Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mia Risnawati

Perkembangan Sastra di Era Digital

Sastra | 2026-01-04 21:15:02

Kata sastra dahulu ditulis sastera, tetapi seiring perkembangan bahasa kemudian ditulis sastra. Kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata cas dan tambahan -tra. Kata cas artinya ‘mengajar', sedangkan akhiran -tra artinya ‘alat'. Jadi, castra artinya ‘alat untuk mengajar' (Soedjarwo,2007:65).

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara manusia berinteraksi dengan sastra. Di era digital, sastra tidak lagi terbatas pada halaman buku atau kolom koran. Ia berpindah ke layar gawai, hidup di media sosial, blog, dan berbagai platform baca daring seperti wattpad,Fizzo,NovelToon,WebToon,dan masih banyak platform daring lainnya.

Di era digital ini membuat sastra semakin mudah di akses, Siapa pun kapan aja dan dimana saja, Dan siapapun bisa menjadi penulis dan pembaca dalam waktu yang bersamaan. Cerpen, puisi, dan novel dapat di publikasikan tanpa melewati proses seleksi penerbit yang panjang. Hal ini membuka ruang bagi suara suara baru yang tadinya terpinggirkan, Generasi muda pun lebih berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya sastra digital.

Namun di era kemudahan ini ada tantangan tersendiri bagi sastra, Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sastra digital adalah bagaimana mempertahankan esensinya di tengah maraknya budaya konsumsi konten instan. Dalam dunia yang didominasi oleh media sosial, banyak orang lebih tertarik pada tulisan yang singkat, padat, dan cepat dikonsumsi, sehingga karya sastra yang panjang dan kaya akan makna sering kali terabaikan. Fenomena ini berpotensi mengurangi apresiasi terhadap karya sastra yang lebih kompleks, karena pembaca cenderung mencari hiburan yang instan daripada refleksi mendalam yang biasanya ditawarkan oleh sastra.

Perkembangan sastra di era digital menunjukkan adanya perubahan besar dalam medium dan cara penyebarannya. Teknologi digital membuat sastra semakin mudah diakses dan membuka peluang luas bagi siapa pun untuk menulis serta membaca karya sastra. Namun, di balik kemudahan tersebut, sastra juga menghadapi tantangan berupa budaya instan yang berpotensi menggeser kedalaman makna dan proses apresiasi. Oleh karena itu, sastra di era digital perlu terus beradaptasi tanpa kehilangan esensinya sebagai sarana pembelajaran, refleksi, dan pembentukan kepekaan manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image