Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aulia Kamilah Putri Muzakky

Biaya Hidup Meningkat, Ujian Awal Gen Z di 2025

Gaya Hidup | 2025-12-26 09:18:30

Tahun 2025 menjadi periode yang tidak ringan bagi banyak generasi muda di Indonesia. Biaya hidup terus meningkat, sementara kemampuan ekonomi sebagian besar Gen Z belum sepenuhnya mapan. Fenomena ini bukan sekadar keluhan personal, melainkan realitas sosial yang makin terasa di ruang publik dan memengaruhi cara generasi muda memandang masa depan mereka.

Berbagai survei nasional menunjukkan bahwa biaya hidup menjadi salah satu keluhan utama masyarakat sepanjang 2025. Gen Z termasuk kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mulai dari mahasiswa hingga pekerja pemula, banyak yang menghadapi tekanan ekonomi sejak awal fase produktif. Masa transisi menuju kemandirian yang seharusnya menjadi tahap pembelajaran justru diwarnai kecemasan finansial.

Kenaikan biaya hidup terasa paling nyata pada kebutuhan pokok. Harga makanan sehari-hari, transportasi, dan barang kebutuhan dasar mengalami peningkatan bertahap. Kenaikan kecil yang terjadi hampir setiap hari, jika diakumulasi dalam sebulan, berdampak signifikan terhadap pengeluaran. Bagi generasi muda dengan pendapatan terbatas, kondisi ini cepat menggerus daya beli dan memaksa mereka melakukan berbagai penyesuaian. Selain kebutuhan pangan, tempat tinggal dan akses internet menjadi dua pos pengeluaran besar yang sulit dihindari. Biaya sewa hunian di sekitar kampus dan pusat kerja meningkat, memaksa banyak anak muda tinggal lebih jauh dari aktivitas utama mereka. Konsekuensinya bukan hanya biaya tambahan untuk transportasi, tetapi juga kelelahan fisik dan berkurangnya waktu produktif yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar atau mengembangkan diri.

Internet juga telah berubah menjadi kebutuhan primer. Aktivitas belajar, bekerja, hingga mencari peluang penghasilan kini sangat bergantung pada koneksi digital. Pengeluaran untuk kuota dan layanan internet tidak lagi bersifat opsional. Ia menjadi bagian dari biaya hidup yang harus dipenuhi setiap bulan, sejajar dengan kebutuhan makan dan tempat tinggal.

Sayangnya, kondisi ini kerap disederhanakan dengan stigma bahwa Gen Z boros atau tidak pandai mengelola keuangan. Anggapan tersebut kurang adil. Banyak anak muda justru hidup dengan perhitungan ketat dan penuh kehati-hatian. Masalah utamanya bukan gaya hidup berlebihan, melainkan perubahan struktur harga dan menurunnya daya beli akibat inflasi yang tidak selalu diimbangi kenaikan pendapatan. Nilai uang saat ini tidak lagi sama dengan beberapa tahun lalu. Nominal yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kini terasa cepat habis. Perubahan ini menuntut penyesuaian pola hidup, tetapi tidak selalu diiringi dengan peningkatan penghasilan yang memadai, terutama bagi pekerja pemula yang masih berada di level upah awal.

Di tengah tekanan tersebut, Gen Z menunjukkan kemampuan adaptasi yang patut diapresiasi. Banyak yang mengembangkan sumber penghasilan tambahan melalui pekerjaan lepas, usaha digital, hingga sektor ekonomi kreatif. Kesadaran finansial juga meningkat. Pencatatan pengeluaran, perencanaan anggaran, dan upaya mengendalikan konsumsi menjadi kebiasaan baru yang perlahan terbentuk. Praktik membeli barang bekas, berbagi sumber daya, dan mengutamakan fungsi dibanding gengsi mencerminkan perubahan sikap generasi muda terhadap konsumsi. Ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi bertahan dalam situasi ekonomi yang menantang. Gen Z belajar hidup lebih realistis dan rasional dalam mengambil keputusan finansial.

Meski demikian, ketangguhan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan struktural. Gen Z tetap membutuhkan dukungan sistemik dari negara dan pemangku kebijakan. Ketersediaan lapangan kerja dengan upah layak, akses pendidikan yang terjangkau, serta kebijakan pengendalian harga menjadi faktor penting agar tekanan biaya hidup tidak terus berlanjut.

Tahun 2025 memberi pelajaran penting bahwa tantangan ekonomi tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat penghematan di tingkat individu. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada generasi muda agar mereka tidak sekadar bertahan, tetapi juga memiliki ruang untuk tumbuh, merencanakan masa depan, dan berkontribusi secara optimal. Gen Z bukan korban pasif inflasi. Mereka adalah aset masa depan bangsa. Menjamin keberlanjutan hidup mereka hari ini berarti menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang, sekaligus memastikan bahwa bonus demografi benar-benar memberi manfaat bagi pembangunan jangka panjang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image