Banjir Sumatera dan Krisis Kepercayaan Informasi
Lainnnya | 2026-01-06 00:06:59
Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir. Genangan air tidak hanya merendam rumah warga dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan permasalahan lain yang tak kalah seriusnya, yaitu kekacauan informasi di ruang publik. Dalam situasi darurat seperti ini, masyarakat tidak hanya dihadapkan pada bencana alam, tetapi juga dengan informasi banjir yang seringkali tidak jelas sumber dan kebenarannya.
Berbagai pemberitaan media nasional serta laporan dari lembaga kebencanaan menunjukkan bahwa banjir yang terjadi berdampak luas terhadap kehidupan sosial masyarakat. Namun, di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, banyak kabar simpang siur yang justru memperkeruh keadaan. Informasi yang tidak terverifikasi, potongan video lama, hingga opini yang dibesar-besarkan kerap menyebar lebih cepat dibandingkan informasi resmi dari pihak berwenang. Kondisi ini menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, bahkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi yang seharusnya menjadi rujukan utama.
Dalam perspektif komunikasi sosiologis, bencana tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang dikonstruksi melalui proses komunikasi. Cara media memberitakan banjir, bagaimana pemerintah menyampaikan informasi, serta bagaimana masyarakat memaknai pesan tersebut sangat mempengaruhi respon sosial yang muncul. Ketika komunikasi masyarakat tidak berjalan dengan baik, bencana alam dapat berkembang menjadi bencana komunikasi yang memperparah dampak sosialnya.
Fenomena disinformasi yang muncul dalam peristiwa banjir di Sumatera dapat dijelaskan melalui perspektif komunikasi sosiologis, khususnya teori konstruksi realitas sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial tidak terbentuk secara objektif semata, melainkan dikonstruksi melalui proses komunikasi dan interaksi sosial. Informasi yang disampaikan secara berulang, meskipun tidak sepenuhnya benar, dapat membentuk persepsi kolektif yang kemudian dianggap sebagai kenyataan oleh masyarakat. Dalam konteks banjir, informasi yang dilebih-lebihkan mengenai kondisi jalan, jembatan, dan ketinggian air membentuk realitas sosial yang menimbulkan kekhawatiran, mempengaruhi keputusan pengambilan, serta menghambat mobilitas masyarakat, meskipun kondisi faktual di lapangan tidak selalu sesuai dengan informasi yang beredar.
Hoaks dan disinformasi saat bencana tidak selalu lahir dari niat jahat. Banyak orang menyebarkan kabar karena ingin membantu atau memperingatkan pihak lain. Namun, niat baik tanpa verifikasi justru dapat menimbulkan dampak sebaliknya. Informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan, menghambat mobilitas, serta mengganggu upaya penanganan bencana di lapangan.
Pengalaman penulis yang terdampak langsung oleh bencana banjir di Sumatera menunjukkan bagaimana disinformasi bekerja secara nyata. Dalam perjalanan yang terhenti hingga beberapa hari, tersebar berbagai kabar mengenai kondisi jalan dan jembatan. Ada yang mengatakan jalanan rusak parah dan tidak dapat dilalui, bahkan ada informasi yang menyebutkan jembatan telah runtuh sehingga kendaraan yang sama sekali tidak bisa lewat. Kabar-kabar tersebut menyebar dengan cepat melalui media sosial dan percakapan antarorang, menimbulkan kekhawatiran dan membuat perjalanan semakin tertunda, sekaligus menjadi refleksi pribadi informasi penulis tentang betapa kuatnya pengaruh tidak resmi dalam membentuk rasa ketakutan dan keputusan masyarakat di tengah bencana.
Setelah ditelusuri langsung, kondisi di lapangan ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan informasi yang beredar. Memang terdapat kerusakan jalan di beberapa titik, tetapi tidak ada separah yang dijelaskan, dan tidak ditemukan jembatan yang benar-benar putus. Namun, informasi yang lebih-lebihkan tersebut sudah mempengaruhi keputusan dan psikologis para pelintas jalan. Pengalaman yang terjebak dalam perjalanan tersebut membuat saya menyadari bahwa ketakutan sering kali muncul bukan karena kondisi di lapangan, melainkan karena informasi yang keliru.
Disinformasi tidak hanya datang dari media sosial, tetapi juga melalui komunikasi lisan dari mulut ke mulut. Dalam perjalanan, penulis dan rombongan beberapa kali menerima kabar bahwa ketinggian udara di depan mencapai dada orang dewasa sehingga kendaraan tidak mungkin melintas. Informasi ini menyebar dengan cepat dan menciptakan ketakutan baru. Kenyataannya, setelah dicek lebih lanjut, ketinggian air memang ada, tetapi tidak setinggi yang dikabarkan. Meski begitu, berita yang tidak akurat tersebut sudah cukup untuk menghentikan kendaraan dan menghambat perjalanan banyak orang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, realitas sosial sering kali dibentuk oleh informasi yang dipercaya secara kolektif, bukan semata-mata oleh kondisi tujuan di lapangan. Dalam kajian komunikasi sosiologis, hal ini berkaitan dengan konstruksi realitas sosial, di mana persepsi bersama dapat mempengaruhi tindakan individu dan kelompok. Ketika disinformasi mendominasi, keputusan yang diambil masyarakat lebih didasarkan pada rasa takut dibandingkan dengan fakta.
Dampak disinformasi juga terlihat pada melemahnya kepercayaan masyarakat. Ketika masyarakat kesulitan membedakan mana informasi yang benar dan mana yang keliru, kepercayaan terhadap pemerintah dan massa media ikut tergerus. Sebagian masyarakat lebih memilih mempercayai kabar yang beredar di media sosial atau cerita dari orang lain, meskipun sumbernya tidak jelas. Fragmentasi kepercayaan ini berpotensi memicu solidaritas sosial yang justru sangat dibutuhkan saat terjadi bencana.
Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait juga dituntut untuk lebih aktif dan transparan dalam menyampaikan informasi kebencanaan. Informasi resmi yang lambat atau kurang jelas membuka bagi ruang lingkup dan rumor. Dalam konteks ini, komunikasi yang efektif menjadi bagian penting dari mitigasi bencana. Bukan hanya infrastruktur fisik yang perlu disiapkan, namun juga strategi komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat secara luas dan tepat sasaran.
Namun, menjaga informasi tetap benar bukan hanya tugas pemerintah dan media. Masyarakat juga memiliki peran penting. Di era digital, setiap orang bisa menjadi penyebar informasi. Oleh karena itu, keputusan untuk tidak langsung membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya merupakan bentuk kepedulian yang nyata, terutama di tengah situasi bencana.
Bagi pelajar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa peran kita tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan yang dimiliki perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap lebih kritis, memeriksa kebenaran, dan membantu kebenaran kabar yang salah di lingkungan sekitar adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak disinformasi saat bencana.
Oleh karena itu, banjir di Sumatera tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan alam. Tanpa pengelolaan komunikasi yang baik, bencana fisik akan selalu disertai dengan bencana sosial berupa ketakutan, disinformasi, dan melemahnya kepercayaan masyarakat. Diperlukan kesadaran bersama, baik dari media, pemerintah, maupun masyarakat, untuk membangun ekosistem komunikasi yang bertanggung jawab agar dampak bencana tidak semakin meluas.
Aisha Kania Armadani Lubis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh, Angkatan 2025.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
