Kesehatan Mental Remaja di Era Penuh Tuntutan
Gaya Hidup | 2025-12-01 00:53:45
Di Tengah derasnya perubahan sosial, remaja menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami tekanan mental. Masa remaja selalu dikenal sebagai periode pencarian jati diri, penuh pertanyaan, dan dihiasi dengan perubahanemosional. Namun, kondisi saat ini berbeda, mereka dituntut agar bisa berprilaku dewasa, penuh prestasi, dan memenuhi segala ekspektasi orang-orang sekitar. Namun, dibalik aktivitas harian yang terlihat biasa, terdapat realitasyang jauh lebih serius. Kesehatan mental remaja di Indonesia sedang berada dalam keadaan darurat.
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkapkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa 1 dari 20 remaja usia 10–17 tahun, atau sekitar 5,5 persen, didiagnosis memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir kategori yang sering disebut sebagai ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Tidak berhenti di situ, sekitar 34,9 persen remaja memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental dan tergolong ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan). Angka ini menandakan bahwa lebih dari sepertiga remaja Indonesia sedang menghadapi tantangan psikologis yang nyata, meski sering kali tidak terlihat dari permukaan.
Jika dikaitkan dengan jumlah populasi remaja di Indonesia yang sangat besar, skala persoalan ini menjadi semakin jelas. Berdasarkan data Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), per 31 Desember 2022 mencapai 277,75 juta jiwa dan didominasi oleh remaja. Jumlah penduduk berusia 10-14 tahun mencapai 24,5 juta jiwa, sementara kelompok 15-19 tahun mencapai 21,7 juta jiwa. Dominasi angka ini menunjukkan bahwa remaja merupakan kelompok besar yang memiliki kebutuhan khusus, termasuk dalam hal Kesehatan mental. Ketika puluhan juta individu berada dalam fase perkembangan yang dinamis secara fisik, emosional, hingga sosial, maka risiko dan tantangannya pun semakin meningkat.
Salah satu tantangan terbesar adalah lingkungan digital. Media sosial hadir sebagai ruang berekpresi, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan. Ketika setiap orang terlihat bahagia atau produktif, remaja bisa merasa tertinggal atau merasa dirinya tidak cukup baik dalam menjalani kehidupan. perbandingan sosial yang konstan membuat standar kebahagiaan dan kesuksesan terasa semakin sempit. Banyak yang akhirnya membandingkan kehidupan mereka dengan yang dilihat di media sosial.
Selain itu, lingkungan akademik juga mempengaruhi remaja merasakan tekanan. Di Tengah persaingan yang semakin kompetitif, remaja dituntut untuk selalu unggul, punya rencana masa depan dan tidak boleh gagal, padahal masih banyak remaja yang sedang mengenali apa yang benar-benar mereka inginkan. Tanpa sadar, tekanan inilah yang dapat memicu kecemasan, kelelahan, bahkan perasaan tidak mampu. Dalam pertemanan, remaja juga menghadapi tantangan emosional. Hubungan dengan manusia yang berubah-ubah, perasaan ingin dimiliki, dan perasaan takut akan ditinggalkan. Kadang banyak remaja banyak memilih diam dan menyimpan segala masalahnya sendirian. Padahal, memendam perasaan dapat memperburuk kondisi mental seseorang.
Kesehatan mental bukan hanya tentang mencegah gangguan, tetapi juga membangun kesejahteraan esmosional yang stabil. Mengajarkan remaja untuk mengenali batasan diri, mengambil jeda ketika lelah, dan tidak menuntut kesempurnaan adalah langkah kecil yang dapat memberikan dampak yang besar. Semantara itu, Kesehatan mental remaja merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat perlu belajar untuk tidak meremehkan emosi seorang remaja dengan kalimat yang dapat menjatuhkan dan memberikan tekanan kepada mereka. Dengan tingginya jumlah remaja di Indonesia dan tingginya prevelensi masalah mental, dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting. Remaja membutuhkan ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi, serta lingkungan yang peka terhadap tanda-tanda stress dan kelelahan. Masyarakat perlu memahami bahwa Kesehatan mental remaja adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
