Patriarki: Kuasa Laki-Laki atau Hilangnya Suara Perempuan?
Adab | 2025-12-02 00:48:57
Selama ini kita mengenal konsep “patriarkisme” dimana kekuasaan utama itu dipegang oleh laki-laki sementara perempuan ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah dari laki-laki. Namun “patriarkisme” itu lebih dari itu. Patriarkisme dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang terstruktur di sekitar ketidaksetaraan gender, dimana perempuan secara kolektif dikecualikan dari partisipasi penuh dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial. Istilah ini sendiri tidak hanya muncul dalam perbincangan akademik dan seminar kesetaraan gender semata, tapi ia juga hadir dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita bisa menyebutkan banyak sekali contohnya, dalam cara pengambilan keputusan di keluarga dimana opini sang ayah lebih diutamakan dan dianggap lebih benar, dalam pembagian tugas keluarga dimana peran sang ibu lebih difokuskan dalam urusan dapur dan urusan rumah tangga, hingga dalam ranah standar sosial kebanyakan daerah yang menentukan bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku dalam kehidupan mereka. Bahkan dengan pola dan struktur yang sangat merugikan satu gender ini, masih banyak masyarakat yang menganggap pola ini sebagai sesuatu yang natural, padahal ia dibentuk, dipelihara, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Saya merasa bahwa ideologi ini memiliki efek ke setiap aspek kehidupan kita, terutama terhadap kaum perempuan yang sedang berjuang untuk melawan ideologi destruktif ini. Tindakan-tindakan tidak senonoh seperti catcalling dan slutshaming yang dapat membuat korban merasa tidak aman lagi untuk pergi keluar, bahkan hingga candaan-candaan provokatif di media sosial yang mengatakan bahwa perempuan hanya layak dalam urusan dapur, rumah tangga, hingga ke titik yang lebih ekstrim lagi yaitu sebagai alat pemuas laki-laki. Ada sikap dan pemikiran yang mengakar kuat di balik kelancangan sikap dan perilaku ini, yaitu pemikiran bahwa laki-laki secara keseluruhan adalah manusia dan pribadi yang jauh lebih unggul daripada perempuan. Dan pemikiran kuno inilah penyebab utama terjadinya begitu banyaknya bentuk kekerasan terhadap perempuan bahkan anak perempuan. Saya tidak tahu jelas alasan mengapa seseorang masih menerapkan dan mengikuti ideologi patriarki ini, tapi saya yakin bahwa mereka melakukan itu untuk mempertahankan posisi perempuan dan kelompok lain yang tidak sesuai dengan citra maskulinitas patriarki mereka, dengan efektif membuat kaum perempuan memiliki kekuatan ekonomi, politik, pengetahuan, dan sosial yang jauh lebih rendah dari laki-laki selama bertahun-tahun dan dari generasi ke generasi, seperti yang bisa kita lihat dari contoh yang masih terjadi hingga saat ini.
Bahkan di tengah maraknya gerakan kesetaraan gender dan kampanye pemberdayaan perempuan secara langsung maupun di sosial media, ideologi ini justru menunjukkan kemampuannya untuk melebur di tengah masyarakat seiring berkembangnya zaman. Jika dulu patriarki menunjukkan dirinya dalam bentuk larangan yang keras, seperti pembatasan hak perempuan dalam hal pendidikan dan pekerjaan, maka patriarki modern menunjukkan bahwa ia tidak harus melarang perempuan secara langsung untuk tetap mengontrol hidup mereka. Misalnya di dunia kerja saat ini, banyak perempuan sudah berhak untuk mendapatkan pekerjaan di kantor, namun selalu dipertanyakan kesiapannya untuk tugas pemimpin karena atasan yang menilai bahwa perempuan itu terlalu emosional dan lembut untuk posisi itu. Selain itu kita juga melihatnya dalam bentuk komentar-komentar yang meremehkan perempuan, tuntutan untuk bersikap “feminim” sesuai standar sosial, atau tekanan agar perempuan mengutamakan keluarga di atas perkembangan diri.
Selain itu, perkembangan patriarki di masa kini juga diperkuat oleh media massa dan budaya populer yang sering kali menggambarkan perempuan dalam posisi pasif atau bahkan hanya sebagai objek fetish laki laki. Representasi perempuan dalam industri film, iklan, musik, hingga konten digital yang sering sekali mengulang pola yang sama: perempuan cantik, patuh, dan mendukung, sementara laki-laki digambarkan sebagai karakter yang kuat, dominan, dan pengambil keputusan. Gambar ini sendiri tidak hanya membentuk cara masyarakat melihat perempuan, tetapi juga membentuk cara perempuan melihat diri mereka sendiri. Karena ketika masyarakat terus-menerus terpapar pada konten yang menempatkan perempuan dalam posisi marginal, mereka akan menjadi terbiasa dengan anggapan bahwa hanya laki-laki lah yang pantas untuk memegang kuasa, sementara perempuan seharusnya menjadi pihak yang mengikuti saja.
Tidak bisa dipungkiri lagi, pola-pola patriarkal yang muncul di masyarakat dan berbagai bentuk media lainnya pada akhirnya membentuk cara kita melihat dan memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan. Banyak perempuan tumbuh dengan pesan implisit bahwa mereka harus “hati-hati” agar tidak terlihat terlalu ambisius di sekitar orang-orang, tidak terlalu vokal dalam menyuarakan suara mereka, atau tidak tampil berbeda dari apa yang diharapkan masyarakat. Sementara itu, laki-laki sering dibesarkan dengan standar maskulinitas yang mengharuskan mereka tampil kuat, dominan, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Dua pola ini saling mengunci: perempuan merasa harus membatasi diri, dan laki-laki merasa harus menegaskan diri. Inilah salah satu alasan utama kenapa ideologi patriarkisme bisa terus hidup hingga detik ini. Bukan hanya melalui aturan yang tertulis, tetapi melalui cara masyarakat menilai, memuji, dan mengkritik setiap perilaku perempuan dan laki-laki.
Namun, penting untuk diingat bahwa perubahan selalu terjadi, bahkan dalam hal melawan ideologi beracun ini. Semakin banyak perempuan yang sudah berani berbicara, semakin banyak perempuan yang sudah berani melawan stereotip, dan semakin banyak perempuan yang sudah berani untuk mengambil ruang yang dulu dianggap bukan milik mereka. Bahkan, tidak sedikit laki-laki yang mulai menyadari bahwa patriarki juga merugikan mereka: membuat mereka merasa tidak bebas menjadi diri sendiri, menekan emosi diri mereka sendiri, dan memaksa mereka memegang beban sosial yang terkadang terasa tidak realistis. Masyarakat modern pun perlahan mulai membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang peran gender, baik melalui pendidikan, komunitas, seminar, maupun platform digital. Karena pada akhirnya, pemahaman kita terhadap ideologi patriarki tidak hanya sebatas pada bagaimana sistem ini bekerja saja, tetapi juga tentang menyadari bahwa kita semua memiliki peran dalam mengubahnya dan menghapusnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
