Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Aulia Herawati

Ketika Rumah Mendadak Sepi: Orang Tua Belajar Hidup Tanpa Anak

Lifestyle | 2025-12-29 17:26:01
Ilustrasi Seorang orang tua duduk di meja makan yang sepi, menggambarkan perubahan suasana rumah setelah anak-anak pergi membangun hidupnya masing-masing. foto: Ai

Ada fase yang jarang dibicarakan: saat anak-anak yang dulu memenuhi rumah dengan kan suara dan permintaan sederhana, tiba-tiba pergi satu per satu. Ada yang merantau, bekerja, menikah, dan akhirnya membangun hidupnya sendiri. Lalu rumah yang dulu ramai menjadi sunyi—bukan karena salah siapa, tapi karena hidup memang berjalan ke arah itu.

Bagi sebagian orang tua, perubahan ini seperti belajar ulang banyak hal dari awal. Bangun pagi tanpa suara yang harus dibangunkan. Meja makan yang tetap rapi karena tak ada lagi yang berebut lauk. Pintu yang jarang diketuk. Bahkan obrolan sederhana seperti “udah makan belum?” terasa menggantung di dalam kepala, tanpa tempat kembali.

Kesepian bukan selalu soal tidak ada orang; kadang kesepian terasa justru karena terlalu banyak kenangan di satu ruangan yang sekarang tidak terpakai.

Bukan berarti mereka tidak merelakan anaknya maju.Banyak orang tua yang bangga—sangat bangga. Tapi bangga tidak menghilangkan rindu, dan rindu tidak menghapus kenyataan bahwa mereka juga sedang mencari bentuk baru dari kata “rumah”.

Situasi ini sering menempatkan orang tua di persimpangan:

Belajar menahan, atau belajar melepas?

Menyimpan kenangan, atau merapikan ruang untuk cerita baru?

Mungkin jawabannya bukan memilih salah satu.

Kadang bertahan berarti menerima bahwa yang berubah bukan hanya anaknya, tapi hidupnya juga. Dan melepaskan bukan berarti kehilangan; melepaskan berarti membiarkan kehangatan berpindah tempat, dari rumah yang lama ke hidup yang baru.

Karena akhirnya, rumah bukan cuma tempat anak kembali, tapi juga tempat orang tua belajar berdiri sendiri lagi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image