Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jessie

Media Sosial, Budaya Viral, dan Krisis Etika di Ruang Publik Digital

Teknologi | 2025-12-14 17:58:33

Media sosial telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat Indonesia. Dari bangun tidur hingga kembali terlelap, layar gawai tak pernah jauh dari genggaman. Berbagai informasi mengalir deras: hiburan, opini, kritik sosial, hingga tragedi kemanusiaan. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul satu gejala yang kian mengkhawatirkan—budaya viral yang sering kali mengabaikan etika dan empati.

Hari ini, sesuatu dianggap penting bukan karena maknanya, melainkan karena jumlah tayangan, suka, dan komentar. Apa pun bisa menjadi konten, termasuk penderitaan orang lain.

Ketika Empati Kalah oleh Algoritma

Tak jarang kita menemukan video kecelakaan, konflik keluarga, hingga kemiskinan ekstrem beredar luas di media sosial. Alih-alih mendorong empati dan solusi, konten semacam itu justru dikemas untuk memancing sensasi. Tangisan, kemarahan, bahkan aib seseorang dipertontonkan demi mengejar viralitas.

Algoritma media sosial memang bekerja berdasarkan perhatian. Semakin ekstrem sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk tersebar. Sayangnya, logika algoritma ini kerap bertabrakan dengan nilai kemanusiaan. Yang menyedihkan, banyak pengguna ikut larut tanpa sempat bertanya: apakah konten ini layak disebarkan?

Viral Tidak Selalu Berarti Benar

Budaya viral juga melahirkan pengadilan massa di ruang digital. Potongan video pendek kerap dijadikan dasar penilaian, tanpa konteks utuh. Seseorang bisa dengan cepat dicap bersalah, dihujat, bahkan kehilangan pekerjaan hanya karena satu unggahan yang viral.

Di sinilah kita melihat bagaimana media sosial mampu menjadi alat penghukuman sosial yang kejam. Padahal, kebenaran tidak selalu sesederhana yang tampak di layar. Sekali reputasi seseorang hancur di dunia maya, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama daripada sensasi viral itu sendiri.

Anak Muda dan Normalisasi Konten Sensasional

Generasi muda menjadi kelompok yang paling akrab dengan budaya viral. Tantangan demi tantangan bermunculan, tidak sedikit yang berisiko dan membahayakan. Demi eksistensi digital, batas antara kreatif dan nekat kian kabur.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi yang mengukur nilai diri dari validasi digital semata. Kreativitas memang penting, tetapi tanpa etika, ia dapat berubah menjadi alat yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Peran Literasi Digital yang Terlambat

Pemerintah dan berbagai pihak sebenarnya telah menggencarkan literasi digital. Namun upaya ini sering terasa terlambat dan belum menyentuh akar persoalan. Literasi digital bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, melainkan membangun kesadaran etis dalam bermedia.

Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami dampak unggahan, serta berani menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan konten bermasalah. Di era digital, kemampuan menahan diri justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling mahal.

Ruang Digital yang Lebih Beradab

Media sosial sejatinya dapat menjadi ruang yang mencerahkan. Ia bisa menjadi alat advokasi, pendidikan, dan solidaritas. Banyak gerakan sosial lahir dari ruang digital. Namun semua potensi itu akan terkubur jika ruang ini terus dipenuhi konten yang mengorbankan etika demi popularitas sesaat.

Kita semua memiliki peran dalam membentuk wajah ruang digital Indonesia. Setiap klik, unggahan, dan komentar adalah pilihan moral, sekecil apa pun tampaknya.

Penutup

Budaya viral adalah realitas yang tak bisa dihindari. Namun, bagaimana kita meresponsnya adalah pilihan. Apakah kita ingin menjadi bagian dari kerumunan yang mengorbankan empati, atau menjadi warga digital yang sadar dan bertanggung jawab?

Di tengah derasnya arus informasi, barangkali yang paling kita butuhkan bukan koneksi yang lebih cepat, melainkan hati nurani yang tidak ikut tertinggal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image