Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rina Zullvia

Ketika Puisi Melawan Kekuasaan: Kritik Sosial dalam Bunga dan Tembok dan Kau

Sastra | 2026-01-04 00:39:49
Sumber foto: Pixabay

Sastra sering dipandang sebagai gambaran dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Melalui karya sastra, pengarang menyampaikan realitas sosial yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, puisi kerap menjadi wadah bagi pengarang untuk menyampaikan kritik sosial terhadap kondisi masyarakat yang dianggap tidak adil.

Kritik sosial dilakukan dalam berbagai cara, sastra sebagai salah satu alat atau media untuk kritik sosial. Dengan demikian, puisi tidak hanya hadir sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk merekam dan menyuarakan realitas sosial yang dialami masyarakat. Kritik sosial dalam puisi muncul dari kegelisahan pengarang terhadap berbagai persoalan sosial. Sejalan dengan itu, Damono (1984:22) menyatakan bahwa sastra merupakan cermin persoalan sosial dalam masyarakat, terutama ketika pengarang memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Dari perspektif Marxis, karya sastra dipandang sebagai cerminan dari sistem sosial yang ada. Karya sastra yang bersifat realis seharusnya mampu mengungkap pola-pola kontradiksi yang terjadi dalam struktur sosial tertentu.

Kritik sosial banyak ditemukan dalam karya para penyair yang berpihak pada rakyat kecil. Salah satunya adalah Wiji Thukul, penyair dan aktivis pada masa Orde Baru yang dikenal melalui puisi-puisinya yang bersifat kritis terhadap kekuasaan. Puisi Bunga dan Tembok merepresentasikan pertentangan antara rakyat dan kekuasaan melalui simbol bunga dan tembok, yang menggambarkan penindasan serta hilangnya kebebasan. Selain Wiji Thukul, kritik sosial juga tampak dalam puisi karya Nuke Hanasasmit. Melalui puisi Kau, Nuke Hanasasmit menyuarakan protes terhadap ketimpangan sosial, kemiskinan, dan ketidakpedulian pihak berkuasa terhadap penderitaan masyarakat. Kedua puisi ini menjadi menarik untuk dibandingkan karena walaupun mengangkat tema yang serupa, masing-masing memiliki cara penyampaian dan gaya yang berbeda.

Berdasarkan kesamaan dan perbedaan yang ditemukan dalam puisi tersebut, penelitian ini menggunakan metode perbandingan sastra untuk membandingkan puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan puisi Kau karya Nuke Hanasasmit. Metode perbandingan, menurut Suroso dkk. (2009:94), bertujuan untuk memahami makna karya sastra dengan melihat persamaan dan perbedaan tema, struktur, dan gaya pengungkapan. Analisis perbandingan ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra Marxis, yang menekankan hubungan karya sastra dengan struktur sosial serta lembaga-lembaga kemasyarakatan. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai cerminan konflik dan kontradiksi yang muncul dalam masyarakat. Berdasarkan kerangka tersebut, hasil analisis menunjukkan bahwa kedua puisi mengandung tiga bentuk kritik sosial, yaitu politik, ekonomi, dan moral. Kritik sosial ini dianalisis dengan mengacu pada permasalahan nyata yang terjadi dalam masyarakat, sehingga kajian terhadap puisi tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga kontekstual.

Perbandingan Kritik Sosial pada Puisi “Bunga dan Tembok” dan Puisi “Kau”

Kritik Sosial Politik

Manusia dapat disebut sebagai makhluk berpolitik karena memiliki kemampuan untuk mengelola kesejahteraan, menjaga keamanan, serta mengatur sistem pemerintahan dalam kehidupan berkelompok. Manusia juga mampu menyelenggarakan kehidupan bernegara dan pemerintahan. Untuk menjalankan hal tersebut, diperlukan mekanisme politik yang tepat agar tidak muncul ketimpangan-ketimpangan yang dapat merugikan masyarakat. Namun, ketika mekanisme politik tidak berjalan sebagaimana mestinya, muncul berbagai permasalahan seperti penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan terhadap masyarakat. Kondisi inilah yang kemudian menjadi objek kritik sosial politik yang tercermin dalam puisi sebagai berikut:

Puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul

engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

jika kami bunga engkau adalah tembok

di mana pun - tirani harus tumbang!

Dalam kutipan puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul, kritik sosial politik terlihat sangat jelas. Penyair menggunakan simbol “bunga” sebagai rakyat kecil dan “tembok” sebagai penguasa atau pemerintah. Bunga digambarkan sebagai sesuatu yang tidak dikehendaki tumbuh karena keberadaannya dianggap mengganggu pembangunan. Hal ini tampak pada larik yang menyebutkan pembangunan rumah, jalan raya, dan pagar besi yang justru merampas tanah. Kritik ini menggambarkan kebijakan pemerintah yang lebih mementingkan pembangunan fisik dibandingkan kesejahteraan masyarakat. Puncak kritik politik dalam puisi ini terlihat pada pernyataan “tirani harus tumbang” yang menunjukkan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan yang menindas.

Puisi “Kau” Karya Nuke Hanasasmit

Kau curi hak kami Kau biarkan kami menderita

Seakan menari-nari di atas penderitaan kami

Sudah tiadakah hati? Sudah tiadakah mata?

Sementara itu, dalam puisi Kau karya Nuke Hanasasmit, kritik sosial politik disampaikan secara lebih emosional. Penyair menggunakan kata “kau” untuk menyebut pihak yang berkuasa atau memiliki kekuatan, yang telah merampas hak rakyat dan membiarkan mereka hidup dalam penderitaan. Kritik dalam puisi ini tidak secara langsung menyoroti sistem atau struktur politik, tetapi lebih menekankan sikap penguasa yang tidak peduli terhadap jerih payah rakyat kecil. Pertanyaan seperti “Sudah tiadakah hati?” dan “Sudah tiadakah mata?” menjadi bentuk sindiran terhadap pemimpin yang tidak memiliki empati.

Kritik Sosial Ekonomi

Masalah ekonomi merupakan persoalan yang berkaitan dengan cara manusia memperoleh dan memenuhi kebutuhan materi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia, yang jumlahnya terbatas, khususnya sumber daya yang bersifat langka. Dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit, tergambar adanya permasalahan sosial ekonomi yang dialami masyarakat akibat kebijakan dan sikap pihak berkuasa, sebagaimana akan dibahas berikut ini.

Puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul

engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

Kutipan tersebut menunjukkan kritik sosial ekonomi melalui gambaran perampasan tanah sebagai sumber penghidupan rakyat. Tanah merupakan sumber daya ekonomi yang penting bagi masyarakat, namun dalam puisi ini justru dirampas demi kepentingan pembangunan. Akibatnya, rakyat kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Ungkapan “dirontokkan di bumi kami sendiri” menegaskan adanya pemiskinan struktural, yaitu kondisi ketika masyarakat tersingkir dari sumber daya ekonomi akibat kebijakan yang lebih menguntungkan pihak berkuasa. Puisi ini mengkritik ketimpangan ekonomi antara penguasa dan rakyat kecil yang menjadi korban pembangunan.

Puisi “Kau” Karya Nuke Hanasasmit

Kami mencoba kuat di atas kekurangan Tak lelah banting tulang Apa tak kau lihat keringat kami? Keletihan kami Hanya demi sesuap nasi

Sedangkan, pada puisi “Kau” menggambarkan kritik sosial ekonomi melalui potret kehidupan rakyat kecil yang harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan dasar. Frasa “banting tulang” dan “keringat kami” menunjukkan pekerjaan untuk hidup yang berat, sedangkan “sesuap nasi” melambangkan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar. Puisi ini mengkritik kondisi ekonomi yang timpang, di mana masyarakat harus mengorbankan tenaga dan kesehatan, namun tetap hidup dalam kekurangan. Ketimpangan ini semakin jelas ketika penderitaan rakyat dihadapkan dengan sikap pihak yang “mencuri hak” dan bersikap tidak peduli terhadap kondisi mereka.

Kritik Sosial Moral

Moral adalah seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan secara baik dan benar. Nilai-nilai tersebut terbentuk melalui berbagai ajaran, seperti nasihat, aturan, dan perintah, yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui agama dan kebudayaan, sebagai pedoman tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap dan hidup. Dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit, kritik sosial moral tercermin melalui sikap penguasa yang mengabaikan nilai kemanusiaan dan penderitaan rakyat, sebagaimana akan dibahas berikut ini.

Puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul

engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

jika kami bunga engkau adalah tembok

Kutipan tersebut menunjukkan kritik sosial moral melalui gambaran sikap penguasa yang lebih mengutamakan proyek-proyek yang dilakukan untuk kepentingan pribadi para penguasa. Pembangunan seperti kawasan bisnis, perluasan wilayah, serta pembangunan seperti pada kutipan “jalan raya dan pagar besi” dilakukan tanpa disertai kepedulian terhadap nasib rakyat yang terdampak, sehingga mencerminkan hilangnya empati dan tanggung jawab moral dalam penggunaan kekuasaan. Metafora “tembok” adalah perumpamaan yang menunjukkan bahwa penguasa tidak berperan sebagai pelindung, melainkan sebagai penghalang yang membatasi kehidupan dan aspirasi rakyat. Dalam konteks ini, puisi menegaskan bahwa penindasan terhadap rakyat tidak hanya merupakan persoalan struktural, tetapi juga akibat dari lunturnya nilai-nilai moral, seperti keadilan dan kepedulian terhadap hak sesame.

Puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit

Kau curi hak kami Kau biarkan kami menderita

Seakan menari-nari di atas penderitaan kami

Kutipan tersebut menampilkan kritik sosial moral terhadap perilaku pihak berkuasa yang mengabaikan nilai kemanusiaan. Tindakan “mencuri hak” dan membiarkan penderitaan menunjukkan pelanggaran nilai moral karena tidak adanya rasa empati dan tanggung jawab sosial. Ungkapan “menari-nari di atas penderitaan kami” mempertegas sikap tidak bermoral, yakni menikmati keuntungan di tengah kesengsaraan orang lain. Puisi ini menyoroti bahwa ketidakadilan sosial terjadi akibat rusaknya nurani dan hilangnya kesadaran moral dalam relasi sosial antara yang kuat dan yang lemah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image