Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Neoto Ardiansyah

Gen Z Kantoran: Pahlawan Anti Toxic Tapi Kadang Bikin Gregetan

Curhat | 2025-11-25 16:18:55

Bayangin lagi meeting serius, bos lagi presentasi. Tiba-tiba, anak magang yang baru dateng seminggu ngacungin tangan. "Maaf, Pak. Menurut saya, cara kita kerja selama ini kurang efisien." Sepi. Semua pada melotok. Itu cuma satu contoh kecil. Selamat datang di dunia kerja bareng Gen Z—generasi yang lahir antara 1997-2012. Mereka beda banget sama generasi sebelumnya. Kalau dulu kita diajarin "nrimo" dan "ikut aturan", mereka dateng bawa mentalitas: "Kalau ada yang nggak bener, ya harus dibenerin."

1. Dibilang Malas, Padahal Cuma Pengen Work-Life Balance

Kita pasti sering denger cerita: "Anak muda sekarang kerjanya cuma pas jam kantor aja. Jam lima tepat kabur, nggak mau lembur."

Tapi coba deh kita liat dari sisi mereka. Mereka tumbuh liat bokap-nyokap nya pulang malem, capek banget, hampir nggak ada waktu buat keluarga. Gen Z mikir: "Gue nggak mau kaya gitu."

Makanya mereka bawa-bawa istilah "quiet quitting". Bukan berarti mereka malas, tapi mereka ngasih batas yang jelas. "Gue dibayar buat kerja dari jam 9 sampai 5, ya gue kerjain yang terbaik di jam segitu. Tugas selesai, ya pulang."

Buat mereka, kerja itu bagian dari hidup, bukan seluruh hidup.

Sumber : https://depositphotos.com/id/photos/asian-meeting.html

2. Sok Tahu Atau Emang Pinter?

Generasi sebelumnya mungkin mikir: "Ah, anak baru, harusnya belajar dulu, jangan banyak komentar."

Tapi Gen Z itu dibesarin sama Google dan YouTube. Mau nggak tau apa-apa? Tinggal buka HP, 5 menit kemudian jadi agak tau. Akses informasi yang instan bikin mereka percaya diri—kadang kelewat percaya diri—buat kasih pendapat.

Memang bikin kesel? Iya. Tapi jujur, kadang kita butuh suara segar yang nggak terjebak sama "kebiasaan yang udah jalan 10 tahun."

3. "Gue Butuh Mental Health Day"

Dulu, mungkin kita sakit kepala tetap masuk kerja, pura-pura kuat. Gen Z? Mereka bakal bilang terus terang: "Gue butuh istirahat, mental gue lagi nggak baik."

Dan ini bukan alesan! Mereka beneran peduli sama kesehatan mental. Perusahaan yang nggak ngasih ruang buat ini langsung dicap "toxic". Gaji gede? Nggak menarik kalau harus trade-off dengan jiwa yang stres. Mereka pilih perusahaan yang nganggap karyawan sebagai manusia, bukan mesin.

Kesimpulan: Musuh Atau Sekutu?

Jadi, Gen Z ini merepotkan atau justru penyelamat?

Mungkin jawabannya: mereka adalah alarm yang membangunkan kita.

Mereka dateng bawa standar baru: kerja yang meaningful, atasan yang ngerti perasaan, dan lingkungan yang nggak bikin stres.

Iya, mereka kadang bikin gemes. Tapi jujur, banyak juga kebiasaan lama di dunia kerja yang emang udah ketinggalan zaman dan perlu diubah.

Mungkin kita perlu berhenti ngomel "Dasar Gen Z!" dan mulai dengerin apa yang mereka mau sampaikan. Siapa tau, justru merekalah kunci buat bikin dunia kerja yang lebih manusiawi—di mana kita bisa produktif tanpa harus ngerasa tertekan, dan bisa sukses tanpa harus ngorbankan kebahagiaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image