K.H. Siswanto: Muhasabah Menjaga Hati Tetap Hidup dan Sehat
Agama | 2026-01-03 07:38:48
Khutbah Jumat yang disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur, K.H. Siswanto, di Masjid Ad Dakwah, Pusat Dakwah Muhammadiyah Kaltim, Jumat (2/1/2026), menekankan pentingnya kesehatan hati sebagai fondasi utama kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dalam khutbahnya, Siswanto mengajak jamaah memanfaatkan momentum awal tahun untuk melakukan muhasabah diri secara jujur dan mendalam. Menurutnya, pergantian tahun bukan sekadar peristiwa rutin, melainkan kesempatan untuk memperbaiki kualitas iman dan takwa dari waktu ke waktu.
“Pergantian tahun itu hal yang biasa, tetapi yang luar biasa dan istimewa adalah ketika iman dan takwa kita semakin baik,” ujar Siswanto dalam khutbahnya. Pesan tersebut disampaikan di hadapan jamaah yang memadati Masjid Ad Dakwah dengan suasana khidmat dan penuh perhatian.
Ia kemudian mengutip Surat Al-Hasyr ayat 18, yang memerintahkan setiap orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya sebagai bekal masa depan. Ayat ini, menurutnya, menjadi landasan kuat bahwa Islam mendorong umatnya untuk terus melakukan evaluasi diri.
Dalam penjelasannya, Siswanto menegaskan bahwa muhasabah harus diarahkan ke dalam diri, bukan kepada orang lain. “Muhasabah itu fokus pada diri sendiri, bukan eksternal,” katanya. Sikap ini dinilai penting agar seseorang tidak terjebak dalam kebiasaan menyalahkan keadaan atau pihak lain atas kekurangan dirinya.
Lebih jauh, K.H. Siswanto menguraikan beberapa aspek utama yang perlu dimuhasabah. Pertama, hubungan dengan sesama manusia, apakah telah dilandasi sikap adil, empati, dan saling menghormati. Kedua, motivasi dalam beramal, apakah benar-benar karena Allah SWT atau karena kepentingan lain.
Aspek ketiga yang ditekankan adalah kondisi hati. Menurut Siswanto, hati manusia dapat berada dalam tiga keadaan, yakni hati yang sehat, hati yang sakit, atau hati yang mati. Hati yang sehat akan melahirkan keikhlasan dan kebaikan, sementara hati yang sakit cenderung mudah dikuasai iri, dengki, dan kebencian.
“Hati yang mati bahkan tidak lagi peka terhadap kebenaran dan kebaikan,” ungkapnya. Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar terus menjaga kebersihan hati melalui ibadah, dzikir, serta perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup khutbahnya, K.H. Siswanto mengajak jamaah untuk tidak menunda perbuatan baik. Ia menegaskan bahwa kebaikan yang dilakukan hari ini akan memudahkan kebaikan berikutnya dan menjadi bekal berharga ketika ajal menjemput. “Agar kita tidak menyesal ketika mati, karena kita telah berbuat baik,” pungkasnya.
Pesan khutbah ini menjadi pengingat bahwa kualitas umat tidak hanya diukur dari ritual, tetapi juga dari kejernihan hati dan akhlak dalam kehidupan sosial.(ay.1)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
