Dilema Mahasiswa Semester 5: Antara Magang atau Tetap di Bangku Kuliah
Edukasi | 2025-12-27 22:54:32
Memasuki semester lima, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dihadapkan pada sebuah pilihan penting yang cukup menentukan arah perjalanan akademik dan profesional ke depan. Pilihan tersebut adalah mengikuti perkuliahan seperti biasa atau mengambil kesempatan magang konversi yang disediakan oleh program studi.
Pilihan ini bukan sekadar soal mengganti ruang kelas dengan ruang kerja, melainkan tentang bagaimana mahasiswa memaknai proses belajar itu sendiri. Apakah pembelajaran harus selalu berlangsung di dalam kelas dengan teori dan diskusi, ataukah pengalaman langsung di dunia kerja juga merupakan bentuk pembelajaran yang tak kalah penting?
Sebagai mahasiswa semester lima Program Studi Manajemen UMY, saya berada di persimpangan pilihan tersebut. Di satu sisi, mengikuti perkuliahan reguler memberikan kenyamanan karena ritme akademik sudah sangat familiar. Jadwal kuliah, tugas, ujian, dan diskusi kelas merupakan hal yang telah dijalani selama beberapa semester. Namun di sisi lain, dunia kerja nyata terus memanggil dengan tantangan dan peluang pembelajaran yang berbeda.
Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih jalur magang melalui Program Magang Berdampak yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen. Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Saya ingin merasakan secara langsung bagaimana teori-teori manajemen yang selama ini dipelajari diterapkan di dunia kerja nyata. Saya ingin keluar dari zona nyaman dan menghadapi dinamika profesional yang sesungguhnya.
Magang konversi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara kontekstual. Di dunia kerja, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami konsep, tetapi juga ditantang untuk beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Hal-hal tersebut sering kali sulit diperoleh secara utuh hanya melalui pembelajaran di kelas.
Selain itu, Program Magang Berdampak menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar “bekerja”. Mahasiswa dilibatkan dalam proses yang nyata, memiliki tanggung jawab, serta berkontribusi langsung terhadap institusi atau perusahaan tempat magang. Dari sinilah makna “berdampak” itu terasa—bukan hanya bagi tempat magang, tetapi juga bagi pengembangan diri mahasiswa.
Tentu saja, memilih magang bukan berarti meninggalkan nilai akademik. Justru sebaliknya, magang menjadi jembatan antara teori dan praktik. Konsep seperti manajemen sumber daya manusia, pemasaran, operasional, hingga pengambilan keputusan strategis dapat dipahami dengan sudut pandang yang lebih konkret. Pengalaman ini diharapkan dapat memperkaya cara berpikir mahasiswa ketika kembali ke ranah akademik maupun saat memasuki dunia kerja setelah lulus.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pilihan ini juga memiliki tantangan. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu, menjaga profesionalitas, dan beradaptasi dengan budaya kerja yang mungkin sangat berbeda dengan budaya kampus. Tuntutan tanggung jawab yang lebih besar juga menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi, justru dari tantangan inilah proses pendewasaan dan pembelajaran yang sesungguhnya terjadi.
Pilihan antara magang atau mengikuti perkuliahan reguler sejatinya bukan tentang mana yang lebih baik atau lebih benar. Keduanya memiliki nilai dan manfaat masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa mengenali kebutuhan, tujuan, dan kesiapan dirinya sendiri. Bagi saya, magang adalah pilihan yang paling relevan untuk fase pembelajaran saat ini.
Melalui Program Magang Berdampak, saya berharap dapat memperoleh pengalaman kerja yang nyata, membangun jejaring profesional, serta meningkatkan kesiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus. Lebih dari itu, saya ingin menjadikan pengalaman ini sebagai bekal pembelajaran hidup—bahwa belajar tidak selalu harus duduk di bangku kelas, tetapi juga berani terjun langsung ke realitas.
Pilihan ini mungkin tidak mudah, tetapi saya percaya bahwa setiap langkah yang diambil dengan kesadaran dan tujuan yang jelas akan membawa manfaat di masa depan. Magang bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pemahaman yang lebih luas tentang dunia profesional dan peran saya di dalamnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
