Bukan Teknologi yang Salah, tapi Batas Kita yang Goyah
Gaya Hidup | 2025-12-16 02:40:37
Jika sekarang perselingkuhan terasa semakin biasa, mungkin bukan karena manusia yang semakin tidak setia, tetapi karena media sosial yang membuat pengkhianatan seolah terasa ringan dan nyaris tanpa konsekuensi.
Dewasa ini, perselingkuhan sering kali bermula dari hal yang jauh lebih sederhana. Saling membalas story media sosial satu sama lain atau sekadar saling berbagi video lucu dapat berubah menjadi benih dimulainya perselingkuhan. Dalam dunia maya, batas antara ramah, dekat, dan melanggar komitmen menjadi semakin kabur dan hampir tidak bisa dibedakan. Ketika seseorang melakukan hal tersebut tanpa menyadari batas ataupun tanggung jawab, dunia maya berubah menjadi sebuah celah yang memecah kepercayaan dan kesetiaan dalam sebuah hubungan.
Pada dasarnya, media sosial tidak diciptakan sebagai tempat perselingkuhan, namun ada beberapa orang yang memanfaatkan celah media sosial untuk mengkhianati pasangan mereka. Didukung dengan kemudahan akses, komunikasi tanpa batas ruang dan waktu, serta kemampuan untuk menjalin kedekatan emosional secara privat menjadikan media sosial sebagai tempat yang ideal untuk membangun komunikasi. Mungkin seseorang bisa saja terlihat setia dan bahagia dengan pasangannya di dunia nyata, padahal di dunia maya ia sedang menjalani hubungan intens dengan orang lain.
Salah satu bentuk yang perselingkuhan yang sering dianggap sepele adalah perselingkuhan emosional. Tanpa melakukan sentuhan fisik dan pertemuan rahasia, namun di dalamnya terdapat perhatian yang begitu intens, keterikatan perasaan, serta ketergantungan emosional pada orang lain selain pasangan. Media sosial bisa memfasilitasi hal tersebut dengan cara yang sangat halus. Percakapan dapat berlangsung terus-menerus karena hal tersebut dianggap tidak “nyata”. Ditambah lagi, orang lain tidak bisa melihatnya, sehingga mereka merasa aman.
Tren validasi juga ikut andil dalam permasalahan ini. Like, balasan cepat dengan emoji, dan perhatian kecil di media sosial membuat seseorang merasa dihargai dan diinginkan. Ketika kebutuhan emosional tidak bisa terpenuhi dalam hubungan, media sosial menawarkan pelarian instan. Dari sinilah perselingkuhan sering kali dimaknai bukan sebagai pengkhianatan, melainkan sebagai “sekadar ngobrol” atau “tidak ada maksud apa-apa”. Maka dari itu, perselingkuhan emosional tidak bisa dianggap remeh walaupun tidak ada kontak fisik karena tetap memiliki potensi merusak kepercayaan dan keutuhan hubungan.
Namun, menyalahkan media sosial sepenuhnya tentu sangat tidak adil karena masalah utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana kita membangun batasan dan komitmen dalam hubungan. Dalam hal ini, media sosial hanya “memperjelas” keretakan yang sudah ada. Ketika komunikasi dalam hubungan menjadi lemah serta kejujuran mulai terabaikan, di situlah media sosial mengisi kekosongan kebutuhan emosional. Jadi, kuat atau rapuhnya sebuah hubungan tidak ditentukan oleh media sosial, melainkan seberapa kuat komitmen yang terjalin dalam hubungan tersebut.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah cermin yang memperlihatkan bagaimana kita memaknai kesetiaan. Apakah kesetiaan hanya soal tidak berhubungan fisik? Atau termasuk juga tentang menjaga emosional pasangan tetap utuh? Pertanyaan ini tentunya penting direnungkan di tengah dunia yang bergerak tanpa batas ruang dan waktu. Saat ini, kesetiaan bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga soal kesadaran untuk menetapkan batas, bahkan saat notifikasi terus berbunyi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
