Obsesi terhadap Belajar: Membantu atau Membebani Mahasiswa?
Eduaksi | 2026-01-08 11:25:45
Obsesi belajar di kalangan mahasiswa pada dasarnya merupakan hal yang positif, karena menunjukkan adanya motivasi dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Mahasiswa yang memiliki semangat belajar tinggi biasanya lebih fokus pada tujuan akademik dan berusaha memaksimalkan potensi diri. Namun, jika obsesi belajar ini tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat dirasakan secara sosial, khususnya dalam interaksi mahasiswa di lingkungan kampus.
Mahasiswa yang terlalu terobsesi pada belajar sering kali menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tugas, membaca, atau mengejar nilai. Akibatnya, waktu untuk berinteraksi dengan teman, mengikuti kegiatan organisasi, atau sekadar bersosialisasi menjadi sangat terbatas. Kondisi ini dapat menimbulkan jarak sosial, membuat mahasiswa cenderung tertutup, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Padahal, kehidupan kampus tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan menghargai perbedaan.
Selain itu, kurangnya interaksi sosial dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Tekanan akademik yang tinggi tanpa dukungan sosial dapat memicu stres dan rasa kesepian. Interaksi dengan teman sebaya sebenarnya berperan penting sebagai sarana berbagi pengalaman, mengurangi beban pikiran, dan membangun rasa kebersamaan. Ketika obsesi belajar menghilangkan aspek ini, mahasiswa justru berisiko mengalami kelelahan mental meskipun secara akademik terlihat berprestasi.
Menurut saya, solusi dari permasalahan ini bukan dengan mengurangi semangat belajar, melainkan dengan menciptakan keseimbangan antara akademik dan kehidupan sosial. Mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan bersosialisasi, bekerja dalam tim, dan membangun relasi juga merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dengan mengatur waktu secara bijak, mahasiswa dapat tetap berprestasi tanpa harus mengorbankan interaksi sosial.
Kesimpulannya, obsesi belajar memang dapat membawa manfaat akademik, tetapi jika berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya membangun pola belajar yang sehat dan seimbang agar tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berkembang sebagai individu sosial yang matang dan siap menghadapi kehidupan bermasyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
