Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Annisa Larasati

Fast Fashion dan Jebakan Budaya Konsumtif di Kalangan Muda

Gaya Hidup | 2025-12-31 16:08:14
Ilustrasi Fast Fashion (Sumber: Freepik)

Di tengah gempuran media sosial, tren busana kini bergulir jauh lebih cepat daripada yang bisa kita bayangkan. Apa yang populer di layar ponsel hari ini bisa dengan mudah menjadi usang di minggu depan.

Fenomena ini melahirkan industri fast fashion yang menawarkan pakaian murah, kekinian, dan mudah didapatkan hanya dengan satu sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan dan harga yang terjangkau tersebut, tersimpan sebuah pola perilaku yang tanpa sadar membentuk kebiasaan boros di kalangan generasi muda. Membeli pakaian kini bukan lagi soal memenuhi fungsi dasar sebagai pelindung tubuh, melainkan telah bergeser menjadi upaya untuk mengejar validasi sosial agar tetap dianggap relevan dengan perkembangan zaman.

Dampak dari siklus konsumsi cepat ini tidak hanya berhenti pada masalah dompet, tetapi juga menyentuh persoalan lingkungan yang serius. Industri fast fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar yang merusak ekosistem global. Proses produksinya yang masif menguras sumber daya air dalam jumlah luar biasa dan meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi bumi. Selain itu, kecepatan produksi yang dipaksakan sering kali mengabaikan aspek kemanusiaan, seperti upah rendah dan kondisi kerja yang tidak layak bagi para buruh di balik layar. Dengan membeli pakaian yang hanya dipakai sekali atau dua kali lalu dibuang, secara tidak langsung kita ikut melanggengkan kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial tersebut.

Kebiasaan membeli pakaian secara impulsif sering kali dipicu oleh tekanan digital yang tak kasat mata. Bagi banyak anak muda, tampil dengan pakaian yang sama berulang kali di media sosial dianggap kurang menarik. Akibatnya, muncul dorongan untuk terus-menerus membeli koleksi baru demi menjaga citra diri. Promo diskon besar, flash sale, hingga kemudahan gratis ongkir di berbagai platform belanja daring semakin memperparah kondisi ini. Kita sering terjebak dalam logika bahwa membeli barang murah tidak akan menguras kantong, padahal akumulasi dari pembelian-pembelian kecil tersebut justru menciptakan kebocoran finansial yang signifikan tanpa kita sadari.

Menghadapi realita ini, sudah saatnya anak muda mulai menumbuhkan kesadaran baru dalam berpakaian. Tampil modis tidak selalu harus berarti memiliki pakaian baru setiap saat. Memilih pakaian berkualitas tinggi yang tahan lama, mendukung merek lokal yang menerapkan prinsip keberlanjutan, atau mengeksplorasi kembali koleksi yang sudah ada melalui teknik mix and match adalah langkah konkret untuk memutus rantai konsumerisme. Gaya hidup yang bijak dalam berpakaian justru menunjukkan karakter seseorang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, gaya hidup yang sejati bukan diukur dari seberapa banyak pakaian yang kita miliki di dalam lemari, melainkan dari seberapa besar kesadaran kita dalam menjaga keseimbangan antara penampilan dan kelestarian masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image