Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ayu Nur Azijah

Homesick: Budaya Wajib Mahasiswa Rantau

Eduaksi | 2025-11-28 13:56:29
Sumber: Halodoc

Pendidikan seringkali dipandang sebagai jalan utama mengubah nasib dan meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan ketersediaan dan kualitas lembaga pendidikan tinggi di Indonesia belum merata, sehingga banyak anak muda memilih merantau untuk menempuh pendidikan tinggi terbaik. Setiap tahun, perguruan tinggi pasti dipenuhi mahasiswa dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau. Namun di balik upaya mengejar ilmu, terdapat satu fenomena emosional yang hampir pasti muncul pada mahasiswa rantau yaitu homesick.

Sebagai pendatang, mahasiswa rantau dihadapkan pada proses adaptasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan mahasiswa lokal. Mahasiswa rantau bukan hanya menyesuaikan diri di lingkungan kampus, tapi juga lingkungan tempat tinggal mereka dengan budaya, bahasa, pergaulan, makanan, dan juga ritme hidup yang berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya. Bagi seseorang yang sejak kecil tinggal bersama keluarga, perpisahan seperti ini memicu kejutan emosional yang tidak dapat dihindari. Kehangatan keluarga, teman, hingga beberapa rutinitas bersama lainnya mendadak hilang, digantikan dengan tuntutan untuk mandiri dan berjuang sendiri. Dari sinilah rasa rindu muncul, bukan semata rindu secara fisik, melainkan suasana kehangatannya. (Sumber: Kumparan “Fenomena Homesick dalam Perspektif Biopsikologi: Derita Mahasiswa Rantau”)

Fenomena homesick bahkan kian terlihat di media sosial. Banyak video mahasiswa rantau mengeluhkan rasa rindu rumah, entah karena tidak cocok dengan makanan, merasa tidak punya teman, atau tidak nyaman dengan budaya setempat. Ragam alasan ini menunjukkan bahwa homesick bukan sekedar pengalaman biasa, namun fenomena psikologis yang dipicu oleh banyak faktor. Dalam kacamata psikologi, homesick muncul dari gabungan respons kognitif, emosional, dan perilaku. Pikiran sering melayang ke rumah, tubuh merespons dengan rasa tidak nyaman, sementara perilaku menjadi lebih pasif atau tertutup. Bahkan, menurut analisis biopsikologi, homesick dapat terjadi karena otak memandang lingkungan baru sebagai ancaman sehingga memicu hormon stres dan menurunkan hormon kenyamanan. (Sumber: Kumparan “Fenomena Homesick dalam Perspektif Biopsikologi: Derita Mahasiswa Rantau”)

Dampak homesick tidak bisa dianggap sepele. Pada tingkat yang berat, homesick dapat menurunkan fokus akademik, mengganggu proses adaptasi, dan bahkan memicu depresi serta kecemasan. Penelitian dari Universitas Sebelas Maret menunjukkan adanya hubungan antara homesick dan depresi pada mahasiswa semester awal. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar rindu biasa, tetapi kondisi psikologis yang dapat menghambat perkembangan akademik. Banyak mahasiswa mengaku kesulitan mengontrol emosi, kehilangan semangat belajar, dan merasa tidak termotivasi karena perasaan rindu yang menumpuk. (Sumber: UNS “Hubungan Homesick dengan Depresi pada Mahasiswa Semester I Prodi Kedokteran Universitas Sebelas Maret”)

Meski demikian, mahasiswa rantau biasanya menemukan cara untuk bertahan dan mengatasi homesick. Komunikasi dengan keluarga melalui telepon atau videocall menjadi salah satu strategi paling ampuh untuk meredakan rindu. Di sisi lain, keterlibatan dalam organisasi kampus, kegiatan komunitas, atau sekadar membangun rutinitas baru juga membantu menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan baru. Beberapa mahasiswa belajar menerima bahwa merantau adalah bagian dari proses pendewasaan, sementara pendekatan biopsikologi mendorong pentingnya pola hidup sehat, tidur cukup, serta aktivitas relaksasi untuk mengurangi stres. (Sumber: Jurnal Al-Shobar “Strategi Coping dalam Menghadapi Homesickness pada Mahasiswa Perantau di Jakarta”)

Pertanyaannya, apakah homesick bisa disebut sebagai “budaya wajib” mahasiswa rantau ataukah fenomena psikologis yang serius? Pada satu sisi, masyarakat sering menormalkan homesick sebagai bagian dari perjalanan menjadi dewasa. Namun di sisi lain, riset psikologi menunjukkan bahwa homesick adalah respons emosional nyata yang dapat berdampak serius jika dibiarkan tanpa penanganan. Dengan kata lain, homesick bisa dianggap sebagai budaya sosial di kalangan mahasiswa, tetapi tetap harus dipahami sebagai kondisi psikologis yang memerlukan perhatian.

Pada akhirnya, homesick adalah fenomena yang kompleks dan unik bagi setiap mahasiswa rantau. Ia berakar dari latar belakang hidup masing-masing, kemampuan adaptasi, dan kondisi emosional sebelum berangkat merantau. Meskipun berat, homesick juga menjadi titik awal proses pendewasaan dan transformasi diri. Dengan pemahaman yang tepat, lingkungan yang suportif, dan strategi adaptasi yang baik, mahasiswa rantau dapat melewati masa-masa sulit tersebut dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image