Laporan UNICEF dan Amensty Internatinal memperkirakan sekitar 40.000 anak di bawah usia 18 tahun yang ada di Kongo terlibat dalam kegiatan penambangan kobalt. anak-anak tersebut bekerja dalam kondisi yang tidak aman, tanpa perlindungan dasar, dan rentan terhadap berbagai risiko yang ada di sector pertambangan tersebut.

Kekayaan yang dimiliki Kongo sebagai negara yang memiliki cadangan mineral terbesar di dunia ini tidak secara otomatis memberikan kesejateraan bagi rakyatnya, melainkan hal ini menyebabkan ketimpangan ekonomi, lemahnya pengawasan, dan juga minimnya altermnatif pekerjaan bagi keluarha miuskin yang justru makin memperburuk praktik eksploitasi ini. Karena kekayaan mineral Kongo sangat diminati di pasar internasional, hal ini menyebabkan tercipanya paradoks yaitu makin tinggi permintaan global, makin besar risiko eksploitasi di tingkat lokal.

Aktor, Lokasi, dan Periode Terjadinya Masalah

Permasalahangan mengenai pekerja anak yadi di industry pertambangan Kongo ini melibatkan sejumlah actor yang saling berkaitan dalam rantai pasok mineral ini. Pihak yang paling terdampak tentunya merupakan anak-anak dan keluarga miskin. Selain itu perusahaan tambang, entah itu lokal atau multinasional, dan pemerintahan Kongon tentunya juga terlibat dalam permaslaahn yang terjadi ini. Kemiskinan ekstrem yang terjadi menyebabkan keluarga untuk mendoorng anak-anak mereka untuk ikut serta dalam aktivitas pertambangan demi menghidupi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak juga sering kali dipekerjakan oleh penambang rakyat (artisanal mining) karena biaya tenaga kerjanya lebih rendah dan pengawasannya kurang ketat.

Hal ini juga berdampak pada perusahaan pertambangan berskala besar, terutama ketika mereka membeli kobalt dari sumber-sumber tidak resmi di mana penggunaan tenaga kerja anak tidak dapat dijamin. Meskipun pemerintah Kongo memiliki undang-undang yang mengatur tentang tenaga kerja anak, korupsi, tata kelola yang buruk, dan kekurangan sumber daya seringkali membuatnya sulit untuk memantau penegakan hukum.

Di tingkat global, perusahaan terknologi dan manufaktur baterai menjadi bagian dari rantai pasok yang terus meningkatkan permintaan kobalt. Walaupun mereka tidak terlibat secara langsung, tetapi permintaan tinggi dari negara-negara maju tentunya memperngaruhi besarnya produksi tambang yang kemudian berdampak pada meningkatnya eksploitasi di industry pertambangan.

Secara geografis, praktik pekerja anak yang terjadi di Kongo ini banyak ditemukan di provinsi Lualaba dan Haut-Katanga yang merupakan daerah dari pusat pertambangan kobalt yang ada di Kongo. Isu inin sudah terjadi sejak awal tahun 200-an tetapi semakin menonjol sejak tahun 2010-an ketika kebutuhan global terhadap baterai kendaraan listrik meningkat secraa drastis. Lonjakan permintaan ini menyebabkan luasnya tekanan ekonomi yang akhirnya memperparah kondisi anak-anak yang ada di wilayah industry pertambangan.

Mengapa Eksploitasi Ini Terus Berlangsung?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan ekspolitasi yang terjadi di industry pertambangan di Kongo masih berlakngsung sampai pada saat ini yaitu :

1. Kemiskinan ekstrem

Banyak keluarga yang mengalami kemiskinan ekstrem, di mana mereka tidak memiiki sumber penghasian lain sehingga memperkerjakan anak mereka untuk bisa menambah penghasilan untuk memnehi kebutuhan hidup sheari-hari

2. Akses pendidikan yang masih minim

Biaya sekolah, jarak, dan juga fasilitas yang buruk menyebabkan anak-anak tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan mereka.

3. Lemahnya regulasi dan pengawasan

Walaupun terdapat undang-undang terkait dengan pekerja anak, namun nyatanya peraturan tersebut tidak ditegakkan secara konsisten dan kiurangnya pengawasan karena korupsi dan lemahnya struktur pemerintahan lokal.

4. Permintaan global yang terus meningkat

Pada zaman yang makin maju ini, dunia membutuhkan kobalt untukn produksi teknologi modern. Tekanan tinggi terhadap ranmtai pasok ini menimbulkan celah bagi praktik eksploitasi.

Upaya Penyelesaian Isu Pekerja Anak di Kongo

Upaya untuk mengatasi praktik eksploitasi pekerja anak yang ada di sector kobalt Kongon tentunya membnutuhkan pendekatan multidimensi yang mana mencakup aspek ekonomi, sosial, hukum, dan juga teroaling penting yaitu kerja sama internasional.

1. Pendekatan Ekonomi

Dalam pendekatan ini, pemerintah dan juga organisasi internaisonal perlu bekerja sama untuk membuat program mengenai pemberdayaan ekonomi keluarga serta menciptakan pekerjaan layak bagi orang dewasa agar anak-anak tidak perlu bekerja sebelum waktunya.

2. Peningkatkan akses pendidikan dan perlindungan sosal

Menyediakan sekolah gratis dan membangun fasilitas pendidikan yang memadai dan berbasis komunitas, di mana hal ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi pekerja anak. Selain itu juga program bantuan tunai, layanan Kesehatan juga diperlukan untuk meningkatkan ketahanan keluarga terhadap tekanan ekonomi.

3. Reformasi regulasi, penegakan hukum, dan perbaikan tata kelola pemerintah

Penegakan hukum terkait isu ini harus diprioritaskan untuk memastikan bagi perusahaan maupun pelaku tambang illegal tidak memperkerjakan anak. Bukan hanya itu saja, tetapi penguatan terhadap kapasitas innstitusi lokal dan pemberantasan korupsi juga penting dan ini menjadi kunci dari keberhasilan perubahan jangka panjang.

4. Transparasi rantai pasok global

Perusahaan-perusaahaan teknologi yang membutuhkan kobalt harus memastikan bahwa rantai pasok mereka ini bebas dari praktik pekerja ank melalui sertifikasi, audit, dan juga kerja sama dnegan lembaga independent.

Isu mengenai permasalahan pekerja anak yqang ada di sector kobalt Kongo menunjukkan bahwa bukan hanya sekadar persoalan lokal, tetapi merupakan bagian dari dinamika global yang melibatkan banyak actor dan kepentingan. Hal ini juga menunjukkan bahwa kemajuan teknologi di dunia ini masih dibangun di atas ketidakadilan. Dengan melalui kerja sama pemerintah, perusahaan, dan komunitas internasional, rantai pasok kobalt yang etis dan aman bagi anak-anak di Kongo dapat diwujdukan. Perubahan yang terjadi mungkin tidak cepat, tetapi langkah bersama merupakan kunmci untuk melindungi masa depan anak-anak di Kongo.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image