Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image thisme –elsa rahayuu

Krisis Identitas Remaja di Era Digital: Risiko Hilangnya Jati Diri

Gaya Hidup | 2025-11-22 21:57:23
Ilustrasi remaja FOMO pada tren media sosial (Sumber: Ilustrasi AI)

Di masa serba digitalisasi saat ini yang mengutamakan eksistensi. Para remaja Indonesia berada ditengah pusaran kritis identitas yang kian kompleks, karena mereka cenderung mengejar popularitas instan melalui tren dan views yang viral ketimbang membentuk jati diri yang menjanjikan. Budaya karbit dan FOMO (Fear of Missing Out) membuat banyak dari mereka larut dalam aliran arus. Mengikuti sesuatu hanya demi diakui orang lain dan ingin dianggap paling mengerti dalam perkembangan tren. Contohnya, perseteruan antara “wibu” dan fantatik “K-pop” yang mencerminkan bagaimana perkembangan tren kerap dijadikan penanda identitas. Bukan lagi preferensi masing-masing individu. Ini bukan sekedar selera, tetapi tentang bagaimana remaja makin sulit membedakan mana jati diri dan mana pencitraan.


Krisis identitas remaja di era digital merupakan konsekuensi dari bagaimana media sosial dan digitalisasi secara tidak langsung ikut serta dalam menuntut remaja untuk memamerkan citra publik yang sempurna. Karbit adalah perilaku di mana remaja berusaha untuk tampil berbeda dari dirinya yang asli. Seperti meniru budaya asing mulai dari gaya hidup, personalitas dan selera hanya untuk memperoleh validasi dari lingkungan sosial khususnya pertemanan. Sehingga, penyebab utama yang bisa dilirik yaitu FOMO, gejala ini menjadi poin tekanan bagi para remaja agar tidak ketinggalan tren dalam dunia fandom musik, seperti K-pop, gaming, dan lain sebagainya.Fenomena ini mulai merusak seiring perkembangan zaman. Kemajuan teknologi dan penetrasi media sosial yang luas melalui kemudahan dalam mengakses segala jenis informasi dan media secara mudah dan cepat. Namun, mengingat para remaja berada dalam usia rentan sehingga tidak semua konten itu positif bagi mereka. Bahkan preferensi konten seringkali mendorong pembentukan individu yang tidak kokoh, karena selalu goyah dengan segala hal yang berbau trending disekitarnya. Ketika tidak dapat memenuhi keinginan tersebut, maka memicu rasa stres dan kecemasan karena takut tidak diterima dilingkungan pertemanan. Para remaja ini cenderung merasa rendah diri dan emosi yang tidak stabil. Menyebabkan perasaan gengsi sehingga akan menurunkan keberanian dalam berinteraksi sosial secara langsung. Meskipun dapat berinteraksi secara virtual, rasa kesepian akan tetap menghantui. Karena hubungan sosial antara sesama manusia tidak akan tergantikan oleh kemajuan teknologi.

Ilustrasi pengaruh globalisasi terhadap lingkungan tumbuh kembang remaja (Sumber: Ilustrasi AI)

Dampak Psikologis: Apa akibatnya secara psikologis? Fenomena ini menunjukkan bahwa remaja terlalu fokus pada citra digital. Ketika tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut karena kendala ekonomi, seperti keterbatasan dana. Maka mereka rentan mengalami depresi, kecemasan sosial, dan penurunan harga diri. Remaja tersebut terjebak dalam dalam perputaran atau siklus membandingkan diri dengan standar sosial di media sosial yang tidak realistis dengan kondisi mereka saat ini. Menimbulkan perasaan terisolasi dan hanya memiliki banyak teman virtual dari pada teman di kehidupan nyata. Ketegangan antara kelompok fanatik “wibu” dan “K-popers” yang terjadi sejak lama. Namun, kini banyak remaja yang hanya “ikut-ikutan” saja. Mereka yang tidak benar-benar menyelami bidang tersebut. Remaja ini hanya ingin terlihat mengikuti tren di media sosial. Ketika di komunitas online, mereka hanya memunculkan konflik yang dapat memperparah kondisi ketegangan, meningkatkan kecemasan, dan mempertajam perasaan asing. Sedangkan, ketahanan mental dari remaja adalah kesadaran kritis dan dukungan sosial. Di sini secara implisit menjelaskan bahwa individu harus memilki jati dirinya sendiri, mengetahui apa yang menjadi keinginannya, dan memprioritaskan kebutuhannya. Sehingga, akan memiliki kesadaran positif dengan tidak mudah terombang-ambing oleh kejadian disekitar. Adanya, bimbingan dari orang tua yang harus mendampingi anaknya dalam bermedia sosial, melalui nasihat kehidupan sehari-hari yang harus diimplementasikan.

Solusi konkret dari perspektif pendidikan meliputi:

1.Integrasi pembelajaran, melalui mata pelajaran yang mendidik karakter anak bangsa dan literasi digital yang diarahkan pada hal positif, tentang keunikan budaya Indonesia yang tidak kalah keren dengan negara luar.

2.Menciptakan ruang dan wadah agar remaja dapat berekspresi dan menerima diri mereka tanpa merasa diadili, seperti bimbingan konseling terkait karir, minat serta bakat.

3.Melibatkan keluarga secara aktif dalam dialog terbuka yang mendukung proses penguatan identitas positif di rumah. Alogaritma media sosial juga berperan aktif dalam menyajikan konten yang bermanfaat, mendukung pembentukan karakter agar lebih sehat.

Krisis ini paling dirasakan remaja pada usia 13-18 tahun. Era digital memungkinkan tekanan semakin terasa intens karena eksposur terus menerus pada standar sosial yang tinggi dan budaya popular asing yang cepat berubah. Contoh saat ini adalah banyak remaja mengalami dilema antara memenuhi keinginan menjadi diri sendiri atau tuntutan komunitas online untuk bergabung dalam lingkupnya. Diantara penggemar fanatik “wibu” yang dianggap lebih otentik karena mengikuti tren popular budaya jepang yang dianggap lebih modern. Sementara, fandom fanatik “K-pop” mereka harus terus memproyeksikan citra sempurna, yaitu terlibat aktivitas fandom, mengikuti fansign, wajib membeli dan mengoleksi berbagai album terbaru, dapat mengikuti gaya berbicaranya dan lain-lain. Hal-hal ini tentunya mengharuskan individu memiliki dana yang tidak sedikit. Mereka seringkali melupakan prioritas hidupnya sendiri. Demi bisa diterima, mereka rela melakukan apa saja. Sehingga, dapat menyebabkan kelelahan secara emosional dan fisik karena haus validasi. Tekanan ini akan meningkatkan depresi dan overthinking.


Oleh karena itu, buah yang dapat dipetik dari fenomena ini adalah autentisitas atau fondasi kebahagiaan dan kesejahteraan remaja itu berbeda. Tidak dapat dipaksa untuk disamaratakan dengan derasnya gelombang efek digital dan tren global yang seharusnya menjadi alat untuk keberanian diri sendiri, memanfaatkan teknologi untuk segala kekurangan. Hal ini akan menjadi kunci stabilisasi identitas remaja. Bukan berdasarkan validasi dari kelompok, tetapi oleh kemampuan dalam mengenal diri dan mencari kebahagiaan masing-masing.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image