Healing di Akhir Tahun: Sebenarnya Perlu atau Hanya Tren?
Info Terkini | 2025-12-22 17:56:54Akhir tahun adalah waktu dimana kita bisa menikmati liburan dengan tenang, bebas dari pekerjaan maupun tugas sekolah. Jalan-jalan atau gen z menyebutnya dengan kata “healing” merupakan sebuah cara untuk istirahat sejenak dari penatnya realitas. Healing bisa kemana saja, bisa ke tempat pariwisata, mencoba hal baru yang belum pernah dilakukan, atau hanya sekedar istirahat di rumah. Banyak cara untuk menikmati liburan akhir tahun, namun apakah healing itu sebuah mitos? Atau kebutuhan psikologis manusia? Berikut penjelasannya.
Healing sebagai Cara Menghadapi Stres
Dalam banyak kasus, stres datang karena tuntutan akademik, pekerjaan, dan lingkungan sosial. Hikmah dkk. menjelaskan bahwa healing dapat berfungsi sebagai strategi coping yang membantu individu mengelola tekanan tersebut. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa “healing menjadi salah satu bentuk coping stress yang dilakukan individu untuk mencapai keseimbangan psikologis melalui pengalaman yang menyenangkan dan menenangkan” (Hikmah et al., Indonesian Journal of Tourism and Leisure). Artinya, healing bukan bentuk pelarian diri dari masalah, melainkan usaha sadar untuk memulihkan kondisi mental.
Pariwisata dan Pemulihan Psikologis
Salah satu bentuk healing yang paling umum dengan pergi ke tempat wisata. Wisata alam, budaya, dan kuliner memberikan pengalaman baru yang berbeda dari rutinitas harian. Hikmah dkk. menegaskan bahwa “aktivitas pariwisata memiliki kontribusi terhadap peningkatan well-being individu melalui relaksasi dan pengurangan stres”. Lingkungan baru memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mengambil jarak dari tekanan hidup, sekaligus memulihkan batin yang lelah. Tidak heran jika akhir tahun menjadi momen favorit untuk jalan-jalan.
Self-Healing dan Pengendalian Emosi di Akhir Tahun
Bachtiar dan Faletehan menekankan pentingnya self-healing sebagai proses internal. Mereka menyatakan bahwa “self-healing merupakan metode pengendalian emosi yang dilakukan individu secara sadar untuk mengelola stres dan konflik emosional” (Bachtiar & Faletehan, Journal An-Nafs). Akhir tahun adalah waktu dimana kita bisa mengevaluasi diri, seperti tentang pencapaian, kegagalan, dan harapan yang belum terwujud. Di sinilah self-healing berperan sebagai upaya menenangkan diri, menerima keadaan, dan membangun kembali keseimbangan emosional.
Lebih dari Sekadar Tren
Healing di akhir tahun bukanlah sekadar mengikuti tren semata. Baik melalui pariwisata maupun self-healing, diri kita sebenarnya sedang memenuhi kebutuhan psikologis dasar untuk meredakan stres, mengatur emosi, dan memulihkan kondisi mental.
Akhir tahun pada akhirnya bukan sekadar soal libur panjang atau tren healing yang ramai di media sosial. Di balik keinginan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, terdapat kebutuhan psikologis yang nyata. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah menghadapi tekanan yang terus-menerus. Healing, baik melalui pariwisata, aktivitas sederhana, maupun self-healing menjadi cara manusia merawat kesehatan mentalnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
