Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti kholila

Narasi yang Sunyi dan Aksi Visual Sosok Alina Suhita dalam Karya Ekranisasi

Sastra | 2025-12-30 16:29:01
Kolase Foto Cover Novel Hati Suhita dan Poster Film Hati Suhita. Dokumentasi: Pribadi

Cerita sering kali tidak berhenti di buku saja. Perjalanan Alina Suhita dari novel karya Khilma Anis (2019) ke film karya Archie Hekagery (2023) disebut ekranisasi, seperti kelahiran kembali. Ini bukan hanya pindah adegan ke layar, tapi cara baru melihat kekuatan perempuan menghadapi masalah hidup.

Di novel, kita masuk ke “dunia sunyi” hanya narasi yang mengisahkan Alina. Kesabarannya seperti ibadah, dengan keteguhan hati yang hebat. Namun di film, Alina hadir dalam tindakan nyata melalui tindakan tegas dan kecerdasannya yang terlihat jelas secara visual. Hal ini sesuai dengan teori Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, perempuan tidak dilahirkan sebagai “seks kedua” atau objek, melainkan dibentuk seperti itu oleh konstruksi sosial patriarkal. Ia mengirimkan agar perempuan memerdekakan diri untuk menjadi subjek eksistensial yang bebas memilih eksistensinya dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut melalui pemikiran kritis serta aksi mandiri, seperti pendidikan dan kontribusi sosial. Yuk, kita bahas lebih dalam bagaimana perubahan dari tulisan ke gambar ini memberi semangat baru pada perjuangan Alina.

Cara Bercerita: Dari Pikiran ke Tindakan

Di dalam novel, kekuatan utama Alina Suhita ada pada cerita batinnya yang rumit. Pembaca ikut merasakan penderitaannya lewat pikiran dalam yang menunjukkan ketegaran, keikhlasan, dan rasa hormat yang mendalam pada Kyai dan Bu Nyai. Novel ini sangat rinci dalam menggambarkan bagaimana Alina merasa tidak punya kuasa atas hidupnya karena keputusan besar ditentukan oleh sistem sosial dan keluarga.

“Aku salat sambil menangis. Ingatlah bahwa Mas Birru tidak punya pikiran sedikit pun untuk mengikutiku dan menenangkan isakku. Dia justru menampilkan wajah sumringah di depan perempuan lain. Rengganis perempuan beruntung. Dia tidak perlu susah payah menempuh perjalanan jalan sepertiku, mondok dan kuliah di tempat yang sudah ditentukan abah dan Ummik sampai harus kehilangan kebebasan dan masa mudaku. Ia tidak perlu tenggelam dalam tangis. Tidak perlu dalam tirakat, Mas Birru sudah mencintainya tanpa cela ” (Anis, 2019: 279).

Alina terjebak antara ketaatan agama dan keinginan pribadi, tanpa ruang untuk menentukan nasibnya sendiri. Alina harus berjuang dengan tirakat (laku spiritual) untuk bertahan, sementara Rengganis dapat cinta tanpa cela. Pilihan hidupnya direnggut oleh sistem sosial keluarga, membuatnya kehilangan kebebasan dan masa muda.

Namun, dalam ekranisasi karya Archie Hekagery, aspek-aspek batiniah ini ditransformasikan menjadi aksi visual yang lebih lugas. Film cenderung menonjolkan Alina bukan sebagai korban yang pasif, melainkan sebagai sosok yang memiliki kapasitas intelektual yang nyata. Salah satu momen krusial yang diperbandingkan adalah ketika Gus Birru mulai menyadari kemampuan Alina saat melihatnya memimpin rapat ustadz dan ustadzah dengan suara lantang dan kalimat lugas. Dalam film, adegan ini menjadi titik balik visual yang membuktikan bahwa di balik “kepasrahan” yang tampak di novel, terdapat keaktifan strategi di ruang publik pesantren. Hal ini terlihat pada durasi ke 1:54:44-1:59:13.

Sosok Suhita: Dari Pasif Jadi Aktif

Dalam novel, penekanannya lebih kuat pada subordinasi struktural. Alina digambarkan sebagai alat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kehormatan kelas sosial pesantren. Narasi teks lebih dalam menggali bagaimana ia kehilangan kebebasan masa muda demi “tirakat” yang ditentukan orang lain.

“Sejak kecil, abah dan ibuku sudah mendoktrinku bahwa segala sesuatuku, cita-citaku, tujuan

hidupku, adalah kupersembahkan untuk Pesantren Al-Anwar, pesantren mertuaku ini.” (Anis, 2019:3)

Kutipan tersebut menggambarkan subordinasi struktural yang dialami Alina Suhita sebagai perempuan dalam lingkungan pesantren patriarkal. Doktrin keluarga sejak kecil berfungsi untuk menjaga kehormatan dan stabilitas ekonomi pesantren Al-Anwar, menghilangkan otonomi pribadinya demi “tirakat” yang dipaksakan.

Dalam film, ada ruang yang lebih luas untuk menunjukkan kesuksesan Alina dalam mengelola pesantren sebagai kontribusi sosial yang memiliki pengaruh kuat. Perubahan ini menunjukkan bahwa film ingin menyoroti potensi Alina sebagai agen perubahan yang pintar dan mandiri, bukan sekadar peran istri yang diabaikan. Hal ini terlihat pada durasi 0:32-0:38.

Sabar bukan Lemah, Tapi Strategi

Novel tekanan aspek religiusitas melalui ketabahan Alina yang dipahami sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Sang Pencipta. Novel menyajikan nilai-nilai kereligiusan sebagai kekuatan batin untuk menjalani takdir yang pahit.

“Maka, aku tidak boleh punya cita-cita lain selain berusaha keras menjadi layak memimpin di sana. Aku dipondokkan di Pesantren Tahfidz sejak kecil. Kiai dan Bu Nyai Hannanlah yang menyarankan bahwa aku harus kuliah di Jurusan Tafsir Hadis meski aku sangat ingin kuliah di jurusan sastra. Abah ibuku setuju saja asal itu keinginan mereka.” (Anis, 2019: 3)

Religiusitas Alina dibingkai sebagai tirakat pondok sejak kecil, di mana usulan Kiai dan Bu Nyai Hannan didukung orang tua yang memaksakan pilihan arah Tafsir Hadis demi “layak memimpin” pesantren, menyumbangkan cita-cita sastra. Ini mencerminkan nilai kereligiusan sebagai alat kontrol struktural, di mana ketabahan menjadi penyediaan ilahi untuk stabilitas ekonomi dan kehormatan keluarga.

Dalam filmnya, religiusitas Alina ditampilkan dengan sikap yang lebih tegas. Keikhlasannya bukan lagi ketundukan buta, tetapi sebagai strategi moral untuk memikat hati suami melalui kualitas diri yang unggul. Ekranisasi ini memberikan pesan bahwa perempuan religius tidak harus kehilangan harga dirinya, melainkan melalui pendidikan dan kecerdasan jadi senjata untuk dapat pengakuan meski di sistem yang menindas sekalipun. Hal ini terlihat pada durasi 0:32-0:38

Hasil ekranisasi yaitu film Hati Suhita berhasil mempertajam karakter Alina di dalam novel dengan visual. Jika novel adalah sebuah kajian mendalam tentang ketangguhan batin perempuan yang terjerat kelas sosial dan patriarki, maka film menjadi pernyataan visualnya soal kecerdasan dan kemandirian perempuan santri yang melewati batasan itu. Dari perbandingan ini, Alina Suhita tetap menjadi simbol perlawanan yang halus, entah lewat teks yang tenang atau gambar yang tegas.

Daftar Pustaka:

Anis, Khilma. 2019. Hati Suhita . Yogyakarta: Telaga Aksara.

Beauvoir, Simone de. (1956). The Second Sex . (Parshley HM, Penerjemah). London: Lowe and Brydone LTD.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image