Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adiesta Yusnia Prasetyawati

Empati di Era Digital: Senyum yang Tak Tergantikan oleh Algoritma

Teknologi | 2025-11-27 23:44:08
Ilustrasi gambar: lansia masih kebingungan menghadapi sistem antrean digital. Sumber: Canva

Pagi itu, di ruang tunggu kecil sebuah pukesmas, seorang nenek berkali-kali menatap layar ponselnya. Notifikasi antrean online menampilkan berbagai ikon, semuanya terasa asing baginya. la mengusap layar dengan ragu, lalu menoleh ke petugas. "Bu... ini maksudnya saya sudah daftar atau belum?" Suaranya pelan, seperti takut salah langkah di dunia yang bukan dirancang untuknya.

Momen semacam itu semakin sering terjadi sejak layanan kesehatan beralih ke platform digital. Indonesia tengah berlari menuju modernisasi: SATUSEHAT menghubungkan ribuan fasilitas kesehatan, telemedicine menjangkau desa-desa jauh, dan layanan seperti Tanya Dokter Gigi by Pepsodent sudah menampung ratusan ribu konsultasi. Dari jauh, semuanya terlihat gemilang.

Namun, kemajuan ini membawa pertanyaan mendasar: apakah percepatan digital otomatis menghadirkan pelayanan yang lebih manusiawi?

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelompok rentan, terutama lansia sering kali berada di pinggiran transformasi digital. Studi di Puskesmas Gading (2025) menemukan bahwa banyak pasien kesulitan memahami antrean online bukan karena "gagap teknologi", tetapi karena sistem tidak memberikan pendampingan memadai. Teknologi berjalan cepat, sementara manusia bergerak dengan rime berbeda.

Paradoksnya, teknologi kesehatan hadir untuk mempermudah, tetapi justru bisa membuat sebagian orang merasa ditinggalkan.

Saya merasakan sendiri ketimpangan itu saat pandemi. Ketika pendaftaran daring menjadi satu-satunya jalan untuk bertemu dokter, saya sering membantu orang tua dan tetangga lansia memahami alur yang membingungkan: klik di sini untuk mendaftar, klik di sana untuk menjadwalkan ulang, dan pastikan notifikasi tidak terlewat. Hal-hal sederhana bagi kita bisa menjadi tantangan besar bagi mereka.

Dari pengalaman itu saya belajar: kecanggihan tidak otomatis melahirkan keadilan.

Bahkan, tanpa empati, teknologi bisa menciptakan jarak baru jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata.

Di dunia kedokteran gigi, tantangan ini semakin penting. Pasien tidak hanya datang untuk dirawat; mereka datang dengan rasa takut, malu, dan kebutuhan akan ketenangan.

Mereka mencari manusia, bukan antarmuka. Itulah sebabnya para peneliti di Annals of Family Medicine mengingatkan bahwa komunikasi digital mempercepat informasi, tetapi bisa mengaburkan sentuhan manusiawi. Sebuah peringatan halus bahwa teknologi tak boleh berdiri sendiri.

Namun, bukan berarti kita harus curiga pada setiap inovasi. Teledentistry terbukti memperluas akses edukasi, membantu diagnosis dini, dan menjangkau keluarga yang tinggal jauh dari layanan kesehatan. Tantangannya bukan pada teknologinya melainkan pada bagaimana kita menggunakannya.

Empati dalam era digital bukan slogan, tetapi keterampilan klinis. Dan ia hadir dalam tindakan-tindakan kecil:

• Menyusun aplikasi yang ramah bagi lansia

• Menyediakan opsi pendampingan digital di fasilitas kesehatan

• Memastikan informasi kesehatan diberikan dalam bahasa yang mudah

• Mengingatkan diri sendiri bahwa setiap pasien punya cerita yang tidak tertangkap oleh sistem.

Senyum sehat Indonesia lahir bukan hanya dari alat yang canggih, tetapi dari manusia yang penuh perhatian. Teknologi boleh menggantikan antrean panjang, tetapi bukan tatapan meyakinkan yang menghibur pasien cemas. Boleh menggantikan formulir kertas, tetapi tidak bisa menggantikan ketulusan.

Pada akhirnya, kemajuan bukan diukur dari seberapa cepat kita berlari, melainkan dari seberapa banyak yang bisa kita rangkul selama perjalanan.

Oleh: Adiesta Yusnia Prasetyawati, Mahasiswa S1 Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image