Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image kalila fayza

Saat Kata-kata Dapat Menyelamatkan Nyawa

Info Sehat | 2025-12-18 09:02:19

Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November hingga pertengahan Desember 2025 menunjukkan betapa cepatnya sebuah lingkungan yang aman bisa berubah menjadi zona risiko tinggi. Bencana ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang dipicu fenomena atmosfer global, dan menelan korban jiwa serta kerusakan yang sangat besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per Senin, 15 Desember 2025 pukul 10.00 WIB, tercatat 1.016 orang meninggal dan 212 orang masih hilang. Angka luka-luka mencapai 7.600 orang dan dampak kerusakan mencapai 52 kabupaten/kota. (CNA.id: Berita Indonesia)

Indonesian National Board for Disaster Management

Jika dilihat dari situasi darurat seperti ini, peran keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bukan hanya sebatas materi pelajaran atau prosedur formal, melainkan menjadi hal hidup atau mati bagi tenaga kesehatan, relawan, korban, dan masyarakat di daerah terdampak.

Saat mencari tahu lebih dalam mengenai aktivitas petugas kesehatan dan relawan di lapangan, nyata terlihat bahwa menyampaikan informasi risiko kepada masyarakat bukan perkara mudah. Risiko seperti ancaman penyakit pascabanjir, akses air bersih yang terganggu, hingga kemungkinan kejadian susulan harus dikomunikasikan dengan bahasa yang jelas, namun tetap menenangkan, sehingga tidak menimbulkan kepanikan atau salah paham.

Di sinilah peran komunikasi terapeutik sangat penting. Pesan tidak hanya menjelaskan risiko, tetapi juga memberi harapan, arah tindakan, dan dukungan emosional. Ketika tenaga kesehatan hanya memberikan instruksi teknis tanpa mengamati respons emosional warga terdampak, peluang warga tidak mematuhi anjuran keselamatan justru semakin besar.

K3 Bukan Sekadar APD: Karena Nyawa & Harapan Dipertaruhkan

Di tengah krisis ini, tantangan operasional sangat nyata seperti, jalan terputus, komunikasi terganggu, dan tenaga medis dan logistik masih terbatas. Namun lebih dari itu, komunikasi risiko yang efektif menjadi jembatan utama antara ilmu keselamatan kerja dan kepercayaan masyarakat.

Ambil salah satu contoh yang sederhana, ketika petugas menjelaskan potensi penyakit kulit dan demam akibat lingkungan basah pascabanjir, ia harus menyampaikan langkah pencegahan dengan cara yang seolah-olah menempatkan diri mereka di sepatu para korban banjir. Memberi pesan dengan nada penuh instruksi tanpa menunjukkan empati justru dapat membuat pesan tidak terserap dengan baik, atau bahkan menambah kecemasan warga yang baru saja kehilangan rumah. Komunikasi terapeutik seperti inilah yang membutuhkan praktik secara langsung dan tidak bisa jika hanya belajar melalui teori.

Sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang tertarik pada bidang K3, peristiwa bencana ini menunjukkan bahwa profesi K3 harus terintegrasi dengan ilmu sosial, psikologi, dan komunikasi. Saya menyadari bahwa membangun pesan keselamatan yang efektif bukan hanya soal menyampaikan aturan, tetapi bagaimana menjalin hubungan emosional yang membuat pesan tersebut menjadi bagian dari perilaku masyarakat.

Banjir bandang di wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra menjadi pelajaran tajam bahwa keselamatan kerja dan kesehatan dalam situasi bencana bukan sekadar teori, melainkan realita yang menguji kompetensi, empati, dan komunikasi kita sebagai calon profesional kesehatan. Dengan memperkuat pendekatan komunikasi yang efektif dan terapeutik, serta menerapkan pelajaran dari pendidikan internasional, kita semua dapat membantu menciptakan sistem K3 yang lebih manusiawi, siap menghadapi risiko, dan benar-benar melindungi setiap nyawa di tengah krisis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image