Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Aini

Muhasabah Daerah 2025 : Langganan Banjir, Sampai Kapan?

Agama | 2025-12-29 07:41:34

Kecamatan Banyakan dan Kecamatan Grogol adalah dua kecamatan di Kabupaten Kediri yang menjadi langganan banjir, bahkan di tahun 2025 ini banjir bukan mereda namun semakin sering melanda. Dan penyebabnya pun masih sama, hujan lebat di Gunung Wilis dan tingginya curah hujan di kedua kecamatan tersebut menyebabkan debit air sungai yang tak terbendung lagi.

Memang benar, faktor utamanya adalah hujan lebat, namun hujan adalah faktor alam, tidak bisa dikambinghitamkan, apalagi hujan seharusnya membawa keberkahan. Maka faktor perilaku manusia yang seharusnya bisa dikendalikan.

Kemampuan gunung yang menjadi penopang penyerap air semakin berkurang, semakin sempitnya daerah aliran sungai (DAS), hingga perilaku buruk masyarakat sekitar yang membuang sampah sembarangan adalah faktor pendukung pemicu banjir. Dan itu semuanya seharusnya bisa dikendalikan. Maka kepedulian dan langkah nyata untuk mencegah banjir membutuhkan peran semua pihak.

Masyarakat mempunyai kesadaran menjaga lingkungan, para penentu kebijakan menerapkan aturan yang tegas dan terencana untuk melakukan pencegahan banjir. Pembangunan yang ramah lingkungan salah satu faktor penting yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. Bukan pembangunan yang merusak lingkungan hanya demi menuruti proyek para pemilik modal. Buruknya mitigasi bencana juga semakin memperparah keadaan. Pemerintah seolah tidak ada saat musibah melanda, pemetaan daerah rawan bencana lamban, hingga penanganan yang kurang serius. Jadilah banjir sebagai bencana yang harus diterima rakyat, seolah itu takdir yang tidak bisa diubah.

Kerusakan di muka bumi yang berakhir bencana lebih banyak karena ulah manusia. Allah SWT sudah mengingatkan dalam Al Quran.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

(Ar-Rūm [30]:41)

Jelas sekali Allah mengabarkan, oleh karena itu langkah penting agar bencana tidak terus melanda adalah dengan taubat nasuha, kembali ke jalan yang benar. Adanya bencana karena manusia berada di jalan yang salah, perilakunya buruk, kemaksiatan merajalela dan kebijakan lingkungan yang rakus. Taubat nasuha adalah awal yang paling penting. Komitmen untuk tidak lagi merusak lingkungan, tidak membangun demi proyek dan materi semata. Yang berikutnya, mengevaluasi pembangunan infrastruktur atas nama pertumbuhan ekonomi yang sejatinya tidak berimbas pada kesejahteraan seluruh rakyat namun menjadi ladang cuan bagi para pemilik modal.

Terakhir, manajemen bencana juga sangat diperlukan. Bencana memang sering tak terduga, namun tetap saja masih bisa diantisipasi. Anggaran yang memadai untuk korban bencana juga menuntut peran penting pemerintah, karena sejatinya pemerintah adalah penguasa yang mempunyai kewajiban untuk mengurus seluruh rakyat termasuk memastikan semua korban bencana mendapatkan bantuan maksimal dan bisa kembali menikmati kehidupan yang layak.

Memang faktor pemerintah yang paling menentukan, maka hadirnya kepemimpinan yang sahih adalah faktor terpenting. Kepemimpinan yang bijak, menjadikan aturan Allah sebagai pijakan mempunyai visi menyejahterakan rakyat di dunia, menyelamatkan rakyat hingga ke akhirat. Bukan kepemimpinan yang menjadikan kapital dan oligarki sebagai asas kebijakan. Oleh karena itu, di akhir tahun ini, menjadi saat yang tepat untuk muhasabah dan melangkah menuju perbaikan yang berkah. Meninggalkan sistem batil kapitalis sekular, menerapkan sistem islam agar bisa taat syariah secara kaffah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image