Generasi Manis dan Risiko Diabetes Melitus pada Anak Muda
Edukasi | 2025-11-25 16:20:04Di masa sekarang, anak muda tidak dapat lepas dari kebiasaan mengonsumsi gula dalam kesehariannya. Mulai dari minuman manis kemasan hingga cemilan yang kandungan gulanya tinggi menjadi tren saat ini. Dari fenomena tersebut, muncul istilah “Generasi Manis” yaitu generasi yang memiliki kecintaan besar terhadap makanan dan minuman manis. Batas ajuran konsumsi gula per hari adalah 10% dari total energi atau setara dengan gula 4 sendok makan atau 50 gram. Namun, pada kenyataannya banyak anak muda yang mengonsumsi gula lebih dari batas anjuran konsumsi gula per hari. Menurut Zubaidah, anak-anak muda cenderung mengonsumsi gula berlebih sebanyak 53,1%. Konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan masalah pada kesehatan, seperti obesitas, diabetes melitus, penyakit jantung, dan kanker.
Masalah kesehatan yang sering dialami adalah diabetes melitus. Diabetes melitus termasuk penyakit metabolik yang ditandai oleh meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh karena gangguan pada kerja hormon insulin, yang memiliki fungsi menjaga keseimbangan tubuh melalui pengendalian kadar gula. Diabetes melitus tidak hanya menyerang orang tua, tetapi juga anak muda yang pola makannya tidak terjaga. Setiap tahun, kasus diabetes di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data International Diabetes Foundation (IDF) pada tahun 2021, jumlah kasus diabetes Indonesia berada di angka 19,5 juta orang. Hal tersebut menandakan kurangnya kepedulian anak muda Indonesia terhadap kesehatan. Hal ini mengkhawatirkan, terlebih anak muda sebagai aset masa depan bangsa yang seharusnya dapat membangun bangsa.
Kebiasaan mengonsumsi gula pada anak muda dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor sosial, psikologis, dan lingkungan. Faktor sosial meliputi norma sosial, adanya dukungan sosial, dan pengaruh dari teman sebaya. Faktor psikologis meliputi dorongan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang nikmat, gangguan kecemasan, dan stress. Faktor lingkungan meliputi adanya promosi serta tren makanan dan minum manis. Selain itu, anak muda cenderung suka berkumpul dan menikmati makanan dan minuman manis, tetapi malas untuk melakukan aktivitas fisik. Kebiasaan duduk dalam waktu lama tanpa adanya aktivitas fisik yang cukup dapat memperburuk sensitivitas insulin sehingga kadar gula darah semakin sulit dikendalikan oleh tubuh.
Selain faktor internal tersebut, industri makanan dan minuman memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola konsumsi anak muda. Iklan yang terus menerus, inovasi rasa yang menarik, dan kemudahan akses dalam layanan pesan antar dapat membuat anak mudah lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula tinggi. Produk seperti kopi kekinian, berbagai kue manis yang menarik dianggap sebagai bagian gaya hidup modern. Padahal, makanan dan minuman tersebut tanpa disadari mengandung gula dua sampai tiga kali lipat dari batas yang dianjurkan. Kebiasaan ini membentuk pola konsumsi jangka panjang yang berbahaya bagi kesehatan metabolik. Rendahnya literasi anak muda terhadap gizi juga menjadi penyebab mereka tidak menyadari bahwa konsumsi gula telah melebihi batas aman setiap harinya.
Risiko terkena penyakit diabetes melitus dapat dicegah dengan melakukan beberapa tindakan. Pertama, mengadakan edukasi tentang konsumsi gula, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya mengonsumsi gula yang berlebihan. Edukasi ini dapat dilakukan di sekolah, kampus, media sosial, atau kampanye kesehatan yang menarik dan relavan dengan kehidupan anak muda. Kedua, dukungan dari lingkungan sangat dibutuhkan. Keluarga sebagai lingkungan terkecil berperan penting dalam menyediakan makanan dan minuman yang kandungan gulanya rendah. Kepedulian pemerintah juga sangat penting, seperti regulasi wajib untuk mencantumkan label gula, membatasi iklan produk yang mengandung gula tinggi, serta menyediakan informasi mengenai bahaya konsumsi makanan dan minuman yang kandungan gulanya tinggi. Ketiga, menerapkan pola makan sehat. Anak muda perlu untuk memperhatikan kandungan dan label gizi dari setiap makanan dan minuman serta mengurangi makanan dan minuman yang kandungan gulanya tinggi. Mengganti minuman manis dengan air putih, mengurangi cemilan manis, dan memakan makanan alami yang sehat. Keempat, melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit sehari. Dengan melakukan aktivitas fisik, otot akan menggunakan glukosa untuk mengisi kekurangan glukosa yang telah digunakan dalam beraktivitas. Kelima, minum air putih yang cukup. Minum air putih lebih sehat daripada minum minuman yang mengandung gula tinggi. Disarankan sehari setidaknya meminum 8 gelas air. Meminum air putih dapat membantu menjaga berat badan yang sehat.
Dengan melihat situasi saat ini, risiko terkena penyakit diabetes melitus pada anak muda sangat besar. Diabetes melitus bukan sekadar penyakit biasa, melainkan juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi lain, seperti kerusakan saraf gangguan ginjal, serta penyakit jantung. Oleh karena itu, anak muda diharapkan dapat lebih peduli terhadap diri sendiri dengan memahami tentang bahaya mengonsumsi gula berlebihan, menerapkan pola makan sehat dan rutin beraktivitas fisik setiap hari. Dengan begitu, anak muda tidak akan terkena diabetes melitus serta istilah “Generasi Manis” tidak lagi bermakna generasi yang terjebak gula, tetapi generasi yang dapat menyeimbangkan hidup sehat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
