Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image 11 Fadiah Idzni Zahrina

Gen Z Mulai Ragu dengan Kuliah, Salah atau Wajar?

Pendidikan | 2025-12-31 12:44:50
Sepatu kasual hitam berdiri di persimpangan jalan membuat keputusan ke mana harus pergi - dua cara untuk memilih. (Foto: istockphoto)

Di tengah keramaian kemajuan digital, sebuah diskusi baru muncul dari kalangan Generasi Z: "Apakah kuliah masih penting di zaman ini?" Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Bagi mereka yang lahir saat informasi mengalir deras, gelar pendidikan tinggi tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya "kunci" menuju keberhasilan. Banyak yang mulai melihat peluang karier yang lebih menghargai keterampilan praktis daripada hanya sekadar berfokus pada ijazah.

Pergeseran Pemikiran: Keterampilan sebagai Mata Uang Baru

Dunia kerja saat ini mengalami perubahan besar. Perusahaan kini lebih memperhatikan portofolio, pengalaman nyata, dan keterampilan yang terverifikasi ketimbang nilai-nilai di transkrip akademik.Terutama di bidang kreatif dan teknologi, peluang bagi mereka yang belajar secara mandiri sangat terbuka lebar. Kejadian ini mendorong Generasi Z untuk menyadari bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas formal selama empat tahun.

Pertimbangan Praktis antara Biaya dan Investasi Masa Depan

Faktor ekonomi menjadi alasan yang sulit dibantah. Mengambil gelar sarjana membutuhkan investasi waktu dan uang yang cukup besar. Di sisi lain, ketidakpastian pekerjaan setelah lulus sering kali menghantui pikiran mereka.Tidak mengherankan jika Generasi Z menjadi lebih selektif. Banyak yang mulai mempertimbangkan alternatif yang lebih "cepat dan padat" seperti bootcamp, pelatihan bersertifikat, atau program magang. Rute ini dianggap lebih efisien dalam mengembangkan keterampilan praktis yang langsung diperlukan di pasar kerja.

Nilai Kampus yang Tak Bisa Digantikan

Namun, di balik keraguan tersebut, universitas sebenarnya menawarkan nilai yang tidak dapat diperoleh melalui kursus singkat. Kampus merupakan "wadah" untuk mengembangkan pemikiran kritis, kematangan emosional saat berdiskusi, serta membangun jaringan yang luas.Selain itu, penting untuk diingat bahwa untuk profesi tertentu seperti kedokteran, hukum, atau teknik, pendidikan formal tetap menjadi fondasi yang wajib dan tidak tergantikan berdasarkan regulasi.Sebuah Pilihan, Bukan Penolakan Keraguan yang muncul belakangan ini seharusnya tidak dilihat sebagai sikap negatif terhadap ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa Generasi Z semakin kritis dan menyadari kebutuhan hidup yang lebih pribadi.Pada akhirnya, keputusan untuk melanjutkan kuliah atau tidak bukan lagi sekadar masalah benar atau salah. Ini berhubungan dengan kesiapan mental, konteks tujuan hidup, dan bagaimana setiap individu merancang masa depan mereka di tengah perubahan dunia yang terus berlangsung.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image