Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Bunuh Diri Bukan Akhir dari Permasalahan Hidup

Info Terkini | 2025-12-03 16:43:27

Kasus bunuh diri kembali terjadi pada hari jumat tanggal 29 November 2025 seorang mahasiswa loncat dari jembatan di Kota Malang, Pemuda tersebut sebelum mengakhiri hidupnya sempat memberikan pesan wasiat kepada adik kandung. Penyidikan sementara korban diduga depresi akibat tekanan dari Skripsi yang tak kunjung selesai. (Sumber : www.detic.com) Pentingnya perhatian pemerintah terhadap kasus bunuh diri di Indonesia yang semakin meningkat pada tahun 2024 terjadi kenaikan 100 kasus dari tahun sebelumnya.

Di banyak kasus tersebut faktor lingkungan, ekonomi, dan depresi dapat mengakibatkan mereka melakukan hal tersebut. Pemerintah harus mengambil peran dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat, memberikan lapangan pekerjaan yang layak dan lingkungan yang sehat atau kondusif dan saling support, agar kasus bunuh diri dapat dikurangi bahkan tidak lagi terjadi.

Tetapi peran pemerintah saat ini sangat kurang karena bobroknya sistem yang memisahkan kehidupan dengan agama. Mereka lebih menekankan uang atau materi adalah standard kehidupan bahagia di dunia, mereka tak lagi memikirkan masalah kehidupan setelah kita mati. Mereka lupa bahwasannya kita hidup di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan Al Qur'an Surah Az Zariyat Ayat 56 : وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

yang artinya : " Dan tidaklah aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaku" .

Ketika setiap masyarakat memahami kehidupan ini untuk beribadah bukan mencari sedikit kebahagiaan di dunia maka mereka akan jauh dari bunuh diri atu bermaksiat kepada Allah, karena Allah selalu berada pada dalam hatinya. Mereka akan mentaati syariat Allah yakni menjalankan semua perintahnya dan meninggalkan semua kemaksiatan. Kita dapat mengambil contoh kesehatan mental dari pemuda tangguh yang dapat menjatuhkan kota konstantinopel yakni Muhammad Al Fatih, dia adalah seorang pemuda yang mulai dari kecil di didik untuk menjadi pemimpin hebat yang dapat mengalahkan pasukan Bizantium.

Dia sedari kecil di bentuk dalam lingkungan yang memahami bahwa Allah pemilik peraturan yang harus di kerjakan semua perintahnya, di mudahkan untuk akses pendidikan agar dapat menghasilkan peran terhadap negara, serta mental mereka di bentuk sebagai mental pemimpin yang harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya di dunia dan nantinya mendapat pengadilan dari Allah atas apa yang mereka perbuat.

Itulah pentingnya sistem yang dapat menciptakan masyarakat yang kondusif dan saling support, karena dari sistem yang baik akan melahirkan masyarakat yang saling mengingatkan untuk kebaikan. Masyarakat yang saling mendukung satu sama lain untuk kebaikan di dunia yang akan mereka pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah ketika di Yaumul Mizan. (Wallahualam bishawab)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image