Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dinda Arinea

Menari dalam Dunia Bisu: Labirin Absurditas Arifin C. Noer

Dunia sastra | 2026-01-04 22:31:37

Pernahkah kita merasa lelah mengejar sesuatu yang tak pasti, atau justru merasa hampa di tengah gelimang harta? Jika ya, barangkali kita sedang bersentuhan dengan apa yang disebut Albert Camus sebagai Absurditas, sebuah kondisi di mana manusia haus akan makna, namun dunia hanya memberikan kesunyian.

Dalam khazanah sastra Indonesia, mendiang Arifin C. Noer adalah empu yang paling piawai memotret keganjilan ini. Lewat dua naskah dramanya, Sumur Tanpa Dasar dan Kapai-Kapai, ia menunjukkan bahwa absurditas punya dua wajah yang berbeda namun sama-sama getir.

Dalam naskah Sumur Tanpa Dasar, kami bertemu Jumena Martawangsa. Ia kaya raya, tapi hidupnya dilingkupi ketakutan siapa akan kematian dan ketidakpercayaan pada pun. Absurditas Jumena adalah absurditas reflektif. Ia terlalu banyak berpikir, terlalu dalam menafsirkan iman, hingga ia terjebak dalam “sumur” pikiran sendiri yang tak berujung. Bagi Jumena, hidup adalah paradoks, tersisip dalam dialog "Saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang."

Berbeda dengan Jumena, tokoh Abu dalam naskah Kapai-Kapai mewakili absurditas sosial. Abu adalah pekerja kecil yang hidupnya diatur oleh mesin pabrik dan teriakan majikan. Jika Jumena menderita karena “terlalu sadar”, Abu justru menderita karena “kurang sadar”. Ia melarikan diri dari kemiskinan lewat dongeng-dongeng Emak dan obsesi pada "Cermin Tipu Daya". Abu terus berharap pada kebahagiaan semu yang tak pernah datang, sebuah lingkaran nasib yang terus berputar tanpa akhir.

Melalui kacamata Camus, kedua naskah ini bertemu pada satu titik, yaitu dunia yang bisu. Baik si kaya Jumena maupun si miskin Abu, keduanya sama-sama gagal menemukan makna yang hakiki. Hidup mereka seperti mitos Sisifus yang mengutuk manusia mendorong batu ke atas bukit hanya untuk melihatnya jatuh kembali. Jumena terjepit oleh kegelisahan batin (eksistensial), sedangkan Abu terjepit oleh sistem yang menindas (struktural).

Membaca naskah Arifin C. Noer hari ini seperti melihat cermin. Di era media sosial yang serba cepat, kita sering menjadi Abu yang terobsesi pada kebahagiaan semu di layar ponsel. Di saat yang sama, kita bisa menjadi Jumena yang merasa kesepian dan hampa di tengah hiruk-pikuk pencapaian materi.

Arifin C. Noer tidak memberikan jawaban. Ia hanya menunjukkan bahwa hidup memang tidak masuk akal. Namun, seperti kata Camus, kesadaran akan absurditas bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah pemberontakan, untuk tetap hidup dan berdaya meski dunia tak memberikan jawaban apa pun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image