Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image farid abdul aziz

Norma Sosial dan Pembulian: Perbandingan Budaya Senioritas dan Budaya Kesetaraan

Sekolah | 2025-12-24 12:01:39

Pembulian merupakan fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan pendidikan yang menyebakan dampak psikologis yang mendalam kepada para siswa. Dampak tersebut menyebabkan para siswa mempunyai rasa takut berlebih, tetapi juga akan menyebar kepada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, penting untuk kita membandingkan pembulian yang berbeda, yakni budaya senioritas dan budaya kesetaraan.

Secara umum, budaya senioritas dalam lingkungan pendidikan merujuk pada sistem sosial berjenjang yang menempatkan individu berdasarkan usia, tingkat kelas, atau posisi formal dalam struktur pendidikan. Budaya ini diperkuat oleh norma sosial seperti ketaatan mutlak, penghormatan tanpa kritik, dan pandangan bahwa individu yang lebih muda wajib menerima perlakuan dari yang lebih senior. Secara psikologis, budaya ini sering dianggap sebagai bagian dari pembinaan karakter dan pendisiplinan untuk membentuk pribadi yang tangguh. Namun, pada kenyataannya, hal ini sering disalahgunakan dan dapat berujung pada pembulian.

Dalam budaya senioritas, pembulian di lingkungan pendidikan bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti tekanan verbal, perlakuan merendahkan, hingga pemberian tugas secara paksa kepada peserta didik yang lebih muda. Tindakan semacam ini sering dianggap sepele karena dianggap sebagai tradisi atau bagian dari proses pendidikan. Padahal, dampaknya cukup serius bagi kondisi psikologis para siswa, mulai dari menurunnya rasa percaya diri, munculnya kecemasan yang berlebihan, hingga rasa takut jika berada di lingkungan belajar. Akibatnya, peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif, takut untuk melakukan kesalahan, dan lebih memilih menahan perasaan agar terhindar dari konflik dengan pihak yang lebih senior.

Di sisi lain, Budaya kesetaraan dalam lingkungan pendidikan menekankan kesamaan hak dan martabat setiap individu tanpa memandang status, usia, atau posisi. Norma sosialnya mendorong dialog dua arah, saling menghormati, dan keterbukaan terhadap perbedaan pendapat. Secara psikologis, budaya ini mendukung perkembangan otonomi, kepercayaan diri, dan kebebasan berpikir peserta didik. Lingkungan belajar yang setara membuat para siswa lebih aktif, kritis, dan berani menyampaikan pendapat tanpa takut merasa ditekan.

Meskipun demikian, pembulian tidak sepenuhnya hilang dalam budaya kesetaraan. Bentuknya masih bisa muncul, misalnya karena perbedaan latar belakang sosial, kemampuan akademik, atau identitas personal. Namun, perbedaan utama terlihat pada pola respon lingkungan terhadap perilaku tersebut. Dalam budaya kesetaraan, perilaku pembulian umumnya tidak diterima dan cenderung lebih cepat ditangani melalui aturan sekolah, pendampingan psikologis, atau kebijakan anti-bullying. Meski dampak psikologis seperti perasaan terasing dan kecemasan sosial tetap dirasakan, penanganan yang lebih cepat dapat membantu mengurangi risiko dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental para siswa.

Sebagai mahasiswa pendidikan, saya menilai persoalan pembulian dalam budaya senioritas dan kesetaraan sebagai topik yang sangat penting untuk terus diperhatikan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para siswa. Ketika relasi dalam pendidikan mampu menyeimbangkan sikap saling menghormati dengan prinsip kesetaraan, para siswa memiliki ruang untuk berkembang untuk menjadi pribadi yang percaya diri, kritis, dan mandiri. Karena itu, peran sekolah dan pendidik sangat penting dalam membangun budaya pendidikan yang tidak mentoleransi pembulian, sekaligus menumbuhkan nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran.

Farid Abdul Aziz Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image