Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image husnul khotimah

Pancasila dan Etika Kedokteran: Refleksi dalam Kehidupan Masyarakat Modern

Sinau | 2025-12-25 18:25:57

Oleh: Husnul Khotimah dan Sasi Kirana Hasti. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Dalam dunia medis yang terus bergerak cepat dengan inovasi teknologi seperti kecerdasan artifisial, terapi gen, dan telemedisin, pertanyaan mendasar tentang nilai dan etika justru semakin mengemuka. Di tengah kompleksitas ini, Pancasila sebagai dasar dan filsafat bangsa Indonesia menawarkan pondasi etika yang relevan dan kontekstual, tidak hanya dalam kehidupan berbangsa tetapi juga dalam praktik kedokteran sehari-hari.

Pancasila, yang sering kali dipandang sebagai konsep abstrak dalam ruang kelas kewarganegaraan, ternyata memiliki resonansi yang dalam dengan prinsip-prinsip etika kedokteran universal: beneficence (berbuat baik), non-maleficence (tidak merugikan), autonomy (menghormati otonomi pasien), dan justice (keadilan). Nilai-nilai ini menemukan penjabarannya yang khas Indonesia dalam kelima sila.

Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa menjadi landasan moral tertinggi. Dalam konteks kedokteran, ini berarti menghormati kehidupan sebagai anugerah, menghargai keyakinan pasien dalam proses penyembuhan, dan mengedepankan integritas serta hati nurani dalam setiap keputusan klinis. Praktik medis tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas, sekaligus menjamin hak pasien untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dengan keyakinannya.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah jantung dari etika kedokteran itu sendiri. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap pasien, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau statusnya, berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi, bermartabat, dan adil. Ini mendorong pelayanan kesehatan yang inklusif, melawan diskriminasi, dan menempatkan empati sebagai keterampilan medis yang esensial.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa kesehatan adalah isu kolektif. Kesehatan masyarakat tidak bisa dicapai hanya dengan fokus pada individu. Prinsip ini mendorong sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, serta mengedepankan semangat gotong royong dalam mengatasi masalah kesehatan nasional, seperti stunting, wabah penyakit, atau disparitas akses kesehatan antara daerah.

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan sangat relevan dalam proses pengambilan keputusan medis (shared decision making). Dokter tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya pemegang otoritas, tetapi sebagai mitra pasien. Dengan musyawarah, informasi yang lengkap dan mudah dipahami diberikan kepada pasien dan keluarganya, sehingga keputusan terapi diambil secara bersama-sama dengan menghormati otonomi dan nilai-nilai yang dianut pasien.

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah tantangan sekaligus cita-cita besar dalam sistem kesehatan. Sila ini menuntut komitmen untuk mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan, menjamin keterjangkauan biaya pengobatan, dan memastikan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan serta distribusi tenaga medis merata di seluruh tanah air. Keadilan dalam kesehatan adalah wujud nyata dari sila kelima ini.

Refleksi dalam Masyarakat Modern

Di era modern dimana hubungan dokter-pasien kerap terasa mekanis akibat tekanan beban kerja dan rutinitas, nilai-nilai Pancasila mengajak untuk mengembalikan "ruh" kemanusiaan dalam praktik medis. Tantangan seperti komersialisasi kesehatan, burnout tenaga medis, dan hoaks kesehatan membutuhkan filter etika yang kokoh.

"Pancasila bukan sekadar hafalan, tapi kerangka berpikir untuk menyikapi dilema etik kontemporer," ujar Prof. Dr. Aisyah, seorang ahli etika kedokteran dari salah satu universitas ternama. "Misalnya, dalam menghadapi pasien yang menolak transfusi darah atas dasar keyakinan, atau dalam menanggapi tuntutan hukum malpraktik yang tidak mendasar, nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan musyawarah bisa menjadi panduan."

Implementasinya membutuhkan internalisasi dalam kurikulum pendidikan kedokteran, pelatihan berkelanjutan bagi praktisi, dan komitmen dari pemangku kebijakan untuk membangun sistem kesehatan yang berkeadilan.

Kesimpulan

Pancasila dan Etika Kedokteran bukanlah dua hal yang terpisah. Justru, Pancasila memberikan warna, konteks, dan kekuatan moral yang khas Indonesia pada prinsip-prinsip etika kedokteran global. Dalam masyarakat modern yang penuh dengan perubahan, merangkul nilai-nilai Pancasila dalam dunia medis adalah cara untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan selalu berjalan beriringan dengan keadilan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan demikian, cita-cita kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia bukanlah mimpi, tetapi tujuan yang dijamin oleh dasar negara kita sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image