Kurikulum Indonesia di Persimpangan: Antara Harapan dan Tantangan
Edukasi | 2025-12-26 11:10:24Kurikulum Merdeka, yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bertujuan untuk menciptakan generasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing. Namun, implementasi kurikulum ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesiapan guru hingga keterbatasan infrastruktur (Mustabil et al., 2025). Sejak dulu hingga sekarang, kurikulum dianggap sebagai jantung pendidikan, karena dari sinilah arah pembelajaran ditentukan. Namun kenyataannya, kurikulum kita sering kali berubah-ubah mengikuti pergantian kebijakan pemerintah dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata siswa di lapangan. Di satu sisi, perubahan kurikulum menunjukkan adanya semangat untuk memperbaiki sistem agar lebih relevan dengan perkembangan zaman, tetapi di sisi lain, perubahan yang terlalu cepat justru menimbulkan kebingungan bagi guru, siswa, dan orang tua. Pendidikan adalah proses jangka panjang, sehingga konsistensi menjadi hal yang sangat penting.
Salah satu masalah utama adalah seringnya pergantian kebijakan. Hampir setiap kali ada pergantian menteri, kurikulum ikut berubah. Guru dan siswa belum sempat beradaptasi dengan sistem lama, sudah muncul aturan baru. Akibatnya, proses belajar menjadi tidak stabil dan arah pendidikan terasa kabur. Selain itu, kurikulum masih menekankan nilai ujian sebagai tolok ukur utama. Hal ini membuat banyak siswa merasa tertekan, bahkan berdampak pada kesehatan mental mereka. Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar angka, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup yang berguna di masa depan.
Isu lain yang cukup besar adalah digitalisasi pendidikan. Pemerintah mendorong penggunaan teknologi di sekolah, namun kenyataannya akses internet dan perangkat belum merata. Perubahan kurikulum yang terjadi secara berulang menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi profesionalnya, namun sering kali tidak diimbangi dengan dukungan sarana dan pelatihan yang memadai (Putra et al., 2025). Sekolah di kota lebih maju, sementara sekolah di desa masih tertinggal. Jika tidak ditangani dengan serius, hal ini bisa memperlebar jurang kesenjangan pendidikan. Di sisi tenaga pendidik, program guru penggerak memang menjadi langkah positif, tetapi belum semua guru siap dengan metode baru. Banyak guru masih kesulitan beradaptasi, sehingga implementasi kurikulum tidak berjalan merata. Ditambah lagi, sistem evaluasi siswa yang kini lebih menekankan proyek dan kompetensi memang terlihat modern, tetapi banyak sekolah belum memiliki fasilitas untuk mendukung metode tersebut.
Masalah terbesar bukan pada isi kurikulum, melainkan pada konsistensi dan kesiapan pelaksanaannya. Pendidikan adalah proses jangka panjang. Jika kurikulum terus berganti, guru dan siswa akan kehilangan arah. Kurikulum seharusnya lebih berpihak pada anak, bukan hanya mengejar nilai akademik. Anak-anak perlu belajar hal-hal yang relevan dengan kehidupan nyata, sambil tetap menjaga kesehatan mental mereka. Digitalisasi memang penting, tetapi jangan sampai menciptakan jurang antara sekolah di kota dan desa. Pemerintah harus memastikan akses teknologi merata agar semua siswa bisa menikmati manfaatnya. Guru juga perlu mendapat pelatihan yang cukup agar siap menghadapi perubahan.
Dampak nyata di lapangan pun terlihat jelas. Sekolah di kota lebih mudah beradaptasi dengan kurikulum baru karena memiliki fasilitas lengkap, akses internet, dan guru yang lebih sering mendapat pelatihan. Sementara itu, sekolah di desa masih banyak yang kesulitan, baik dari segi fasilitas maupun tenaga pendidik. Akibatnya, kurikulum baru terasa “jauh” dari kenyataan mereka. Siswa merasa terbebani dengan standar akademik yang tinggi, sementara kreativitas dan minat pribadi sering kali terabaikan. Guru pun harus terus menyesuaikan diri dengan kebijakan baru, padahal tidak semua mendapat dukungan pelatihan yang memadai.
Kurikulum Indonesia saat ini berada di persimpangan, ada harapan besar dengan inovasi baru, tetapi juga tantangan lama yang belum selesai. Jika pemerintah bisa menjaga konsistensi kebijakan, mendukung guru dengan pelatihan, dan memastikan akses pendidikan merata, maka kurikulum akan benar-benar menjadi alat untuk mencetak generasi yang kritis, kreatif, dan bahagia. Pendidikan bukan sekadar soal nilai, tetapi soal membentuk manusia yang siap menghadapi kehidupan. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh sebagai individu yang sehat, mandiri, dan berdaya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
