Mahasiswa dan Tantangan Mengelola Keuangan di Era Digital
Teknologi | 2025-12-31 18:35:45
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara generasi muda mengelola keuangan. Bagi mahasiswa, perubahan ini terasa sangat nyata. Dompet digital, sistem pembayaran nontunai, hingga layanan kredit berbasis aplikasi kini menjadi bagian dari keseharian. Di satu sisi, kemudahan tersebut memberikan efisiensi. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru yang tidak sederhana.
Mahasiswa berada pada fase transisi menuju kemandirian. Pada tahap ini, kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting yang sering kali luput dari perhatian. Banyak mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan uang saku, meningkatnya biaya hidup, serta tuntutan akademik yang tidak ringan. Sayangnya, kemudahan transaksi digital kerap membuat pengeluaran terasa “tidak nyata”, karena uang tidak lagi berpindah secara fisik.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh gaya hidup digital yang dipengaruhi media sosial. Paparan terhadap tren konsumsi, mulai dari makanan, fesyen, hingga gaya hidup, secara tidak langsung mendorong mahasiswa untuk mengikuti pola konsumsi tertentu. Tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat berujung pada masalah finansial yang lebih besar.
Selain itu, kehadiran layanan kredit digital juga patut menjadi perhatian. Proses pengajuan yang cepat dan persyaratan yang mudah sering kali membuat mahasiswa kurang mempertimbangkan risiko jangka panjang. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya terbebani kewajiban pembayaran di tengah keterbatasan sumber pendapatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga pada kesehatan mental dan fokus akademik.
Di tengah situasi tersebut, kemampuan memahami dan mengelola keuangan menjadi kebutuhan mendesak. Mengelola keuangan bukan sekadar soal menabung, tetapi juga tentang menyusun prioritas, memahami risiko, dan mengambil keputusan secara rasional. Mahasiswa perlu menyadari bahwa kemudahan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan dalam bersikap.
Teknologi digital sejatinya tidak selalu membawa dampak negatif. Jika dimanfaatkan secara tepat, berbagai aplikasi pencatat keuangan, platform edukasi finansial, dan layanan investasi jangka panjang dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan pengguna dalam memahami konsekuensinya.
Institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam merespons kondisi ini. Pendidikan tidak hanya berkutat pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan hidup. Edukasi keuangan yang terintegrasi dalam lingkungan kampus dapat menjadi langkah preventif agar mahasiswa tidak terjebak dalam permasalahan finansial sejak dini.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu membangun kesadaran pribadi. Mengelola keuangan bukan tanda kekurangan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kemandirian finansial tidak selalu berarti memiliki penghasilan besar, tetapi mampu mengelola apa yang dimiliki dengan bijak.
Era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Mahasiswa yang mampu beradaptasi dan mengelola keuangan secara cerdas akan lebih siap menghadapi realitas kehidupan setelah lulus. Oleh karena itu, membangun kesadaran keuangan sejak masa kuliah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Penulis,
Rizty Nuraini
Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
