Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Melinda Amalia putri

Sosiolinguistik

Sastra | 2025-12-18 15:03:23

Berdasarkan data berupa dua komentar pada kolom komentar TikTok akun Aya Balqis yang membahas isu perselingkuhan Yuka dan Jule, ditemukan adanya perbedaan penggunaan bahasa yang cukup jelas antara pengguna perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek pilihan kata, struktur kalimat, penggunaan simbol, serta muatan emosional dalam bahasa yang digunakan. Komentar pertama diduga ditulis oleh pengguna perempuan. Hal ini terlihat dari gaya bahasa yang sangat ekspresif dan emosional.

Komentar tersebut menggunakan huruf kapital secara dominan, tanda seru berulang, serta pemanjangan kata seperti “AYAAAA!!!”, “YUKAA GAPANTESSS”, “KAMUUU”, dan “BERUBAHHH!!!”. Dalam kajian sosiolinguistik, penggunaan bentuk tersebut menunjukkan intensitas emosi yang tinggi, seperti kemarahan, kepedulian, dan keprihatinan. Bahasa yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai penyampai opini, tetapi juga sebagai sarana ekspresi perasaan dan solidaritas sosial. Selain itu, komentar perempuan tersebut mengandung pesan moral dan dukungan emosional, seperti “INGET SELINGKUH ITU TABIATT” dan “LOVE YOURSELF GURLLL”. Ungkapan ini menunjukkan kecenderungan perempuan dalam membangun relasi interpersonal melalui bahasa. Penutur tidak hanya mengkritik pelaku perselingkuhan, tetapi juga memberikan dorongan psikologis kepada korban.

Penggunaan bahasa campuran Indonesia–Inggris (code-mixing) juga memperkuat kesan emosional dan kedekatan sosial, yang umum ditemukan dalam komunikasi perempuan di media sosial. Sebaliknya, komentar kedua yang ditulis oleh pengguna laki-laki menunjukkan karakteristik bahasa yang lebih singkat, langsung, dan minim elaborasi emosional. Komentar tersebut berbunyi singkat dan fokus pada konfirmasi fakta, yaitu “JULE SUMPAH YA LU BNR2”. Struktur kalimatnya sederhana, tanpa penjelasan panjang atau pesan moral yang eksplisit. Hal ini mencerminkan kecenderungan laki-laki dalam menggunakan bahasa secara informatif dan berorientasi pada kejelasan makna. Meskipun terdapat penggunaan emotikon menangis, ekspresi emosi dalam komentar laki-laki tetap terbatas dan tidak dieksplorasi secara verbal. Emotikon tersebut berfungsi sebagai penanda emosi yang singkat, bukan sebagai uraian perasaan yang mendalam. Dalam perspektif sosiolinguistik, hal ini menunjukkan bahwa laki-laki cenderung mengekspresikan emosi secara implisit dan ekonomis dalam berbahasa, terutama di ruang publik seperti media sosial.

Perbedaan kedua komentar ini mencerminkan konstruksi sosial terhadap gender dalam masyarakat. Perempuan diasosiasikan dengan peran emosional, empatik, dan suportif, sehingga bahasa yang digunakan lebih panjang, ekspresif, dan persuasif. Sementara itu, laki-laki diasosiasikan dengan rasionalitas dan ketegasan, yang tercermin dalam penggunaan bahasa yang ringkas dan langsung pada inti persoalan. Dengan demikian, hasil analisis ini memperkuat pandangan sosiolinguistik bahwa gender memengaruhi cara seseorang menggunakan bahasa, khususnya dalam konteks media sosial. Kolom komentar TikTok tidak hanya menjadi ruang interaksi digital, tetapi juga menjadi cerminan pola komunikasi gender dalam masyarakat modern, terutama dalam merespons isu sensitif seperti perselingkuhan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image