Ketika Media Sosial Menentukan Apa yang Layak Kita Percayai
Update | 2026-01-02 20:12:56
Belakangan ini, media sosial terasa semakin bising. Setiap hari selalu ada isu baru yang mendadak viral, dibicarakan serentak, lalu menghilang begitu saja. Dalam hitungan jam, opini publik terbentuk, emosi bermunculan, dan penilaian moral pun diberikan. Semua terjadi dengan sangat cepat, seolah tidak ada ruang untuk berpikir ulang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengatur fokus perhatian publik. Isu tertentu bisa tampak sangat penting bukan karena dampaknya yang besar, melainkan karena terus-menerus muncul di linimasa. Ketika satu peristiwa diulang dalam berbagai bentuk konten, dari berita hingga potongan video pendek, persepsi publik perlahan diarahkan pada sudut pandang tertentu.
Masalahnya, informasi yang beredar sering kali hadir tanpa konteks yang utuh. Potongan peristiwa dipisahkan dari latar belakangnya, lalu disajikan dengan narasi yang mudah memancing emosi. Dalam kondisi seperti ini, kemarahan dan penilaian cepat menjadi reaksi yang paling mudah muncul. Media dan algoritma secara tidak langsung mendorong pola ini karena konten yang memicu emosi cenderung lebih cepat menyebar.
Di sisi lain, peran figur populer di media sosial juga semakin kuat. Pendapat mereka sering dijadikan rujukan, bahkan sebelum fakta lengkap diketahui. Figur-figur ini berfungsi sebagai pemimpin opini yang membantu membentuk cara pandang publik. Akibatnya, komunikasi massa hari ini tidak lagi hanya berlangsung antara media dan khalayak, tetapi juga melibatkan aktor-aktor digital yang memiliki pengaruh besar.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting tentang posisi publik dalam arus informasi. Apakah benar-benar bebas memilih apa yang ingin dikonsumsi, atau justru sedang diarahkan oleh sistem yang bekerja di balik layar. Algoritma, kepentingan media, dan logika viralitas kerap membuat informasi tertentu lebih menonjol dibandingkan isu lain yang mungkin jauh lebih penting.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, ruang publik berisiko dipenuhi reaksi emosional sesaat. Isu-isu serius tenggelam oleh hiruk-pikuk viral, sementara perhatian publik terus berpindah tanpa sempat memahami akar persoalan. Media yang seharusnya membantu memperjelas realitas justru bisa memperkeruhnya jika tidak disikapi secara kritis.
Karena itu, literasi media menjadi semakin penting. Publik perlu lebih berhati-hati dalam menerima informasi, tidak langsung mempercayai apa yang ramai dibicarakan, dan berani berhenti sejenak sebelum ikut bereaksi. Di tengah derasnya arus digital, sikap kritis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar media sosial tidak sepenuhnya mengendalikan cara berpikir dan menilai realitas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
