Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rafi Salman Alfarisi

Generasi Z di Persimpangan Demokrasi: Harapan atau Tantangan?

Politik | 2025-12-24 16:08:29
Sumber: Anotasi
Sumber: Anotasi

Generasi Z hidup di tengah lautan informasi yang tidak ada habisnya. Media sosial bukan hanya tempat untuk bersenang-senang, tetapi juga menjadi lokasi utama untuk membangun opini, memberikan kritik, dan menunjukkan pandangan politik. Dalam hal ini, demokrasi sepertinya mendapatkan wajah baru yang lebih cepat, lebih terbuka, dan lebih ramai. Namun, ada pertanyaan penting yang muncul: apakah kehadiran Generasi Z benar-benar menjadi harapan bagidemokrasi, atau justru menimbulkan tantangan baru?

Di satu sisi, Generasi Z sering kali dilihat sebagai kelompok yang kritis dan berani mengungkapkan pendapat. Merekatidak ragu untuk berbicara di dunia maya, mengangkat isu mengenai keadilan sosial, lingkungan, dan hak asasi manusia. Media sosial memberi mereka peluang untuk terlibat dalam pembicaraan politik tanpa harus berada di ruang formal. Demokrasi pun terlihat lebih inklusif, sebab suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan kini bisa diperhatikan dengan lebih luas.

Fenomena ini menunjukkan ada harapan baru untuk demokrasi. Keterlibatan politik tidak hanya diartikan sebagai hadir di tempat pemungutan suara saat pemilihan, tetapi juga melalui diskusi online, kampanye digital, dan gerakan sosialyang berbasis komunitas. Generasi Z mampu mengatur dukungan dengan cepat, menyebarkan informasi dalam waktu singkat, dan menekan pembuat kebijakan melalui opini publik yang menjadi viral. Dalam kondisi yang ideal, ini memperkuat demokrasi yang partisipatif.

Namun, harapan ini tidak datang tanpa tantangan. Kemudahan dalam mengakses informasi seringkali disertai dengan pemahaman yang dangkal. Politik di media sosial sering kali d isederhanakan menjadi potongan video pendek, slogan emosional, atau simbol-simbol belaka. Banyak pembicaraan politik terhenti pada perdebatan yang dangkal tanpa pemahaman konteks yang menyeluruh, Akibatnya, partisipasi politik berisiko berubah menjadi sekadar aktivitas simbolik ramai, tetapi minim substansi.

Tantangan lain yang tak kalah serius adalah maraknya disinformasi dan polarisasi. Algoritma media sosial cenderung menyajikan informasi yang sejalan dengan preferensi pengguna, menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mempersempit sudut pandang. Generasi Z, sebagai pengguna aktif media digital, rentan terjebak dalam arus informasi yang bias. Demokrasi yang seharusnya mendorong dialog justruberpotensi berubah menjadi arena saling menegasikan.

Selain itu, muncul pula gejala kejenuhan politik. Paparan isupolitik yang terus-menerus, sering kali disajikan secara sensasional, membuat sebagian anak muda memilih bersikap apatis. Politik dipersepsikan sebagai sesuatu yang kotor, elitis, dan jauh dari kehidupan nyata. Jika kondisi ini dibiarkan, demokrasi berisiko kehilangan basis partisipasinya di masa depan.

Di titik inilah, peran literasi politik menjadi krusial. Demokrasi tidak cukup hanya menyediakan ruang partisipasi, tetapi juga membutuhkan warga yang memiliki kesadaran kritis. Generasi Z perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami konteks kebijakan, dan melihat politik sebagai proses jangka panjang, bukan sekadar peristiwa viral sesaat. Literasi politik bukan untuk menyeragamkan pandangan, melainkan untuk membangun kedewasaan dalam berbeda pendapat.

Media, institusi pendidikan, dan ruang komunitas memiliki tanggung jawab besar dalam proses ini. Media seharusnya tidak hanya mengejar klik, tetapi juga menyajikan informasi yang mendidik. Kampus dan sekolah perlu menghadirkan pendidikan politik yang dialogis dan relevan dengan realitas anak muda. Sementara itu, ruang-ruang komunitas dapat menjadi wadah belajar politik yang lebih cair dan membumi.

Generasi Z saat ini berada di titik penting dalam sejarah sistem pemerintahan yang demokratis. Mereka memiliki kemampuan besar untuk memperkuat sistem ini dengansemangat, kreativitas, dan keberanian untuk mengungkapkan pendapat. Namun, jika mereka tidak memiliki pemahamanyang baik dan kemampuan membaca yang cukup, kemampuan ini bisa berubah menjadi masalah serius. Demokrasi memerlukan lebih dari sekadar kehadiran; ia memerlukan keterlibatan yang sadar, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Pada akhirnya, masa depan sistem pemerintahan ini tidak hanya ditentukan oleh aturan atau teknologi, tetapi oleh kualitas pemilik hak suara. Generasi Z bukan hanya penerus demokrasi, tetapi juga penentu arah pergerakannya. Apakah demokrasi akan berkembang menjadi lebih kuat atau malah menjadi lebih lemah, sangat tergantung pada seberapa baik generasi ini memahami peran mereka bukan hanya sebagai penonton atau pengamat, tetapi sebagai partisipan aktif dalam sistem pemerintahan yang sadar dan berdaya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image